01. Arumi, Si Dokter Muda dan Rumahnya.

21 2 1
                                        

Arumi sudah menjalani hidupnya dengan rapi: karier, keluarga, masa depan.
Tidak ada ruang untuk menengok ke belakang-sampai seseorang dari tujuh tahun lalu kembali tanpa permisi.

-

"Aku tidak menunggunya.
Tapi entah kenapa, hatiku selalu tahu kapan harus berdebar."
-Arumi Cahaya Rinjani.

***

¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.

***

Jam berdentang lemah, gesekan mata pena dengan kertas. Tak ada lagi aktivitas di ruangan putih dengan rak di ujung ruangan itu. Hanya ada wanita manis dengan kacamata yang menghiasi wajah eloknya.

Dia terduduk di kursi kerja kebanggaannya, mejanya penuh. Entah berkas apa yang tengah ia kerjakan di sana.

Membolak-balikkan kertas, kesana kemari menata berkas, dan kembali duduk dengan tenang ia lakukan berulang. Hingga diinterupsi oleh ketukan pintu dari luar.

"Iya, masuk", ucapnya. Pelan, tegas.

Pintu terbuka, seorang wanita dengan jas putih dan stetoskop di lehernya, rambutnya terurai panjang jatuh ke bahu cantik kala ia berjalan mendekati Arumi yang masih mengerjakan berkasnya.

"Sibuk banget?" Tanya wanita itu sembari duduk di hadapan Arumi.

Arumi melirik, meletakkan pena-nya.

"Engga, cuma lebih banyak dari biasanya", ucap Arumi sembari memijat pelipis. Ah, banyak sekali yang perlu ia selesaikan.

Wanita itu terkekeh, "habis ini ada poli saraf?" Tanyanya sembari memijat pundak rekannya yang tampak berat.

Arumi mengangguk. "Iya, habis makan siang."

Perempuan itu mengangguk paham. Ia berdiri dan berjalan menuju pintu keluar. Ia berhenti kala memegang gagang pintu.

"Arumi, jangan kecapean, ya? Rehat aja dulu, lima menit." Ucapnya sebelum benar benar menutup pintu.

Arumi terkekeh, "dasar, Nata..."

Tapi Arumi mendengarkan, kok. Ia meletakkan penanya, melepas kacamatanya, ia letakkan dengan hati hati. Memutar kursinya, pemandangan kota siang ini cukup terik.

Dari atas, Arumi dapat melihat para pengendara di jalan raya, lalu para pejalan kaki, penjual kaki lima, itu mengingatkan Arumi pada seseorang.

Di tengah ramainya hiruk-pikuk kota, dari banyaknya insan di sekitarnya, seseorang jauh di tujuh tahun yang lalu itulah yang terlintas dipikirannya.

Bayangan itu membuat Arumi berpikir... 'dimana, ya, dia...?', 'seven years... already...?'

Arumi tersadar dari lamunannya-sialan, dia mengingat yang seharusnya sudah ia lupakan.

Almost Us - Donde viven las historias. Descúbrelo ahora