Adam menatap layar laptopnya tanpa benar-benar melihat deretan kode yang terpampang di sana. Pikirannya melayang pada pesan yang masuk setengah jam lalu. Foto perlengkapan bayi berwarna kuning lembut. Baju mungil dengan motif bebek. Sepatu kecil yang bahkan tidak sebesar telapak tangannya. Dan caption dari Kayla: "Sudah siap jadi Ayah?"
Adam tersenyum sendiri, jemarinya mengetik balasan singkat sebelum kembali fokus pada pekerjaannya. Kayla bilang akan ke toko perlengkapan bayi di mal dekat rumah, memastikan semua sudah siap untuk kelahiran putri mereka dua minggu lagi. Adam sempat menawarkan diri untuk menemani, tapi Kayla hanya mencium dahinya dan berkata, "Kamu selesaikan kerjaan dulu. Aku cuma mau beli beberapa hal kecil kok."
Dia ingin ikut. Dia ingin meninggalkan pekerjaan sialan ini dan menemani istrinya.
Tiba-tiba saja ponselnya berdering. Bukan panggilan dari Kayla. Hanya deretan nomor tidak dikenal.
"Halo?"
"Bapak Adam?" Suara di seberang terdengar formal, tegang. "Ini dari Polsek Cijantung. Istri Bapak, Ibu Kayla, mengalami kecelakaan. Sekarang sedang ditangani di RSUD Pasar Rebo. Bapak bisa segera ke sana?"
Dunia Adam berhenti berputar. Dia ingin tidak percaya, tetapi semakin lama percakapan ini berlangsung, semakin dia merasa bahwa orang di balik telepon memang tidak sedang main-main.
Laptop terlupakan. Kunci mobil tercecer. Tangannya gemetar saat menyalakan mesin. Jalanan Jakarta yang macet tiba-tiba terasa seperti labirin tanpa ujung. Setiap lampu merah adalah siksaan. Setiap kendaraan yang menghalangi adalah tembok yang memenjarakannya dari Kayla.
Kayla baik-baik saja. Pasti hanya luka ringan. Dia kuat. Dia selalu kuat.
Tapi kenapa polisi yang menelepon? Kenapa bukan Kayla sendiri?
Adam menekan klakson keras saat sebuah angkot tiba-tiba memotong jalannya. Napasnya tersengal. Keringat dingin membasahi punggungnya meski AC mobil menyala penuh. Tangannya mencengkeram setir begitu erat sampai buku-buku jarinya memutih.
Dua puluh menit yang terasa seperti dua jam. Adam memarkir mobilnya sembarangan di depan UGD, bahkan tidak peduli apakah itu zona parkir atau bukan. Kakinya berlari sebelum otaknya sempat memproses. Pintu otomatis UGD terbuka, menyambutnya dengan bau antiseptik dan desinfektan yang menyengat.
"Kayla. Istri saya, Kayla. Dia dibawa ke sini karena kecelakaan," kata Adam pada perawat di meja pendaftaran, suaranya serak, nyaris putus.
Perawat itu mengetik di komputer, wajahnya berubah serius. "Sebentar, Pak. Saya panggilkan dokter jaga."
Dokter jaga datang beberapa menit kemudian, seorang perempuan paruh baya dengan wajah lelah. "Bapak Adam? Saya dr. Ratna. Istri Bapak mengalami kecelakaan lalu lintas cukup serius. Ada benturan keras di bagian perut dan kepala. Kami sudah melakukan stabilisasi, tapi kondisi janin dalam bahaya. Detak jantung bayi melemah. Kami harus melakukan operasi caesar darurat."
Adam merasakan lututnya hampir menyerah. "Kayla... Kayla bagaimana?"
Dr. Ratna menghela napas. "Kondisinya kritis. Ada perdarahan internal. Tapi kami akan melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan ibu dan bayi."
"Saya... Saya bisa melihatnya?"
"Sebentar saja. Kami harus segera membawanya ke ruang operasi."
Kayla terbaring di brankar, wajahnya pucat seperti lilin. Selang oksigen terpasang di hidungnya. Darah mengering di pelipisnya. Tapi matanya terbuka, samar, mencari. Mencari Adam.
"Kayla." Adam berlutut di samping brankar, tangannya gemetar saat menggenggam tangan istrinya yang dingin. "Aku di sini. Aku di sini, sayang."
Bibir Kayla bergetar, suaranya nyaris tak terdengar. "Adam... maafkan aku."
"Jangan bilang begitu. Jangan." Air mata Adam jatuh tanpa bisa ditahan. "Kamu akan baik-baik saja. Kalian berdua akan baik-baik saja."
"Inaya..." Kayla memejamkan mata, seolah mengumpulkan tenaga hanya untuk berbicara. "Tolong... jaga Inaya."
"Kita akan menjaganya bersama. Kamu dengar aku? Bersama, Kayla."
Senyum tipis muncul di bibir Kayla, tapi matanya sudah kehilangan fokus. "Aku mencintaimu... jadi... sangat mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu. Bertahanlah. Kumohon, bertahanlah."
