{1}
Di bawah rimbun cahaya yang menelusup dari sela dedaunan, mereka berdiri seolah waktu sengaja melambat demi memberi ruang bagi dua hati yang saling mengenal tanpa perlu kata. Ada keheningan yang justru mengisi, ada kedekatan yang tak pernah mere...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Raina selalu percaya bahwa dunia berbicara lewat bisikan-bisikan kecil: gemerisik dedaunan, aroma hujan pertama, sinar lembut yang menari di permukaan tanah. Ia tumbuh bersama segala keheningan yang hidup, dan mungkin itu sebabnya ia mendengar langkah Arven sebelum ia melihatnya—langkah yang datang seperti angin hangat menyentuh kulit, tidak terburu, tidak menuntut. Hanya hadir. Hanya ada.
Arven bukan lelaki yang mencuri perhatian dengan suara. Ia adalah keteduhan yang mengisi ruang tanpa menjelaskan dirinya. Jika Raina adalah hujan yang jatuh ringan, maka Arven adalah pohon yang menadahnya; kuat tanpa mengeraskan, lembut tanpa melemah. Ketika mereka berdiri di bawah cahaya yang menelusup dari sela daun, dunia terasa seperti membuka lipatannya, mempertemukan dua halaman yang sejak lama menunggu untuk bertemu.
Tidak ada petir, tidak ada gemuruh—cinta mereka datang seperti musim yang tepat waktu. Seperti dedaunan yang saling bersentuhan saat angin pelan lewat, seperti dua warna senja yang tidak pernah bertanya bagaimana mereka bisa menyatu. Raina tersenyum dengan mata yang memantulkan cahaya; Arven membalas dengan diam yang lebih hangat dari apa pun yang pernah ia ucapkan.
Dan pada saat itu, bahkan burung-burung di dahan pun seolah mengerti: beberapa pertemuan tidak perlu dijelaskan. Mereka hanya perlu dirasakan—halus, ringan, dan begitu indah hingga dunia sendiri tampak ikut menahan napas.
Arven tersenyum, hangat dan sederhana. “Selamat pagi juga, Nona Metaforis,” balasnya, seolah kata-katanya sendiri membawa aroma pagi yang lebih lembut dari biasanya.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Sapaan dari Penenun Lembaran
Selamat datang, pengembara di antara halaman.
Terima kasih telah melangkah hingga ke halaman ini—tempat kata-kata mencoba tumbuh seperti daun pertama setelah hujan. Di sini, kisah tidak berjalan tergesa. Ia bernapas pelan, menyapa Anda dengan keteduhan yang mungkin pernah Anda rindukan tanpa sadar.
Semoga saat Anda membuka tiap lembar, Anda menemukan sesuatu yang membuat hati Anda berhenti sejenak: mungkin seberkas cahaya, mungkin bayangan yang menenangkan, atau mungkin hanya bisikan kecil bahwa cinta—dalam segala bentuknya—selalu punya cara untuk bernaung.
Selamat memasuki cerita.
Berjalanlah perlahan; biarkan kisah ini menyentuh Anda dengan caranya sendiri.