"Awalnya, setiap permulaan terasa seperti akhir yang lain. Tapi, pada akhirnya, setiap akhir adalah permulaan yang baru."
~Maryanne Radmacher~
•••••
Saat pertama kali tersadar, yang dirasakannya adalah kehangatan dan gesekan antara kain seprai yang lembut membungkus tubuhnya.
Selama beberapa saat, ia terbuai dalam kenyamanan tempat tidur, seolah memeluk kenangan samar yang terasa familiar dan aman. Namun, perasaan itu segera tercabut paksa oleh rasa sakit yang menghantam sekujur tubuhnya saat ia mencoba mengubah posisi.
Refleks, matanya mencoba terbuka. Tetapi cahaya putih terang yang menusuk segera menyilaukan indra penglihatannya. Ia menutupnya kembali secepat mungkin, sementara tangannya secara autopilot terangkat untuk mengusap kelopak mata.
Kemudian, ia juga menyadari ada sesuatu yang menusuk lembut kulit tangannya. Perlahan, ia membuka matanya lagi. Pandangannya disambut oleh langit-langit putih bersih yang terasa asing dan impersonal.
Tatapannya turun ke tangan yang terasa aneh tadi. Sebuah jarum infus dingin terpasang di pembuluh nadi, dihubungkan ke kantung cairan bening yang menggantung tak jauh dari tempat tidurnya. Ia mengernyitkan dahi, mencoba memahami situasi ini. Jemarinya perlahan menyentuh wajah, namun pergerakannya terhalang oleh sesuatu yang keras dan plastik menutupi hidung dan mulutnya.
Masker oksigen? Pikirannya bekerja keras mengolah informasi, tetapi ingatannya sangat-sangat kabur. Yang diingatnya hanyalah... tunggu, kenapa dia tidak ingat apa yang terjadi?
Dengan kesadaran penuh, ia segera memposisikan dirinya duduk—atau lebih tepatnya, mencoba. Ia segera menyesalinya karena sekujur tubuhnya berdenyut sakit, seolah habis dilindas.
Tanpa sadar meringis dan menahan napas, ia berhasil setengah duduk, punggung bersandar pada bantal, sambil melepas masker oksigen itu dengan gerakan kasar dan frustrasi.
Ia memaksakan napasnya agar teratur, menghirup udara kering ruangan, lalu mulai mengamati sekeliling. Masker oksigen tergeletak di samping, diabaikan begitu saja.
Masker oksigen, infus, ruangan putih, bau disinfektan... Agh! Apa lagi!
Ia memperhatikan monitor jantung di sudut ruangan, menyuarakan bunyi 'bip bip bip' yang monoton dan menakutkan.
Monitor jantung? Bau obat-obatan yang membuat perutnya mual... Rumah sakit?
"Rumah... sakit, ya?" gumamnya nyaris tak terdengar, suaranya serak dan asing di telinganya sendiri.
Ia menelan ludah, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berkejaran. Pikiran tentang bagaimana ia bisa sampai di sini terus menghantui, tetapi yang lebih mengganggu adalah pertanyaan lain yang mendadak muncul di kepalanya.
Siapa aku?
Lamunannya terhenti ketika suara pintu berderit pelan. Pandangannya beralih ke arah dua sosok yang masuk. Seorang wanita paruh baya dengan rambut hitam yang diikat kuncir kuda, mengenakan jas putih khas dokter, berjalan di depan.
Di sampingnya, seorang wanita lebih muda dengan rambut pirang sebahu dan kacamata merah muda berbalut seragam perawat.
Mereka sedang berbicara pelan, tetapi suara mereka cukup samar untuk membuatnya merasa semakin terasing. Saat pandangan mereka bertemu, langkah keduanya terhenti. Si perawat tampak terkejut sejenak sebelum tersenyum ramah.
"Ah, kau sudah bangun," ujar wanita berjubah putih itu. Suaranya lembut dan menenangkan, seperti balsem dingin di tengah kekacauan. "Aku Dokter Yazuki. Senang sekali melihatmu bangun.
Bagaimana rasanya sekarang? Apakah ada bagian yang sangat nyeri?"
