Prolog | Kutukan

24 4 4
                                        




Tubuh kecil itu terbaring lemah di atas brankar. Matanya terpejam erat seolah tak ingin terbuka barang sedetik saja. Beberapa orang duduk di sampingnya seakan menunggu keajaiban.

Park Ji-hwan, lelaki kecil berambut kuning itu tertidur lelap. Satu minggu adalah waktu yang lama bagi keluarganya, terlepas dari kecelakaan yang hampir menewaskan Ji-hwan.

Ji-hwan dinyatakan koma akibat benturan keras yang ia dapat, dan disinilah Ji-hwan berada, di ruang kosong yang ia tempati seminggu ini.

Dalam tidurnya, ruang kosong itu luas, bercahaya, dan tak ada celah. Berkali-kali teriak memanggil semua orang yang ia kenal, namun sayangnya ia benar benar sendirian.

Lama berjalan lurus dan mengharapkan setitik cahaya yang muncul sebagai jalan keluar, tetapi yang ia dapat adalah sesosok berjubah yang berjalan mendekatinya.

"Park Ji-hwan, kau sudah terlalu lama, sekarang aku datang untuk menjemputmu meninggalkan dunia yang fana," sosok itu berbicara dengan suara tegas.

"Tidak, aku tidak mau," tolak Ji-hwan.

"Apa alasan utama kau menolak?"

"Ini bukan saatnya, masih banyak yang harus ku lalui, masih ada janji-janji yang belum aku penuhi, semuanya terlalu banyak hingga nanti jika ditanya kapan aku siap pun aku tak akan pernah siap meninggalkan dunia fana ini," jelas Ji-hwan menatap lelah pada sosok itu.

Ji-hwan merasa penjelasannya lebih dari cukup dan jelas. Namun ternyata ia salah, sosok itu berlutut tiba-tiba, ruang sunyi itu bergemuruh dengan keras membuat Ji-hwan panik.

Gemuruh itu bersamaan dengan suara layar monitor yang menampilkan keadaan jantung Ji-hwan melemah, semua orang panik memanggil dokter. Dokter dan beberapa perawat kelabakan dan segera melakukan pengecekan organ tubuh Ji-hwan.

Sedangkan di alam bawah sadarnya, sesosok yang berlutut itu mengatakan sesuatu pada Ji-hwan.

"Kau telah menolak kematianmu, dan para dewa di atas sana murka karena kau menolak takdirmu, aku bisa saja langsung membawamu namun para dewa tidak setuju dan memberikan kutukan padamu."

"Jika kau menolak kematian, maka kami akan membuatmu tidak akan pernah merasakan kesempatan itu lagi."

"Terkutuklah kau Park Ji-hwan dalam keabadian, tak pernah kau rasakan kefanaan lagi kecuali satu hal. Mencintai seorang fana, maka saat hal itu terjadi hilanglah kutukanmu karena sesungguhnya keabadian akan kalah dengan rasa fana yang tulus."

Sosok itu hilang dibawa hembusan angin kencang, Ji-hwan yang tak mampu bertahan pun terbawa angin kencang tersebut.

Dan di luar kesadarannya, dokter dan perawat menyerah ketika suara monitor berhenti pada satu ketukan yang panjang, menandakan tak ada lagi detak yang berbunyi.

Seluruh orang disana menangis tersedu kehilangan satu sosok keluarga mereka.













Tubuh kaku Ji-hwan telah tertutup kain putih, keluarga berkumpul di sekeliling tubuh Ji-hwan. Jiwa Ji-hwan berdiri di samping mereka, merasa sedih karena melihat seluruh keluarga nya menangis meratapi kepergiannya, namun sesosok tadi muncul kembali di samping Ji-hwan.

"Apa lagi yang kau mau?" ucap Ji-hwan jengah.

"Kau tidak seharusnya mati Ji-hwan, kau akan kembali ke raga mu ini. Kau akan melewati sebuah pintu yang akan merubahmu sepenuhnya, inilah kutukanmu Ji-hwan," lalu sosok itu memunculkan sebuah pintu hitam, ia menuntun Ji-hwan memasuki pintu tersebut.

Seketika tubuh kaku Ji-hwan bergerak, dan tak lama Ji-hwan sadar dari tidurnya. Keluarga nya berteriak takut dan senang. Mereka segera menghampiri Ji-hwan, dan dokter yang semula ikut menghantar Ji-hwan pulang kerumah untuk dimakamkan segera memeriksa kondisi Ji-hwan.

"Ini keajaiban, ia tersadar kembali setelah henti jantung hampir satu jam. Kejadian seperti ini lumayan banyak di alami, ia mengalami yang namanya mati suri. Selamat, Park Ji-hwan tidak dinyatakan meninggal, ia masih hidup."

Setelah pernyataan dari dokter tersebut sorak gembira dari keluarga terdengar, dan Ji-hwan ikut tersenyum merasa bahagia, namun ia tak sadar bahwa ini adalah awal, awal dari kesendirian di hidupnya.
















Dua puluh tahun kemudian.

Keluarga Ji-hwan merasa terheran, karena setelah dua puluh tahun kejadian mati suri yang di alami Ji-hwan. Ji-hwan justru menjadi awet muda seperti dua puluh tahun lalu, tidak bertambah tua, bahkan rambutnya saja tidak bertambah panjang. Hal ini membuat keluarga Ji-hwan merasa heran dan takut pada Ji-hwan.

Hingga akhirnya, ketika orang tua Ji-hwan meninggal pun Ji-hwan tetap pada wajah yang sama seperti dua puluh tahun yang lalu. Ini menyebabkan semua orang menjadi takut dan waspada pada Ji-hwan, Ji-hwan yang terus menerus mendapat perlakuan buruk pun tak tahan dan memilih mengasingkan diri, jauh dari orang yang ia kenal.

Bahkan sejak hidup sendiri pun Ji-hwan masih bingung dengan dirinya sendiri, mengapa ia tidak berubah barang sedikit pun?

Dan ketika ia melamun di dekat jendela kamarnya, ia tersadar. Kutukan. Kutukan yang dikatakan sesosok yang ada dalam mimpinya itu. Ia berpikir, kutukannya adalah tidak pernah mengalami kesempatan kematian, apa ini berarti ia juga tak akan bertambah tua?

Ia berjengit kaget, ia tersadar sekarang, bahwa ratusan tahun nanti, ia akan tetap seperti ini, melewati reinkarnasi yang orang alami dengan tubuh yang sama, tak pernah berubah.

Hingga beratus-ratus tahun kemudian, ia selalu mendapat tugas dari para dewa yang mengutuknya untuk membantu manusia-manusia yang kesusahan dalam hidup mereka. Dan Ji-hwan tahu, bahwa ini adalah kesempatan yang dimana ia bisa bebas dari kutukannya, dengan menemukan satu manusia yang tulus mencintainya dan menerima kenyataan yang ia alami.

Dan di tahun ini, adalah awal ia bertemu dengan manusia tulus itu.












TBC

Gimana kesan dan pesan kalian?

Goblin    [JIROSE]Where stories live. Discover now