Prolog

2 0 0
                                        

Kepalaku terasa berat dan sangat sakit. Samar – samar ku dengar suara beberapa orang yang sedang berbincang, tetapi sayangnya aku tidak dapat menengar dengan jelas apa yang sedang mereka bicarakan. Telingaku berdeninging hebat, rasanya menusuk tajam mengiris tulang. Untungnya hal ini tidak berselang lama, ku rasa mataku yang berat ini terasa makin mudah digerakkan. Dengan perlahan ku buka mataku melihat langit – langit arah datangnya cahaya.

''Sykurlah kamu sudah sadar nak,” ucap seorang wanita paruh baya yang berada tepat di depan wajahku.

Aku tidak dapat mengingat dengan pasti siapa wanita ini, tetapi ekspresinya menandakan kekhawatiran.

“Ada yang sakit nak? Biar ibu panggilkan dokter ya,” ucap wanita itu.

Jujur saja aku malas untuk mengeluarkan suara, tetapi kurasa aku tidak perlu sosok bernama dokter itu, dan aku hanya menggeleng kecil sebagai jawaban.

“Oh ya, apa kamu mau minum? Ini minum dulu nak,” ucap wanita paruh baya itu dengan cepat membantuku untuk minum.

“Terima kasih,” ucapku kecil yang hanya direspons senyman oleh wanita paruh baya tersebut.

''Maaf nak, tapi ibu harus tanya padamu, siapa namamu?” tanyanya.

Aku mulai berpikir keras, jujur saja aku tidak tau siapa namaku, aku tidak meninggatnya atau aku memang tidak tau siapa namaku sebenarnya.

“Dinda bu,” satu nama acak ku ucapkan begitu saja, lancar dan sangat lancar.

“Ah nak Dinda, hanya Dinda saja? Apakah kamu masih ingat darimana asalmu?” tanya wanita paruh baya tersebut.

Aku yang tidak tau atau tidak ingat ini hanya bisa menggeleng saja, namaku saja aku lupa apalagi tempat asalku.

“Kamu tidak ingat ya nak, sudah jangan dipikirkan lagi biarkan saja. Kebetulan sekali nak, ibu tidak memiliki anak perempuan, jika kamu bersedia kamu bisa jadi anak ibu dan tinggal bersama ibu,” ucap wanita paruh baya tersebut dengan senyuman ramah terukir di wajahnya yang terlihiat berumur tetapi beliau cantik dan manis.

“Kenapa anda begitu baik sama saya?” ucapku terheran, aku tidak tau tapi rasa ini terasa sangat asing bagiku, sebuah rasa yang sangat sulit untuk didefinisikan dengan kata – kata.

“Nak, ibu berempati kepadamu, dokter berkata kamu hilang ingatan dan ibu ingin membantumu, ibu gak mau anak secantik dirimu tidak memiliki tempat bersandar. Jika kamu bersedia, kamu bisa tinggal bareng ibu, kebetulan anak ibu merantau,” ucap wanita paruh baya itu dengan senyum lebar.

“Terima kasih bu, maaf jika saya merepotkan anda,” ucapku.

“Sama sama nak, ibu senang kamu bersedia, ibu sama sekali tidak merasa repot, mulai sekarang kamu bisa panggil Mama ya.”

“iya, jika boleh tau siapa nama anda?” tanyaku hati – hati.

“Nirmala, panggil Mama Nirmala,” jawab wanita tersebut, namanya sungguh anggun, seanggun sosoknya.

“Baik ma,” ucapku dengan mantap, aku merasa nyaman dengan Mama Nirmala ini.

To Be Continue

Tak Luput dari Sebuah Kenangan La tua prossima ossessione. Scoprilo ora