Alinea Princy yang awalnya main ke rumah Milly karena kesepian, mulai lebih tertarik mengganggu Elshad. Buat dia, ada yang menarik dari kakak sahabatnya. Tapi bukan untuk ditaksir. Bukan juga untuk dibuat jatuh cinta.
Cuma... dia penasaran.
Penasara...
Hujan gerimis turun ketika Alinea Princy atau Neya, begitu dia lebih suka dipanggil, pertama kali memasuki gerbang rumah keluarga Putra. Bukan rumah megah seperti yang ditinggalinya di kawasan elite Dago. Ini rumah sederhana dua lantai dengan pagar putih yang catnya sedikit mengelupas, pot-pot bunga gantung di teras, dan yang paling mengejutkan wangi cinnamon roll yang menyeruak sampai ke halaman depan.
"Beneran wangi roti," gumam Neya, hampir tidak percaya.
Milly, sahabat barunya yang sudah menarik tangannya sejak turun dari mobil, tertawa. "Kan udah gue bilang! Bunda lagi eksperimen resep baru. Lo harus coba, Ney. Enaaak banget, serius."
Neya mengikuti langkah Milly memasuki rumah. Begitu pintu terbuka, sesuatu di dadanya terasa longgar. Ruang tamu yang tidak terlalu besar itu penuh dengan kehidupan: foto-foto keluarga berjajar di dinding, tanaman hias di sudut ruangan, sofa empuk berwarna krem dengan bantal-bantal bertema bunga, dan ada rak kayu dengan majalah serta buku-buku yang tertata rapi.
Hangat.
Kata itu langsung muncul di benak Neya. Rumah ini hangat. Bukan karena pemanas ruangan atau desain interior. Tapi karena... terasa seperti ada yang tinggal di sini. Benar-benar tinggal. Hidup. Bernapas.
"Anak anak Bunda udah pulang!"
Seorang wanita cantik keluar dari arah dapur dengan celemek bermotif bunga. Rambutnya digulung rapi, wajahnya tanpa makeup, dan senyumnya begitu tulus sampai Neya merasa seperti sudah sangat dekat.
"Bunda!" Milly langsung mencium tangan dan memeluk ibunya. "Ini Neya yang aku ceritain."
Bunda Risa melepas pelukan dari putrinya dan langsung membuka tangan lebar ke arah Neya. Tanpa pertanyaan. Tanpa formalitas. Tanpa jarak yang biasa Neya rasakan saat bertemu orang dewasa.
"Neya, ayo sini. Bunda peluk dulu."
Neya terdiam sesaat. Matanya memanas. Kapan terakhir kali seseorang memeluknya? Tanpa alasan. Tanpa perlu. Hanya karena... ya, begitu saja.
Pelukan itu terasa sangat hangat. Lembut. Berbau vanilla dan cinnamon. Neya menggigit bibir bawahnya, menahan air mata yang hampir tumpah.
"Bunda baru bikin cinnamon roll. Mumpung masih hangat ayo kita makan bersama." ucap Bunda sambil melepas pelukan, tangannya masih di pundak Neya, seolah tidak ingin gadis itu pergi terlalu jauh.
"Neya Duduk dulu, ya. Jangan sungkan." Kata Bunda sambil tersenyum. "Milly sayang tolong bantu Bunda sebentar."
"Siap!" Milly langsung melesat ke dapur mengikuti Bundanya.
Neya baru akan duduk ketika langkah kaki terdengar dari tangga. Pelan. Ritmis.
Neya menoleh.
Dan untuk sesaat, dunia terasa lebih lambat.
Seseorang laki-laki turun dengan santai. Kaos putih, Celana training. Kacamata minus. Rambut sedikit berantakan seperti habis bangun tidur.... atau mungkin memang begitu modelnya. Tinggi, mungkin sekitar 178 cm.
Kakinya terus menuruni tangga tanpa menengok ke arah ruang tamu. Wajahnya datar, fokus pada layar ponselnya. Rahangnya tegas. Hidungnya mancung. Alisnya tebal, sedikit menukik. Tipe wajah yang bukan ganteng ala aktor Korea, bukan juga cowok cowok Jaksel yang sering Neya temui tapi... menarik. Dalam artian yang bikin orang penasaran: ish apa sih yang dia pikirin?
"Kak Echa!"
Milly keluar dari dapur dengan nampan berisi cinnamon roll dan jus jeruk. "Ini Neya, sahabat aku yang dari Jakarta."
Laki-laki itu, Elshad Aksara Putra akhirnya mengangkat kepalanya. Matanya bertemu mata Neya selama dua detik. Cukup buat Neya tidak hanya dilihat, tapi juga di scan. Tajam. Meneliti.
Neya refleks tersenyum lebar, tangannya sudah setengah terangkat untuk melambaikan tangan, tapi....
"Oh. Hallo"
Suara datar. Tanpa nada. Tanpa senyum. Lebih dulu keluar dari mulut Elshad. Lalu mengangguk sekali, dan langsung berjalan ke dapur. Mengambil segelas air putih. Lalu berbalik, naik tangga lagi, masuk ke kamarnya.
Pintu tertutup.
Neya masih berdiri di tempatnya, "Dirumah sehangat ini ada manusia sedingin itu?" ucap Neya pelan tapi masih bisa Milly dengar.
Milly tertawa geli sambil meletakkan nampan di meja. "Emang gitu orangnya, tapi baik kok. Don't take it personally. Kak Echa emang... introvert. Kayak, super introvert."
Neya duduk di sofa sambil masih menatap tangga tempat Elshad menghilang. "Introvert? Atau emang jutek?"
"Bukan jutek," jawab Milly cepat. "Kak Echa emang hidupnya serius dan lurus banget, fokusnya luar biasa. Kayak, otaknya selalu di mode kerja gitu. Gue udah biasa sih. Tapi kalo Lo kenal lebih lama, bakal tau kok sebenarnya baik dan gak sekaku tadi." ujar Milly.
Neya mengambil sepotong cinnamon roll, menggigitnya pelan. Manis. Lembut. Sempurna.
Tapi pikirannya bukan di roti itu.
Pikirannya masih di laki-laki dari lantai dua, yang bahkan tidak bertanya namanya. Neya melirik lagi tangga tempat Elshad menghilang.
Ada yang menarik. Tapi bukan untuk ditaksir. Bukan juga untuk dibuat jatuh cinta.
Cuma... dia penasaran.
Penasaran kenapa seseorang bisa sedingin itu di rumah yang hangat.
_____
Alinea Princy "Neya" (17th)
Ops! Esta imagem não segue nossas diretrizes de conteúdo. Para continuar a publicação, tente removê-la ou carregar outra.
Milly Nawala Putra "Milly" (17th)
Ops! Esta imagem não segue nossas diretrizes de conteúdo. Para continuar a publicação, tente removê-la ou carregar outra.
Elshad Aksara Putra "Echa" (20th)
Ops! Esta imagem não segue nossas diretrizes de conteúdo. Para continuar a publicação, tente removê-la ou carregar outra.