Bab 2: Frekuensi Yang Terkunci

4 1 0
                                        

Suasana perpustakaan pusat di lantai empat selalu menjadi tempat pelarian favorit Aruna. Di antara deretan rak buku sosiologi yang jarang dikunjungi, ia merasa bisa bernapas. Namun, perasaan aman itu hancur saat ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal, berisi foto dirinya yang sedang duduk di kursi perpustakaan saat ini juga.

​"Duduk tegak, Sayang. Tulang belakangmu akan sakit jika kau terus membungkuk seperti itu."

​Aruna tersentak, menoleh ke sekeliling dengan napas memburu. Jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging. Ia segera membereskan buku-bukunya, namun sebelum ia sempat berdiri, sebuah tangan kokoh menekan bahunya kembali ke kursi.

​"Mau ke mana terburu-buru seperti itu?"

​Itu Dewa. Ia tampil mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku, namun almamater biru tuanya tersampir elegan di bahu. Ia duduk di kursi sebelah Aruna seolah-olah pertemuan ini adalah sebuah kebetulan yang manis.

​"Kau menyadap ponselku, Kak?" suara Aruna bergetar, ia berusaha menahan tangis agar tidak menarik perhatian mahasiswa lain. "Foto itu... pesan itu... bagaimana bisa?"

​Dewa menarik ponsel Aruna dari meja dengan gerakan tenang, hampir seperti seorang ayah yang mengambil mainan dari anaknya. Ia menatap layar ponsel itu sejenak sebelum meletakkannya kembali.

​"Ponsel adalah perangkat yang tidak aman, Aruna. Aku hanya memastikan tidak ada perangkat lunak jahat yang masuk. Jika kau menyebut pengawasanku sebagai 'penyadapan', maka kau sangat tidak menghargai usahaku untuk menjagamu dari ancaman dunia digital," jawab Dewa dengan nada yang sangat tenang, seolah tindakannya adalah hal paling logis di dunia.

​"Ini gila!" desis Aruna. "Aku tidak punya privasi! Bahkan di kamarku sendiri, aku merasa kau sedang melihatku. Apa yang sebenarnya Kakak inginkan dariku? Aku bukan piala yang bisa Kakak pajang dan awasi setiap detik!"

​Dewa condong ke arah Aruna, memangkas jarak di antara mereka hingga Aruna bisa melihat pantulan ketakutannya di manik mata pria itu.

​"Aku menginginkan loyalitas yang mutlak, Aruna. Apakah itu terlalu banyak untuk diminta? Aku memberikanmu segalanya. Siapa yang membayar biaya praktikummu yang tertunggak bulan lalu tanpa identitas? Siapa yang memastikan asisten dosen yang mencoba melecehkanmu di laboratorium itu langsung dipecat secara tidak hormat hari berikutnya? Itu aku. Semuanya aku."

​Aruna ternganga. "Jadi... Kakak yang membayar tagihan itu? Dan Pak Satria... Kakak yang menghancurkan kariernya?"

​"Aku tidak menghancurkannya, Aruna. Dia menghancurkan dirinya sendiri saat dia berani menyentuh apa yang menjadi milikku," Dewa membelai pipi Aruna dengan punggung jarinya, sebuah gerakan yang lembut namun terasa seperti ancaman. "Dunia ini adalah rimba, dan kau adalah rusa yang terlalu cantik. Aku adalah singa yang memastikan tidak ada hyena yang mendekat. Bukankah itu romantis?"

​"Itu mengerikan, Dewa! Kau sakit!" Aruna bangkit berdiri, namun Dewa dengan cepat mencengkeram pergelangan tangannya. Tidak cukup keras untuk memar, tapi cukup kuat untuk memberi tahu bahwa Aruna tidak punya pilihan untuk pergi.

​"Duduk kembali, Aruna. Kita belum selesai bicara," perintah Dewa. Suaranya kini dingin, tak ada lagi nada manis. "Aku tahu kau berencana menemui kawan lamamu, Reno, di kafe seberang kampus sore ini. Batalkan. Atau aku harus memastikan Reno mengalami 'kecelakaan' kecil dalam perjalanannya ke sana?"

​Air mata Aruna akhirnya jatuh. Ia merasa seperti pion dalam papan catur yang dikendalikan oleh tangan-tangan dingin Dewa. "Kenapa kau melakukan ini padaku?"

​Dewa tersenyum tipis, sebuah senyuman yang memancarkan obsesi yang mendalam. Ia mengusap air mata di pipi Aruna dengan jempolnya.

​"Karena kau adalah satu-satunya hal yang nyata dalam hidupku yang penuh kepalsuan ini, Aruna. Di balik almamater ini, aku adalah pria yang kesepian, dan kau adalah cahayanya. Dan kau tahu apa yang terjadi jika cahaya mencoba menjauh? Kegelapan akan menelannya. Jadi, tetaplah di sini. Di sampingku. Di bawah pengawasanku."

​Dewa melepaskan cengkeramannya dan berdiri, merapikan almamaternya dengan santai. "Aku akan menunggumu di parkiran pukul lima. Jangan terlambat, atau aku akan naik ke atas dan menjemputmu dengan cara yang tidak akan kau sukai."

________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

ఌ︎. To Be Continued ᰔᩚ

Gimana part ini? 👀 Mau update lagi kapan?

Huaaa akhirnya UPP ini cerita, abisnya gatel nih tangan pengen publish😻

Terima kasih sudah membaca dan mendukung aku, semoga kalian suka ceritanya! Ditunggu kelanjutan di next bab selanjutnya yaa😽

________________________________________

Obsesi Dibalik AlmamaterTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang