"Aku di paksa redup agar si tokoh utama bersinar terang. Seakan dunia hanya miliknya saja."
__________________________________________________________________________________________
.
⋘ ENJOY MAY STORY⋙
.
Di tengah hujan deras, seorang anak tengah duduk sendiri di bangku taman kosong. Angin menerpa kencang menyapu dedaunan yang gugur basah terguyur air hujan. Mata anak itu terikat kain yang diikat simpul di bagian belakang kepalanya.
Dia - Karang Desgara. Anak yang dipaksa buta hanya karena memiliki mata yang sedikit istimewa, dianggap kutukan serta aib dari keluarga.
Anak yang bahkan tak diinginkan oleh dunia. Ia dipaksa terbiasa menggunakan kain hitam di matanya, hanya untuk menutupi keistimewaannya.
Ia terbiasa berjalan dengan kain di matanya dan tongkat di tangan kanannya. Ia tidak buta, ia bisa melihat, hanya saja ia dipaksa untuk buta. Di saat seorang ibu bersyukur bisa mempunyai anak sempurna, ibunya tidak. Bukan! Bukan karena ibunya tak mau menjadikannya sempurna, namun matanya yang mempunyai warna berbeda dianggap kutukan keluarga.
Warna mata hazel di sebelah kanan dan warna biru laut di sebelah kiri. Ia berbeda. Dan ia dipaksa buta karena perbedaan itu. Dia tidak pernah meminta dilahirkan, tetapi ia juga tidak pernah menyalahkan Tuhan atas kehadirannya di dunia ini.
Hujan berhenti diiringi dengan suara tawa yang terdengar di depan sana. Suara anak-anak yang tengah bermain genangan air yang tersisa dari hujan, harum dari bau tanah basah tercium jelas di indera penciumannya. Yaman. Satu kata yang cocok untuk saat ini, hanya untuk saat ini saja.
Suara derap langkah terdengar di telinga Karang. Ia mencoba tenang sembari menikmati udara segar yang tercipta setelah turun hujan.
"Ada orang buta di sini!" ujar seorang anak laki-laki yang menggunakan pakaian berwarna hijau tua itu.
"Hahaha... Dasar anak pembawa sial!" ujar anak lainnya.
"Iya tuh, dasar buta!"
"Ihh, buta!"
"Katanya ia disebut sial karena punya mata iblis!"
"Serem banget."
Suara-suara itu terdengar jelas di telinga, membuat Karang yang mendengarnya tanpa sadar mengeluarkan air mata yang bahkan sudah diserap oleh kain hitam yang mengikat kencang matanya.
Seorang anak laki-laki mengambil sebuah ranting kecil lalu diarahkan ke arah Karang.
"Eh, anak sial, pergi kamu dari sini!" ucapnya sembari menonjolkan kayu itu ke kepala Karang. Kayu yang tak terlalu kecil namun cukup besar itu berhasil membuat luka di pelipis Karang. Darah segar mengalir di pelipisnya bahkan kini telah mengenai kain penutup matanya.
Di sana terlihat seorang wanita yang menatap rumit ke arah anak-anak yang tengah mengurung satu anak di tengah-tengah mereka. Anak itu terbaring tanpa mau membela dirinya. Ia membiarkan anak-anak itu melemparinya dengan batu-batu kerikil.
Ada rasa marah di hati wanita itu, tapi kenapa ia harus membela dia? Ia anak pembawa sial bukan? Ia pantas untuk itu bukan? Ia telah lahir ke dunia dengan kesalahan, lalu ia juga tak dianggap pembawa bencana serta kutukan untuk keluarganya. Padahal ia tahu itu bukan kutukan tapi keistimewaan dari Karang.
Wanita itu melangkah maju meninggalkan karang yang di bully oleh anak-anak di sekitarnya.
***
Karang Desgara. Seorang anak berumur 15 tahun yang dipaksa buta oleh neneknya, oleh ibunya, dan oleh keluarga besarnya. Seorang anak yang bahkan tak membenci dunia karena rasa kecewa yang berkecamuk di dalam dirinya.
