We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

PROLOG

19 1 0
                                        

Rumah Sakit Medika Brawijaya — lantai 5, Nurse Station Ruang Rawat Inap Penyakit Dalam.

02.17 Dini Hari

Kinara seharusnya ada di rumah, memeluk bantal setelah 36 jam jaga di instalasi gawat darurat. Namun, pukul 02.17 dini hari, Kinara justru di Lantai 5, ruang rawat inap penyakit dalam, di meja nurse station yang sunyi, mengutak - atik rekam medis seorang pasien dengan diagnosis yang membingungkan.

Ruangan itu sunyi, hanya di terangi oleh lampu meja kecil di meja nurse station. Aroma antiseptik dan kopi dingin adalah udara yang Mereka hirup.

“Kenapa pasien Nyonya Ambar tiba-tiba mengalami tachycardia mendadak? kamu sudah periksa ulang kadar elektrolitnya, Azka?”

Suara itu. Dingin, datar, dan selalu menuntut kesempurnaan. Azka Pranata. Dia selalu menjadi bayangan yang mengganggu dalam setiap rotasi Co-ass-kinara. Calon dokter bedah masa depan yang terlalu ambisius dan terlalu logis.

Saya, Kinara Adyaksa, mendongak dari grafik pasien. “Sudah, tiga puluh menit yang lalu. Semua stabil. Kinara menduga ini mungkin respons psikologis. Pasien ini baru menerima kabar buruk tentang cucunya sore tadi.”

Azka memutar mata. Sebuah ekspresi yang sudah ku hafal di semester 7 pertemanan--sekaligus rivalitas--kami. “Respons psikologis? Kita di sini bukan konselor, Kinara. Kita mencari penyebab organik. Jangan mencampur adukkan emosi pribadi dengan diagnosis klinis.”

“Emosi bukan pribadi, Azka. Itu bagian dari fisiologi tubuh, bagian dari penyakit.” Kinara menunjuk ke grafik yang sedang ia bawa.

“Kamu bisa melihat Stress Hormone memicu peningkatan denyut jantungnya, bukan?”

Azka menatap Kinara tajam. Di bawah cahaya lampu yang redup, wajahnya terlihat lelah, tapi matanya setajam pisau bedah. Ada jeda panjang di  antara mereka berdua, yang diisi oleh suara napas alat bantu di lorong koridor lantai 5. Itu adalah keheningan yang tegang, yang selalu mengiringi interaksi mereka berdua. Azka dan Kinara adalah dua kutub yang dipaksa bekerja sama: Logika vs. Empati. Protokol vs Perasaan.

Azka mendesah, menurunkan grafik itu. “Baiklah. Perintah kan perawat untuk memberi nya dosis low-dose anxiolytic, dan kita akan memotirkannya lagi dalam satu jam.”

Ia berbalik, siap meninggalkan meja nurse station

“Azka,” panggil Kinara pelan.

Dia berhenti setengah berbalik

“Kita masih punya satu jam lagi untuk shif pagi datang. Mau kopi? Kinara menyodorkan cangkir kopi dingin yang Kinara bawa dari kantin.

Azka menoleh sepenuhnya, menatap kopi itu, lalu menatap mataku. Untuk pertama kalinya malam ini, sorot matanya melunak, atau mungkin hanya kelelahan yang sama yang mereka berdua rasakan.

“Terima kasih, Kinara. Aku akan mengambilnya.”

Malam itu, di antara bau obat dan tekanan waktu, di hadapan pasien yang sakit, kami berbagi kopi dingin. Sebuah anatomi yang sangat rapuh. Mereka berdua tidak menyadari momen itu adalah sayatan pertama yang membuka babak baru, bukan dalam buku pelajaran mereka berdua, tetapi di dalam hati mereka berdua.























































Wait for the next part...


The Anatomy of Us Stories to obsess over. Discover now