"ehem.." Aku berdehem untuk mencairkan suasana saat itu.
Orang disebelahku hanya menoleh kemudian tersenyum. Kemudian suasana kembali hening.
"Ngomong-ngomong, kamu udah lama tinggal disini?". Tanyaku memulai pembicaraan.
"Lumayan." Jawabnya. Sambil terus memandang ke depan. Wajahnya dari samping terlihat tirus dan bersih, atau lebih tepatnya terlihat kurus dan sedikit pucat.
Aku mengikutinya memandang ke depan.
Hanya suasana gelap malam yang terlihat.
Entah berapa lama kami duduk di dalam diam disana.
Tiba-tiba kulihat dia akan beranjak dari duduknya.
Secara refleks, aku menarik tangannya. "Dingin sekali". Kemudian buru-buru aku lepas.
"Kalau boleh tau, nama kamu siapa?" Aku bertanya cepat-cepat.
"Alex".
"What?"
"Namanya Alex?" Batinku.
"Kenapa? Lucu ya?" Dia bertanya karena melihat ekspresi wajahku yang sedikit terkekeh.
"Enggak kok". Jawabku singkat. Menurutku memang lucu sih nama dia. Terlihat kurang cocok untuknya.
Dia mulai bangkit dari duduknya, berjalan perlahan kearah depan. Aku ikut beranjak dari kursi dan mengikutinya berjalan.
Baru beberapa langkah, telingaku berdenging dan terasa sakit. Rasanya seperti suara keras bercampur aduk didalamnya. Aku menunduk sambil memegangi telingaku yang berdengung.
"Aidaaa!!".
Dan detik berikutnya aku sudah terbangun.
KAMU SEDANG MEMBACA
DENIAL
Teen FictionAida selalu menanti setiap malamnya untuk bertemu dengan pujaan hatinya. Karena bersama malam, dia akan datang
