Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

prolog

22 3 0
                                        


🌕🌕🌕

Langit Kerajaan Montiyan tidak pernah semerah ini. Di atas altar batu hitam yang dingin, Lin Ziye berdiri tegak, meski getaran di jemarinya tak bisa disembunyikan. Remaja berusia 14 tahun itu menatap dua peti mati emas di hadapannya, tempat peristirahatan terakhir Raja Lin Lian dan Ratu Yin Dian. Kecelakaan di perbatasan telah merenggut segalanya, menyisakan takhta yang kosong dan tradisi kuno yang haus darah.

"Minumlah, Pangeran Sulung," bisik Menteri Agung Huai, suaranya parau seperti gesekan amplas. "Buktikan pada leluhur bahwa kau layak."

Ritual Sanguis Regalis. Di dalam cawan perak itu, bercampur darah ayah, ibu, paman, bibi, bahkan tetesan darah adik bungsunya yang masih berusia lima tahun, Lin Zain. Tradisi ini adalah hakim yang kejam. Jika mata sang pewaris berubah menjadi Biru, dia dianggap cacat, pembawa kutukan, dan harus disingkirkan. Jika berubah menjadi Merah, maka dia adalah sang penguasa sejati.

Ziye memejamkan mata, meneguk cairan kental yang amis itu dalam sekali tarikan napas.

Keheningan menyelimuti aula bawah tanah. Detik demi detik berlalu hingga Ziye membuka matanya. Pupil hitamnya perlahan memudar, digantikan oleh warna Merah Menyala yang berkilauan seperti permata delima di bawah cahaya obor.

Menteri Huai terkesiap. Namun, bukannya berlutut, matanya justru menyipit penuh kebencian.

"Biru..." gumam Huai dengan dusta yang lancar. "Matanya... Biru! Dia gagal! Dia adalah kutukan bagi Montiyan!"

"Tidak! Mataku merah! Aku melihatnya di pantulan cawan!" teriak Ziye, namun suaranya segera tenggelam oleh derap sepatu bot para penjaga yang merangsek maju.

****

***

Kerajaan Montiyan adalah mercusuar kekuatan di wilayah Timur, dikenal karena kavaleri naga tanahnya dan kekayaan mineral yang tak terbatas. Raja Lin Lian (40) adalah penguasa yang adil, didampingi Ratu Yin Dian yang bijaksana. Namun, di balik kemegahan itu, terdapat benalu bernama Menteri Huai.

Huai telah lama mengincar posisi Wali Raja. Dengan kematian mendadak pasangan raja dan ratu, serta Lin Zain yang masih balita, Ziye adalah satu-satunya penghalang. Ziye dikenal sebagai anak yang pendiam, namun memiliki kecerdasan taktis yang melampaui usianya.

Penyiksaan di Balik Dinding Dingin
Di ruang bawah tanah istana, Ziye tidak diperlakukan sebagai pangeran. Ia digantung dengan rantai besi.

PLAK!

Cambuk kulit yang telah direndam air garam menghantam punggung Ziye, merobek kemeja sutranya yang kini bersimbah darah. Menteri Huai melangkah maju, menginjak tangan Ziye yang lemas dengan sepatu bot berat Huai meludah ke wajah Ziye. "Di dunia ini, kebenaran adalah apa yang aku katakan. Kau akan mati sebagai kegagalan, sementara aku akan memerintah melalui adikmu yang bodoh itu."

Ziye hanya bisa meringis. Matanya yang merah menyala menatap tajam, membuat Huai merasa terintimidasi. "Kau... pengecut," bisik Ziye sebelum sebuah tendangan mendarat di perutnya, membuatnya tak sadarkan diri.

***

Malam itu, saat para penjaga mabuk merayakan "transisi kekuasaan," seorang pelayan tua bernama Paman Jo menyelinap ke ruang tahanan. Dengan tangan gemetar, ia membuka gembok sel.

"Pangeran, bangun. Anda harus pergi," bisik Jo. Ia menggendong tubuh Ziye yang hancur, membawanya melalui saluran pembuangan rahasia menuju hutan terlarang yang berbatasan dengan Kerajaan Arthropys.