Nada lembutnya meredakan sedikit ketegangan yang dirasakan remaja itu. Jika bukan karena suara menenangkan wanita itu, remaja itu mungkin tidak akan menjawab, apalagi karena bahasa yang digunakan wanita itu terdengar asing, terdengar seperti gemerisik daun. Jadi, dengan keberanian yang ia kumpulkan, remaja itu menjawab dengan hati-hati.
"Maaf... saya... tidak mengerti," jawab
remaja itu dalam bahasa Melayu yang fasih.
Ruangan mendadak hening. Pandangan si dokter dan perawat bertemu, sebelum Dokter Yazuki tersenyum kecil, senyum pengertian.
"Oh, tidak apa-apa, Nak. Kebetulan aku bisa memahami bahasamu. Kau ingin bicara sesuatu?" balas sang dokter dengan bahasa yang sama, suaranya kini terdengar familiar dan hangat.
Remaja itu terkejut. Rasa lega yang besar membanjirinya. Ia tidak menyangka wanita itu akan memahami bahasanya. Ia terdiam sejenak sebelum berbicara.
"Kalau begitu, aku baik-baik saja, dokter. Hanya terasa pegal dan sedikit pusing," jawabnya, nadanya kini lebih rileks.
Percakapan singkat pun terjadi, dimulai dari pertanyaan sederhana seperti rasa sakit yang dirasakan hingga kualitas tidurnya. Ketegangan yang tadi terasa berat mulai mencair perlahan seiring percakapan berlangsung, digantikan oleh kehangatan yang samar.
••••
Saat Dokter Yazuki menanyakan pertanyaan terakhir, ia meninjau jawaban remaja itu dengan saksama, pandangannya tajam namun lembut, lalu menghela napas pelan, sebuah isyarat yang penuh kekhawatiran.
Melihat reaksi sang dokter, remaja itu penasaran. Firasat buruk menyelimutinya. Ia bertanya dengan nada hati-hati.
"Ada apa, Dokter? Apakah ada hal buruk yang terjadi padaku?" tanya remaja itu dengan cemas.
"Nak," Dokter Yazuki menjeda, memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Aku hanya perlu memastikan satu hal lagi... Mengingat cedera di kepalamu. Apa kau masih ingat namamu?"
Remaja itu tertegun. Matanya membelalak kecil, seolah-olah pertanyaan itu adalah tamparan dingin. "Nama?" gumamnya pelan.
Kata 'nama' berulang-ulang bergema liar dalam pikirannya, tetapi hanya menyisakan kekosongan yang hampa dan dingin.
Tiba-tiba ia tersentak dan refleks memegang kepalanya yang dibalut perban. Rasa nyeri menusuk tajam membuatnya meringis dan melontarkan teriakan kecil yang tertahan.
Melihat reaksi itu, sang dokter segera maju, mencoba mencegahnya memaksakan ingatan lebih jauh.
"Nak, jangan dipaksa! Lepaskan tanganmu dulu, perlahan... Nah, begitu," ujar dokter itu sambil dengan lembut menurunkan tangannya dari kepala remaja itu, tatapannya penuh simpati.
Keheningan itu tak berlangsung lama. Remaja itu menatap tangannya yang kini terlepas dari perban. Lalu, dengan suara yang lemah dan penuh keputusasaan, ia akhirnya berbicara.
"Sepertinya... aku tidak ingat namaku, Dokter. Bahkan... tidak ada apa-apa," ucap remaja itu. "Kepalaku... kosong."
Bersambung ....
Di publikasikan pada 09/12/2025
Catatan Penulis;
Hai Yazuki di sini. Ini bukan pembaruan tapi merevisi cerita saja. Hanya perbaikan sedikit di sana sini. Semua bab sudah ku un-publish. Jadi ... apakah ada pertanyaan?
YOU ARE READING
Pahlawan Tanpa Kenangan
FanfictionSeorang remaja terbangun tanpa ingatan di dunia penuh Quirk. Kini di panggil dengan nama lain, ia hanyalah seorang Mukosei, tanpa mengetahui bahwa dirinya dulu adalah Pahlawan Elemental di masa lalu. Di tengah amnesia dan rasa kehilangan diri, ia me...