Dia tidak membenci keluarganya, tidak pula membenci takdir hidupnya. Dia hanya kecewa. Dia hanya terluka dan dia takut melupakan wajah yang dia anggap indah..., bundanya.
Kini Karang tengah duduk di teras rumah, sembari menenangkan diri sebelum masuk ke dalam. Suara gelak tawa serta percikan air dari selang terdengar jelas di telinganya. Seorang anak seusianya dan seorang wanita paruh baya yang tak terlalu tua tengah menyiram bunga dan bermain bersama seorang anak laki-laki yang mirip dengannya.
Arthur Arganta. Kembaran dari Karang. Dia sempurna, tidak seperti Karang. Ia dimanja, tidak seperti Karang. Dia selalu disayang, tidak seperti Karang.
Karang memegang kain hitam di matanya.
"Aku hanya takut melupakan wajah bunda..." lirihnya.
Sudah sejak lama ia tidak melihat bundanya, sudah sejak lama ia tidak melihat keindahan dunia. Karang tak mengerti apa kesalahannya, apa ia salah jika dilahirkan di dunia? Jika bisa memilih, ia juga tidak mau lahir ke dunia.
Tap... Tap... Tap...
Derap langkah terdengar mendekat ke arah Karang, Karang tahu siapa dia. Dia - Soraya, neneknya.
Soraya mengencangkan ikatan kain di belakang kepala Karang.
"Jangan mencoba untuk membuka ikatan kain ini, atau keluargaku akan menerima bencana karena dirimu!" peringatan Soraya kepada Karang.
Karang diam, dia tidak ingin bicara. Soraya yang melihat Karang yang hanya diam mengeram marah lalu pergi masuk ke dalam rumah.
"Aku hanya ingin dianggap..." Karang tidak kuat, dia lemah, dia ingin dipeluk dan bersandar di bahu seseorang. Tapi dunia terlalu jahat kepadanya.
Apa dia salah jika ia ingin bahagia? Dia ingin egois untuk mendapatkan keluarga, apa boleh?
***
Anak laki-laki itu mendudukkan diri di kasur. Mengusapnya sekilas sambil merasakan kelembutan yang sesungguhnya tidak seberapa sebab kasurnya yang sudah tipis, kasur keras murah yang sering ia tiduri.
Di rogohnya saku kiri celana yang ia kenakan. Meletakkan sebuah surat yang mungkin bisa menjadi surat wasiat bagi keluarga- ah sudah lama kata itu tidak terucap. Terserah untuk siapapun surat itu, semoga mereka mengerti penderitanya.
Oh iya surat itu ia tulis langsung saat malam hari di kamar nya. tenang saja kain di matanya ia buka.
Setelah memastikan surat itu sudah terletak dengan pas di atas Nakas, karang mulai mengambil posisi di atas kasur. Memejamkan mata sejenak merasakan kerasnya kasur.
Dengan gerakan perlahan ia kembali mengambil sebuah barang dalam sakunya. Botol obat yang tadi pagi ia beli.
Membuka tutup nya dan mengarahkannya ke mulut, membiarkan beberpa pil masuk dengan jumlah yang cukup bayak. Pahit. Rasanya pahit tapi ia abaikan.
Karang melepaskan penutup matanya, memejamkannya sejenak sebelum menatap langit kamar saat merasakan kesadaran yang mulai menghilang.
"Tuhan... Jika ada kehidupan kedua di dunia ini. Tolong berikan aku bahagia... Tidak. setidaknya berikan keluarga yang menerima ku apa adanya..."
Napasnya panjang berhembus seakan-akan beban berat yang selama ini ia pikul menghilang bersama hembusan itu.
Rip Karang🥀🥺
Tbc
Cuk aing ga pernah bikin cerita transmigrasi.
Jadi maklumin aja ya guys! 😘
Komen di sini😋
Tandai typo ya sayang-sayang kuu
YOU ARE READING
skizofrenia ✔
Teen Fiction[TRANSMIGRASI ] Deskripsi singkat.↶ Karang Desgara. Anak yang dipaksa buta hanya karena memiliki mata yang sedikit istimewa, dianggap kutukan serta aib dari keluarga. Anak yang bahkan tak diinginkan oleh dunia. Ia dipaksa terbiasa menggunakan ka...
