Happy reading
______________________________________
Brak! Suara lemparan benda terdengar keras disertai oleh suara tamparan yang menggema di kamar sebelah, matanya memerah menahan isak tangis, tangannya pun gemetar, suara amarah sang ayah memekakkan telinganya.
Sehingga anak kecil itu menutup telinganya dan matanya dengan rapat, tidak ingin mendengar atau melihat apa yang terjadi di kamar ayah dan ibunya. Ia hanya mengingat pesan ibunya yang berkata, "jika ibu dan ayah berantem, kasa tidak boleh denger ya tutup telinga dan mata oke," kalimat dan suara sang ibu berputar di otaknya.
Ia pun menuruti pesan ibunya dan hari ini ayahnya datang dengan bau alkohol yang sangat menyengat dan mengamuk menyeret ibunya ke kamar. Anak kecil tak berdosa itu hanya bisa diam, ia tak punya tenaga untuk menolong ibunya.
"Maafkan Kasa, ibu..." Lirih anak kecil tersebut sembari memeluk erat bantal gulingnya. Hingga kesadarannya mulai berpudar dan anak kecil itu tertidur pulas.
"Kasa ayo bangun nak..." Matanya mulai bergerak dan terbuka ia melihat sang Ibu yang mengelus lembut rambut hitamnya. "Ibu? Ibu tidak apa apa?" sang Ibu tersenyum ia mendekap anak tunggalnya itu. "Ibu ga papa... Hanya sedikit luka." Wanita itu mengusap luka di pipi dan tangannya.
"Ibu jangan tinggalin kasa ya? Tunggu kasa udah gede,"
"Iya nak, Ibu ga ninggalin kasa kok nih Ibu ada di sini peluk anak kesayangan Ibu..." Anak kecil itu tersenyum manis memeluk balik sang Ibu dengan tulus.
"ANGGI!" Teriakan itu membuat keduanya melepaskan pelukan, anak kecil itu menatap sang ibu khawatir ia menggenggam erat tangan sang ibu. "Ibu..."
Anggi tersenyum ia menatap manik mata Kasa, "kamu cepet mandi ya lalu sarapan, nanti Ibu akan anter kamu ke sekolah," Kasa mengangguk dan melepaskan genggaman tangannya dari tangan Anggi.
Anggi berdiri dan berjalan keluar sebelum menutup pintu Anggi tersenyum manis seolah mengatakan bahwa ia akan baik baik saja. Tangan mungil Kasa mengepal mengingat perlakuan sang ayah pada ibunya dulu, api marah berkobar di diri Kasa.
Kasa tahu bahwa sang ayah menampar Anggi dan juga melemparkan benda ke arah Anggi. Tapi Kasa tidak bisa berbuat apa apa ia masih sangat kecil tak bisa melindungi sang Ibu dari amarah sang Ayah.
Setelah melihat Anggi pergi, Kasa turun dari kasur dan bersiap siap untuk sekolah.
"Kamu itu kalo masak bisa becus ga! Ini hambar! Nyesel aku nikahin kamu ga bisa masak taunya cuman nyusahin aja! Apalagi anak mu itu beban!" Anggi yang mendengar anaknya dihina pun marah.
"Dia juga anakmu mas! Anak kita! Bisa bisanya kamu bilang dia beban! Emangnya kamu yang ngerawat dia waktu bayi? Hah!"sang ayah melayangkan tangannya ke pipi Anggi, hingga wanita itu tertoleh kekanan.
"Beraninya kamu membentak saya?!"
Anggi menatap sang suami dengan tatapan sinis, "YA?! kenapa tidak, Kasa anak aku! Aku ga rela anak aku sendiri di hina depan mataku! Aku juga nyesel nikah sama kamu Lang! Kalau aku tahu, aku juga ga mau nikah sama kamu!"
Sang ayah mengambil garpu dan melemparkannya ke arah Anggi dan tepat mengenai pipi sebelah kiri Anggi. Hingga pipinya mengeluarkan darah segar, Anggi memegangi pipinya yang berdarah. Sang suami menatap Anggi dengan wajah yang teramat marah.
Kasa yang baru turun melihat ibunya di perlakukan tidak enak pun berlari,"Ibu? Kenapa pipi Ibu berdarah?" Anggi tak menjawab hanya diam. Kasa perlahan menatap sang ayah mata mungilnya menatap mata elang sang Ayah. Kasa memeluk sang Ibu kuat.
Sang ayah langsung pergi begitu saja tak memedulikan keadaan anggi, jangankan menanyakan keadaan melihat saja sang ayah tak sudi. Melihat sang ayah pergi kasa menghela napas lega.
"Ibu udah aman!" katanya tersenyum menampakkan deretan gigi putihnya. Anggi mendekap kasa lembut ia tak dapat menahan tangisnya, "iya Kasa..."
Di gerbang depan sekolah SD yang bernama SD Merpati murih, Anggi mengantarkan Kasa ke sekolahnya.
"Kasa baik baik ya sama temen, jangan berantem,"
"Iya Bu, Ibu tenang aja, kasa ga akan berantem kok kayak ayah menampar Ibu"Anggi terdiam mendengar perkataan kasa. "Baguslah,"
"Angkasa!" mendengar namanya di panggil kasa menoleh di sana terdapat beberapa anak kecil yang memakai seragam mirip dengan kasar yang diduga adalah temannya kasa.
"Kasa ke temen temen ya Bu, Ibu hati hati dijalan," Anggi mengangguk dan mencium kening kasa sebelum pergi. Setelah sang Ibu pergi kasa berlari menuju teman temannya.
"Ibu mu baik banget ya kasa," puji seorang anak kecil perempuan berkuncir dua dengan poni.
"Iya dong,"jawab kasa tersenyum lebar.
"Tapi aku ga pernah lihat ayahmu tuh, ayahmu kemana?" Kasa terdiam saat di tanya dimana sang ayah. "Ayah.. dia bekerja,"jawab kasa lirih.
"Kerja? Pas kamu ambil raport juga?" Tanya seorang anak laki laki lain. Kasa kembali diam, anak laki laki yang Bertanya padanya merasa bersalah, "maafin aku ya kasa,"
"Ga papa De."
Anggi tak langsung pulang kerumahnya ia mampir ke rumah sakit, Anggi turun dari mobil dan berjalan cepat ke ruang yang sekarang sekarang ini sering Anggi datangi.
"Eh mbak Anggi, mau ngecek ya?" Tanya seorang suster muda. Anggi mengangguk, "ada dokter Karmila kan?" Suster itu mengangguk, "dokter Karmila ada di ruangannya"
"Makasih ya sus, saya permisi dulu."
"Baik mbak, semoga makin sembuh ya,"
"Iya," Anggi pun segera berjalan ke ruangan dokter Karmila.
______________________________________
Makasih udah baca book ini
Tbc
______________________________________
YOU ARE READING
Wound Sheet (On Going)
Teen FictionHello selamat datang di cerita kedua aku yang berjudul WOUND SHEET. Bagaimana jika kamu ditinggal oleh ibumu sedari kecil? Begitulah kisah Angkasa yang ditinggal sang ibu sejak kecil hanya karena insiden kecil yang tak Kasa inginkan. Insiden yang m...