Perawat menyentuh bahu Adam dengan lembut tapi tegas. "Pak, kami harus segera membawa pasien ke ruang operasi."
Adam melepaskan tangan Kayla dengan berat, seolah melepaskan jangkar satu-satunya yang menahan hidupnya dari tenggelam. Brankar itu bergerak cepat, menjauh, melewati pintu ruang operasi yang tertutup rapat. Dan Adam hanya bisa berdiri di sana, sendirian, dengan air mata yang tidak berhenti mengalir.
Seorang polisi menghampirinya. Berita Acara. Pertanyaan-pertanyaan. Adam menjawab dengan otomatis, suaranya datar, kosong. Kemana Kayla pergi. Jam berapa. Kendaraan apa. Tidak, dia tidak tahu detail kecelakaannya. Tidak, dia tidak ada di sana.
Seharusnya aku ada di sana.
Ruang tunggu operasi terasa seperti neraka tersendiri. Lampu operasi yang menyala merah di atas pintu adalah pengingat konstan bahwa di balik pintu itu, hidup dan mati sedang bertarung. Adam duduk dengan kepala tertunduk, tangan terlipat di depan wajah, berdoa dengan cara yang sudah lama tidak dia lakukan. Berdoa pada Tuhan yang hampir dia lupakan, memohon keajaiban.
Satu jam berlalu. Dua jam. Setiap menit adalah siksaan.
Akhirnya, pintu ruang operasi terbuka. Dr. Ratna keluar, masker bedahnya diturunkan. Wajahnya adalah jawaban sebelum dia membuka mulut.
"Bapak Adam... kami sudah berusaha semaksimal mungkin." Suaranya pelan, penuh belas kasihan yang menyayat. "Bayi Bapak selamat. Tapi Ibu Kayla... perdarahan terlalu masif. Kami tidak bisa menghentikannya."
Adam tidak mendengar apapun setelah itu. Dunia berubah menjadi diam. Tidak ada suara. Tidak ada warna. Hanya kehampaan yang menganga lebar, menelannya utuh.
Kayla meninggal.
Istrinya. Sahabatnya. Cinta hidupnya. Pergi. Meninggalkannya dengan lubang di dada yang tidak akan pernah tertutup.
"Bapak... mau melihat bayi Bapak?"
Adam tidak tahu bagaimana kakinya bergerak. Tidak tahu bagaimana dia sampai di ruang perinatologi. Seorang perawat menggendong bayi mungil terbungkus kain putih, membawanya ke hadapan Adam dengan senyum lembut yang terasa kontras dengan kesedihan yang meremukkan dadanya.
"Ini putri Bapak. Berat 2,8 kilogram. Sehat."
Adam menatap wajah kecil itu. Mata tertutup. Pipi merah muda. Bibir mungil yang sesekali bergerak seperti sedang mengecap. Hidung kecil yang mirip Kayla. Telinga yang mirip Adam.
Inaya.
Perawat itu menaruh Inaya di pelukan Adam dengan hati-hati, membimbingnya menopang kepala bayi dengan benar. Tubuh mungil itu terasa begitu rapuh, begitu ringan, seolah Adam bisa merusaknya hanya dengan bernapas terlalu keras.
Tapi saat Inaya menggeliat pelan, mengeluarkan suara kecil seperti anak kucing, ada yang retak di dalam dada Adam. Tangisannya pecah, keras, kasar, memenuhi ruangan. Dia menangis untuk Kayla yang tidak akan pernah melihat putrinya tumbuh. Menangis untuk dirinya sendiri yang harus hidup tanpa Kayla. Menangis untuk Inaya yang tidak akan pernah merasakan pelukan ibunya.
Adam menatap wajah mungil itu. Mata yang tertutup rapat. Hidung kecil, hidung Kayla. Dagu kecil, dagu Adam. Campuran dari mereka berdua, tapi Kayla tidak di sini untuk melihatnya.
Inaya menguap pelan, lalu tertidur lagi. Tenang. Tidak tahu apa-apa.
Adam mengusap pipi putrinya dengan ibu jari, pelan, takut terlalu kasar. Kulitnya lembut. Hangat. Hidup.
"Halo, Inaya," bisiknya, suara serak. "Ayah... Ayah di sini."
Kata-kata lain tertahan di tenggorokan. Ayah akan menjagamu. Ayah akan baik-baik saja. Kita akan baik-baik saja.
Tapi tidak ada yang keluar.
Karena Adam tidak tahu apakah itu janji yang bisa dia tepati, atau hanya kebohongan yang dia harap suatu hari bisa menjadi kenyataan.
YOU ARE READING
Suaka Hati
RomanceDemi membebaskan diri dari neraka pernikahan, satu-satunya yang Zahra butuhkan adalah suaka. Bagi Adam, duda yang masih memeluk erat duka kehilangan istrinya, menerima orang asing untuk merawat Inaya, putri semata wayangnya, adalah sebuah keterpaksa...
