Prolog : Bunga Tanjung

65 15 1
                                        

"Hidup itu pilihan, tergantung ke arah mana kita melangkah, dan disanalah akhir akan menunggu kita"

***

"Dengarkan aku, Rey. Pada kenyataannya bukankah semua manusia itu sama? Termasuk juga aku, yang sempat menjadikan 'mereka' sebagai emotional support terbaik dalam hidup"

"Gampangnya gini deh, semua manusia punya kebutuhan dan keinginan yang sama untuk 'dihargai dan juga didukung', benar kan? Tapi, apakah mereka semua sudah melakukan hal itu untuk manusia di sekitarnya?"

"Maka dari itu, aku pengen kamu tahu Rey, jika kamu merasa ketidakadilan membuatmu terluka. Coba untuk melihat kembali dalam dirimu, dan tanyakan 'Sudahkah kamu mendengar, memahami, dan juga menghargai orang lain?'"

Itu adalah ucapan dari Dipta, sahabatku, yang hingga kini belum bisa aku lupakan. Sebuah pesan terakhir darinya untukku dua tahun silam, tak lama sebelum perpisahan pahit, yang merupakan akhir dari serangkaian kenakalan kami berdua. Aku masih ingat  kami berdua duduk di bawah pohon tanjung. Dahannya kuat dan kokoh, serta daunnya yang rindang melindungi kami dari sengatan terik mentari sepanjang siang. Dipta tahu benar ini adalah tempat favoritku untuk merenung, memikirkan segala hal —Benar dan salah, baik dan buruk dalam kehidupan.

Aku mengambil sepucuk bunga berwarna putih yang berserakan di atas hamparan rumput, tepat di samping tempat ku duduk. Aku menoleh memberikannya pada Dipta, pemuda itu dengan senang hati menerimanya sembari tersenyum nanar. Dipta menggenggam bunga itu. Tak ada percapakan apapun setelahnya, kami sama-sama diam menatap lurus ke depan. Sebuah hamparan danau yang indah dengan air berkilauan, di bawah sinar mentari. Tanpa sadar setitik air mata mengalir dari pelupuk mata ku, sebuah air mata yang perpisahan yang akan selalu aku ingat, sebelum kehidupan kami yang berubah sepenuhnya dimulai.

Kini, aku mulai tersadar bahwa keindahan itu, seperti bunga putih di tangan Dipta, telah layu dan terkunci mati. Kini, yang tersisa hanyalah dinding beton yang dingin "tempatku berada sekarang"

***

Sekian untuk prolog ini, maaf kalau kesannya aneh🥺

Kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan dari kalian, dan maaf semisal banyak typonya

Oh iya aku mau kasih tau visualisasi dari book ini versi aku, kalau kalian mau bayangin orang lain juga boleh banget yaa😉

Oh iya aku mau kasih tau visualisasi dari book ini versi aku, kalau kalian mau bayangin orang lain juga boleh banget yaa😉

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Jaka Pradipta

Reyna Farzani

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Reyna Farzani

Apakah cerita ini layak untuk diteruskan atau sebaiknya di unpublish aja?
annyeong 👋🏻

730 Hari
29 November 2025

730 Hari || CortisStories to obsess over. Discover now