"Hiduplah, Pangeran. Jangan pernah kembali sampai Anda cukup kuat," ucap Jo sebelum meninggalkan Ziye yang setengah sadar di bawah rimbunnya pohon-pohon raksasa.

Keesokan paginya, pengumuman mengguncang Montiyan, Putra Sulung telah tewas karena luka-luka akibat ritual yang gagal. Jasadnya hancur tak berbentuk dan telah dikremasi. Rakyat menangis, tak tahu bahwa sang pewaris sejati masih bernapas di tengah hutan liar.

Ziye terbangun oleh suara geraman. Seekor serigala hutan dengan mata kelaparan mengincarnya. Dengan insting bertahan hidup yang tersisa, Ziye menyeret tubuhnya yang kaku. Namun, tanah yang ia pijak longgar.

AAARRGH!

Ziye terjatuh ke dalam jurang sedalam sepuluh meter, Kepalanya menghantam batu tajam sebelum tubuhnya mendarat di tumpukan semak berduri. Gelap. Dunia Ziye menjadi kosong.

Beberapa jam kemudian, enam sosok mendekat. Mereka mengenakan jubah abu-abu dengan lambang sisik naga di bahu mereka—seragam Biro Penangkap Siluman dari Kerajaan Arthropys.

"Ketua, lihat ini! Ada anak manusia," teriak seorang wanita muda.

Yun Liang (24), sang ketua biro yang memiliki aura wibawa, mendekat. Di sampingnya berdiri Zhangzhou, sosok tinggi besar yang sebenarnya adalah siluman berusia 3000 tahun yang telah dijinakkan. Ada juga Yue Fei (22), mantan menteri pertahanan yang selalu tampak dingin, serta Zu Zian (1000 tahun), dewa siluman yang sedang asyik mengunyah sate kelinci, dan We Guan (200 tahun), siluman anjing putih yang sedang mengendus luka Ziye.

"Dia masih hidup, tapi kondisinya mengerikan," ujar Wu Xian (20), satu-satunya wanita lain di tim itu.

Ziye membuka matanya perlahan. Wajah-wajah asing menatapnya. "Siapa?.." bisiknya serak. Matanya tidak lagi merah, melainkan hitam kelam efek dari benturan hebat yang mengunci aliran sihir di tubuhnya. Kepribadiannya yang semula tenang dan waspada kini tampak bingung dan rapuh.

Ziye mengalami demam hebat keesokan harinya. Wu Xian dengan telaten mengompres dahinya. Karena kondisi Ziye yang kritis, tim memutuskan untuk membawanya kembali ke markas mereka di Arthropys.

"Ayo, bocah kecil, naik ke punggungku," ujar Zu Zian dengan nada kocak, meski ia adalah dewa siluman yang kuat. Mereka bergantian menggendong Ziye melintasi perbatasan.

Sesampainya di Biro, seorang tabib tua dipanggil. Saat memeriksa luka cambuk dan memar di tubuh Ziye, sang tabib menggelengkan kepala dengan ngeri.

"Demi dewa-dewa di langit,bagaimana mungkin anak sekecil ini masih hidup? Luka-lukanya menunjukkan dia disiksa dengan keji. Secara medis, dia harusnya sudah mati." ujar Tabib itu heran.

Yun Liang menatap Ziye yang terlelap. " Ada sesuatu di dalam darahnya yang menolak untuk mati."

Ziye terbangun di sebuah kamar kayu yang harum aroma herbal. Ia tidak lagi pendiam. Ia banyak bertanya, matanya penuh rasa ingin tahu yang polos, namun juga ketakutan. Amnesia telah menghapus memori tentang pengkhianatan Montiyan, namun luka di tubuhnya tetap menjadi saksi bisu.

"Namamu siapa?" tanya Wu Xian lembut.

Ziye menggeleng. "Aku tidak tahu."

Yue Fei, yang biasanya dingin, hanya menatap dari ambang pintu. "Untuk sementara, dia adalah tanggung jawab kita."

Di sudut ruangan, We Guan, sang siluman anjing, menggonggong pelan. Ia bisa mencium bau darah kerajaan yang sangat tipis pada Ziye bau yang seharusnya tidak dimiliki oleh anak yang ditemukan di hutan.

Lin ziyeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang