4 Bulan setelah pemakaman Gilang,
Udara dingin dan lembap khas perbatasan Bogor-Tangerang menusuk kulit, bercampur dengan bau debu kapur dari tambang Rumpin yang tersembunyi di kejauhan. Di sebuah jalan setapak yang nyaris tidak terlihat, jauh dari lampu jalan, sebuah mobil off-road hitam terparkir tanpa lampu.
Empat siluet gelap bergerak menuju bangunan pabrik kimia yang terbengkalai. Pagar kawat berkaratnya sudah lama jebol. Di lantai dua, satu jendela menyala redup-satu-satunya titik hidup di bangunan mati itu.
Alpha memimpin di depan, balaclava hitam membungkus kepalanya rapat. Di sampingnya, Beta menatap layar tablet; bintik-bintik oranye bergerak lambat di dalam denah digital gedung.
"Tiga di pintu, dua patroli di belakang. Gerakan mereka kacau, kemungkinan pemakai. Target di lantai dua," bisik Beta.
Alpha mengangguk sekali. Ketiga siluet di depannya berhenti serempak, napas tertahan, menunggu
"Kita nggak punya banyak waktu. Masuk lewat atap. Beta, amankan lantai dua. Delta dan Gamma, kalian bersihkan lantai satu. Ingat aturannya: Nggak ada tembakan. Kita adalah hantu."
"Siap, " jawab dua siluet lainnya, Delta bergerak sinkron dengan Alpha-hasil latihan keras berbulan-bulan-sementara Gamma bergerak dengan ritme berbeda-lebih tenang, hampir santai.
Beta memimpin dengan keahliannya. Dalam hitungan detik, mereka sudah berada di atas atap seng yang rapuh. Beta melonggarkan beberapa baut di ventilasi atap yang sudah berkarat. Alpha turun pertama, meluncur dengan tali webbing ke dalam kegelapan lantai satu.
Puluhan keranjang berisi pil ekstasi berwarna-warni memenuhi ruangan. Mesin cetak terus bekerja, tak peduli waktu. Terlalu rapi. Terlalu siap. Tempat ini bukan gudang kosong.
Tiba-tiba, salah satu penjaga yang sedang duduk lengah mendongak, mendengar suara sepatu bot Alpha yang mendarat sedikit terlalu keras.
"Siapa di sana?!" teriak penjaga itu, mencoba meraih pistol di sarungnya.
Brak!
Alpha sudah berada di belakangnya bahkan sebelum penjaga itu berdiri penuh. Pukulan keras dan terarah mendarat di pelipis penjaga itu. Sebelum penjaga itu sempat menjerit, Alpha sudah memutar tangannya ke belakang dan mematahkan lehernya dengan bunyi krak yang mematikan. Alpha menyingkirkannya ke dalam bayangan.
Delta dan Gamma, yang turun tak lama kemudian, langsung menyergap dua penjaga lain di lorong penyimpanan bahan kimia. Satu hantaman siku meremukkan tulang hidung, disusul tarikan cepat yang membenturkan tempurung kepala ke dinding beton. Dua puluh detik. Lorong kembali sunyi. Dua tubuh tergeletak, tak bergerak.
Di lantai dua, Beta berhasil masuk ke ruangan lab utama. Ia menetralkan teknisi kimia, lalu bergerak cepat menuju server data mini.
Alpha mencapai tengah ruangan, Ia menatap tumpukan pil itu. Warnanya terlalu cerah untuk ruangan sekotor ini. Merah. Biru. Kuning. Alpha berhenti sepersekian detik lebih lama dari yang ia rencanakan. Rahangnya mengeras, lalu kembali rileks.
"Target data sudah diambil," lapor Beta dari atas.
"Bersihkan. Tanam peledak," perintah Alpha.
Mereka memasang bahan peledak timer di titik-titik vital: di tumpukan pil, di mesin cetak, dan di tangki bahan kimia. Beta memastikan data sudah aman-manifest, rute, nama-lalu memberi isyarat. Mereka mundur.
Saat mereka melintasi pagar kawat menuju mobil off-road mereka, ledakan teredam terdengar, diikuti oleh kobaran api yang langsung melahap gudang pabrik kimia itu. Alpha menatap api itu sejenak.
Api menjilat dinding seng yang runtuh, memuntahkan bau kimia terbakar yang menusuk dan lengket di tenggorokan. Panasnya tidak sampai ke tempat ia berdiri, tapi cukup dekat untuk mengingatkan bahwa semuanya sudah terlambat bagi siapa pun yang masih ada di dalam.
YOU ARE READING
DUA SISI [END]
Mystery / ThrillerCrime Psychology Thriller Di dunia di mana garis antara benar dan salah hanyalah ilusi, beberapa orang terpaksa berjalan di tepi bayangan. Gilang, Rizal, Chacha, dan sekutu mereka berjuang melawan organisasi gelap yang memiliki kekuatan jauh melampa...
![DUA SISI [END]](https://img.wattpad.com/cover/405024377-64-k355111.jpg)