ONE

13 4 0
                                        

Hutan itu sejuk, anginnya berhembus, dedaunan saling bergesekan menimbulkan suara lirih. Seorang pemuda bernama Ferry melangkah di jalan setapak tanah yang dipenuhi akar-akar pohon. Tubuhnya kecil, pendek untuk ukuran laki-laki. Hanya 157 cm. Sekilas, orang bisa saja mengira dia masih remaja belasan tahun. Padahal usianya sudah 20 tahun.

Di balik tubuh mungil itu, Ferry menyimpan kekuatan yang jarang dimiliki manusia lain, cahaya. Sebuah anugerah sekaligus beban yang membuatnya tidak pernah benar-benar diterima di desanya. Dan sekarang, dia sedang menuju satu-satunya tempat yang mungkin bisa menerima dirinya, Academy Elements, sekolah khusus bagi anak-anak yang memiliki kekuatan ajaib dan tidak dimiliki orang biasa.

Ransel lusuh menggantung di punggungnya. Bekalnya sederhana saja, roti kering, botol air kayu, dan selembar jubah cadangan yang sudah sobek di beberapa bagian. Ferry tidak terlalu peduli dengan kenyamanan. Yang penting, dia bisa sampai ke tujuannya.

Langkahnya berhenti ketika semak-semak di depannya bergetar keras. Ferry langsung menaruh tangan di kalung kristal putih keemasan yang menggantung di dadanya. Kristal itu adalah pengendali kekuatannya yang diwariskan oleh leluhurnya. Tanpa benda itu, cahaya yang ada dalam dirinya bisa meledak tanpa terkendali.

Seekor serigala hitam muncul dari dalam semak, ukurannya besar, matanya merah menyala, liurnya menetes. Napasnya berbau darah. Ferry mundur setengah langkah, tubuhnya tegang.

“Kalau bisa, jangan cari masalah denganku,” ucap Ferry sambil aba-aba.

Serigala itu melangkah maju. Tanah tergores cakarnya. Siap menyerang. Ferry menarik napas, lalu mengangkat tangan. Kristal di dadanya berkilau, dan cahaya putih keemasan memancar dari telapak tangannya. Hutan yang semula redup mendadak terang benderang.

Serigala itu meraung, silau tak mampu menahan pandangannya. Ferry menghentakkan tangannya ke tanah, cahaya meledak seperti tombak yang menghantam di depan kaki serigala.

Bruak! Tanah bergetar, debu berhamburan.

Makhluk itu menjerit, lalu mundur ketakutan sebelum akhirnya lari terbirit-birit kembali ke hutan.

Ferry terengah-engah, duduk bersandar di akar pohon besar. Meski hanya mengeluarkan sedikit tenaga, tubuhnya langsung terasa lelah. “Baru di awal jalan saja sudah seperti ini,” gumamnya sambil membuka botol kayu dan meneguk air.

Sore mulai turun. Langit berwarna oranye. Ferry mendengar suara air mengalir, lalu menemukan sungai jernih. Ia memutuskan bermalam di sana. Api unggun kecil dinyalakan, roti kering dikeluarkan dalam tas. Ferry duduk sambil makan dan menatap api.

Di balik cahaya api itu, kenangan masa lalu muncul. Ibunya, yang selalu menenangkannya setiap kali orang desa menatap sinis. “Kamu itu bukan kutukan, Ferry. Kamu hanya berbeda.”

Sementara ayahnya… justru mengusirnya setelah peristiwa ladang terbakar oleh cahaya tak terkendali. Kata-kata ayahnya masih menusuk sampai sekarang, “Pergi! Jangan bawa celaka di desa ini!”

Ferry menarik napas dalam-dalam. “Ibu… aku akan buktikan. Cahaya ini bukan beban. Aku akan menjadi seseorang yang berguna.”

Malam ini, ia tertidur dengan kepala bersandar di ransel. Dalam mimpinya, ia melihat cahaya besar pecah di langit. Sosok berjubah putih terang muncul, berdiri di tengah kegelapan. Suara berat menggema, “Ferry… kekuatanmu akan menentukan masa depan. Tapi hati-hatilah… banyak yang menginginkan kekuatan itu.”

Seketika Ferry terperanjat bangun dengan keringat dingin membasahi wajahnya, menatap api unggun yang hampir padam. “Pertanda apa ini…?” bisiknya.

Pagi tiba, ia melanjutkan perjalanan. Medan berganti, dari hutan ke tebing berbatu. Berat memang, tapi dari atas tebing itu Ferry bisa melihat sesuatu yang membuat hatinya bergetar.

Cahaya Terakhir: Academy ElementsDonde viven las historias. Descúbrelo ahora