“Dua Langit yang Belum Saling Melihat”
________
Pulau Banggai, Juli 2025
Pagi di Banggai selalu dimulai dengan suara burung laut dan aroma asin yang dibawa angin.
Brian Marfudin berjalan keluar dari rumah kayu bercat biru muda milik keluarganya. Rambutnya sedikit berantakan, kulitnya kecokelatan karena hari-hari panjang di atas kapal. Usianya baru 24 tahun, tapi caranya melangkah sudah seperti lelaki yang ditempa ombak.
“Brian, ngoni mo pigi mana?”
Suara Marfudin, ayahnya, terdengar berat.
“Mo pigi dermaga sebentar, Yah.” jawab Brian sambil memutar badan.
Ia memakai bahasa Banggai setiap di rumah. Kadang bercampur dengan logat Jakarta yang masih menempel setelah bertahun-tahun sekolah di STIP.
Brian adalah tipe yang mudah menyatu dengan lingkungan. Di kampus ia pakai bahasa gue-lo, bercanda sok cool dengan perempuan dan teman-temannya. Tapi di rumah, ia jadi anak laki-laki yang lembut, pakai aku-kamu saat bicara dengan ibunya, Rumiah, sebagai bentuk hormat.
hari ini ia hanya ingin melihat laut. Bukan karena tugas. Bukan karena panggilan kerja.
Lebih karena… rindu.
Rindu pada gelombang yang membuatnya merasa hidup.
Riyan, adik laki-lakinya, memanggil dari dalam rumah.
“Bang, nanti sore kita antar Gifa les, iya?”
Brian tertawa kecil.
“Iyo… Iyo. Santai, ko.”
Di Banggai, hidup berjalan sederhana tapi hangat.
Tapi di balik senyumnya, Brian punya keresahan: apa hidupnya hanya akan berputar di laut? Apa ia akan terus jadi pelaut yang berpindah-pindah kota tanpa tahu kapan berhenti?
Itu pikiran yang muncul diam-diam setiap pagi.
____
Di salah satu kota di Riau, di rumah yang selalu dipenuhi aroma teh manis dan suara burung pagi, seorang gadis berumur 16 tahun sedang sibuk di mejanya yang penuh stiker bunga-bunga.
Nara Malvizea, anak bungsu, pemalu tapi kalau sudah nyaman bisa bikin satu rumah ketawa. Sifat absurdnya sering muncul tiba-tiba, dan hanya orang terdekat yang pernah melihat sisi itu.
Pagi itu, udara Riau yang lembap membuat rambutnya sedikit mengembang. Ia mengetik pesan untuk sahabatnya, Amira.
“Mir, kalo aku bikin skincare namanya Haizel bagus tak?”
“Bagus, Ra. Tapi kamu bisa fokus nggak? Besok ulangan ekonomi.”
Nara mencibir.
“Ekonomi nggak pernah fokus sama aku, Mir.”
Dari dapur, terdengar suara ibunya, Aisya.
“Naraaa, ayo sarapan dulu. Jangan kelamaan di kamar!”
“Iyaa, Umi!”
Ayahnya, Andrianto, sudah siap berangkat kerja. Nara turun sambil menyeret sandal rumahnya, pipinya masih bantalable.
Di meja makan, kakaknya, Reipan, yang berusia 24 tahun, sedang scroll pesan dari tunangannya, Tifani.
“Dek, nanti sore Tifani datang. Jangan malu-maluin Kakak.”
Nara memonyongkan bibir.
“Aku selalu anggun dan elegan. Hargai dong.”
Reipan mendengus.
“Elegan awak tu kalau tidur doang.”
Nara menjitak lengan kakaknya pelan sambil cengengesan.
Nara sadar dirinya bukan paling pintar di sekolah—tapi juga bukan yang paling bodoh. Ia ada di tengah-tengah. Tapi ada satu hal yang jelas sekali di kepalanya:
Ia ingin membuat brand skincare sendiri bernama Haizel.
Di kamarnya ada buku kecil penuh coretan:
nama produk, warna kemasan, bahkan cita-cita punya toko kecil di Riau.
Kadang Nara membayangkan:
“Kalau aku udah besar… aku pengen orang nanya:
‘Kamu pakai skincare apa?’
Terus mereka jawab: Haizel.’”
Keinginan itu membuatnya semangat walau ia sering malas belajar.
Nara bukan tipe gadis yang suka dekat dengan laki-laki.
Dia baperan, mudah merajuk, dan kalau ada cowok bicara baik-baik saja ia bisa langsung salah tingkah.
Tapi bersama sahabat-sahabatnya—Amira dan Rahmi—ia seperti orang lain:
lucu, absurd, dan selalu berhasil bikin suasana rame.
---
Apakah mimpinya akan terwujudkan, entah itu takdir atau doa doanya yang menjadi garis hidupnya.
__
Assalamualaikum semuanya, ini adalah cerita yang dengan semangat baru untuk menerbitkannya, saya sudah memikirkan sebelum menerbitkan cerita ini, saya pastikan kalian suka dengan cerita ini.
Thanks you.
YOU ARE READING
Antara doa dan takdir
Teen FictionPada bulan Juli 2025 itu... Brian sedang sibuk memperbaiki perlengkapan kapalnya, bercanda dengan teman-temannya, membantu Ibu, dan merencanakan perjalanan laut berikutnya. Nara sedang sibuk sekolah, nongkrong dengan teman, belajar skincare, dan men...
