We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

bab 1. keraguan kecil yang mulai hilang

9 2 0
                                        


"happy reading "

.
.
.
.
.
.
.

(⁠.⁠ ⁠❛⁠ ⁠ᴗ⁠ ⁠❛⁠.⁠)
.

Ardham hanya bisa menunduk ketika kedua orang tuanya memutuskan segalanya malam itu.

Amarah, kecewa, dan rasa takut bercampur jadi satu dalam suara ayahnya yang bergetar, sementara ibunya hanya diam sambil menyeka air mata yang tak pernah berhenti jatuh.

Keesokan paginya, koper kecil berisi pakaian dan beberapa buku sudah disiapkan. Tanpa banyak kata, Ardham mengikuti ayahnya menuju mobil. Sepanjang perjalanan, ia hanya menatap keluar jendela, melihat rumah-rumah dan pepohonan berlalu seperti memori yang menjauh.

Sesampainya di gerbang pesantren, suasananya terasa asing baginya.

Anak-anak bersarung berjalan tergesa menuju masjid, suara lantunan ayat Al-Qur’an terdengar dari kejauhan, dan udara pagi terasa lebih dingin dari biasanya.

“Mulai hari ini, kamu tinggal di sini,” ujar ayahnya pelan namun tegas.
Ardham menelan ludah, ada sesuatu yang terasa mengendap di dadanya. Campuran penyesalan dan takut akan hari-hari yang menunggunya.

Namun saat seorang ustadz mendekat dan menyapanya dengan senyum hangat, Ardham merasa sedikit lega—seolah ada harapan kecil bahwa mungkin, di tempat asing ini, ia bisa menemukan dirinya kembali.

Ia menarik napas panjang, menatap gerbang pesantren sekali lagi, lalu melangkah masuk.

.
.
.
.
.
.
.

(⁠ ⁠ꈍ⁠ᴗ⁠ꈍ⁠)

.
.
.
.
.
.
.

Ardham melangkah masuk ke pesantren itu dengan langkah ragu, sementara Ustadz muda yang mendampinginya—Alham Arshaka, putra dari sang kiyai—berjalan di sampingnya dengan tenang. Suara sandal mereka bergesekan di lantai teras kayu, bercampur dengan riuh rendah aktivitas para santri di pagi hari.

Dalam perjalanan menuju ruang administrasi, Alham sempat menanyakan beberapa hal sederhana.

“Namamu lengkap siapa?”
“Ardham… Ardham Syalilah,” jawabnya, suaranya terdengar sedikit bergetar.

“Kelas terakhir sebelum masuk sini?”
“S… sepuluh, Ustadz.”

“Punya hafalan surat apa saja?”
“Hanya beberapa yang pendek… itu pun masih terbata.”

Alham tersenyum kecil, tidak mengejek, tidak juga menghakimi. “Tidak apa-apa. Kita semua mulai dari nol pada masanya, Dhams.”

Kata panggilan itu—Dhams—membuat Ardham sedikit kaget. Ada rasa akrab dan hangat yang belum pernah ia dapat dari orang dewasa belakangan ini.

Setelah semua berkas dan penjelasan diberikan, Alham mengantar Ardham menuju asrama. Lorongnya panjang dan dipenuhi lemari kayu sederhana. Suara tawa para santri dari dalam kamar terdengar jelas.

Begitu pintu asrama dibuka, sekelompok anak seusianya langsung menoleh.

“Assalamualaikum!” seru mereka hampir bersamaan.

Suasana langsung terasa berbeda—lebih hidup, lebih ramai, namun ramah. Salah satu dari mereka, berperawakan kurus dan berkacamata, mendekat sambil tersenyum lebar.

“Kamu anak baru, ya? Namaku Farel!”
“Gue Reza, kamar sebelah! Kalau butuh apa-apa tinggal panggil!”

Ardham terdiam sejenak, tidak menyangka sambutan seperti itu. Ia menoleh ke Alham yang hanya membalas dengan anggukan penuh arti—seakan berkata bahwa ia akan baik-baik saja.

"Apakah ini Yang Terbaik Untuk Ku?"Stories to obsess over. Discover now