1. Little Twin

17 8 2
                                        

"Tangkap wanita itu!"

"Bakar mereka! Bakar!"

"Jangan sampai ada penyihir yang masih hidup di sini!"

"Tangkap semua penyihir itu!"

Suara bara api terdengar di mana - mana, desa yang dulunya rindang dan indah, kini berubah menjadi lautan api.

Pusat desa yang biasanya menjadi tempat para penduduk saling menyapa, kini berubah menjadi lahan mayat penyihir yang terbakar.

Di tengah kobaran api yang menyala, seorang lelaki paruh baya berlari ke pinggir desa, mendekati hutan.

Dengan nafasnya yang tersengal - sengal, ia mengeluarkan sepasang cincin pernikahan miliknya dengan sang istrinya yang sudah di bakar oleh penduduk desa. Ia mencium cincin sang istri sambil menangis.

"Maafkan aku, maafkan aku."

Lelaki itu terus mengucapkan kata maaf dan menggemgam cincin itu dengan erat. Ia lalu meletakkan kedua cincin itu di antara dua bayi kembarnya.

Suara tangis dari kedua bayi itu tak terhentikan sedari tadi, rasa sakit dan sedih yang mereka rasakan dari kehilangan ibunya.

"Maafkan ayah karena tidak bisa menyelamatkan ibu kalian."

"Aku harap kalian bisa tumbuh besar menjadi gadis cantik dan baik hati seperti ibu kalian."

Lelaki itu mencium kening kedua putrinya, lalu menutup keranjang itu dengan kain.

Ia lalu merapalkan mantra - mantra agar kedua bayinya menjadi tak terlihat untuk sementara dan suara bayinya jadi tak terdengar.

Seluruh tenaganya ia kerahkan hingga akhir, "AAARRGGHHH".

Setelah mantranya selesai diucapkan, tubuh lelaki itu menjadi lemas dan ia terjatuh tak sadarkan diri.

Dari kejauhan terdengar suara amarah penduduk desa yang berlari mengejarnya.

"Itu dia penyihir terakhir di desa ini! Seret tubuhnya dan bakar habis penyihir sialan itu!"

Penduduk desa yang menemukan tubuh lelaki itu sudah terkapar di pinggir desa lalu menyeret tubuhnya ke pusat desa untuk di bakar habis.

Kini anak kembar itu tidak lagi memiliki orang tua. Mereka masih menangis. Tidak ada kehangatan dan kasih sayang dari kedua orang tuanya lagi.

Kini mereka hanya sebatang kara.

Tap tap tap

Suara langkah kaki yang berat dan deru angin dingin mendekati arah keranjang bayi itu.

Ctak

Sihir yang susah payah dirapalkan oleh ayah bayi itu langsung menghilang hanya dengan satu jentikan jari.

Lelaki itu tersenyum saat melihat bayi kembar itu. Suara tangisan bayi yang awalnya tak terdengar karna mantra sang ayah kini terdengar lagi.

"Sungguh makhluk yang kasihan, kalian kini hanya sebatang kara."

Ia lalu membawa keranjang itu pergi ke dalam hutan.

Tok tok tok

Lelaki itu mengetuk pintu rumah seorang nenek yang hidup menyendiri di tengah hutan. Sang nenek membuka pintu dan menyambutnya.

"Bagaimana keadaan desa?" tanya sang nenek.

"Buruk," lelaki itu menjawab singkat.

Nenek menaruh secangkir teh hangat di depan lelaki itu. Lelaki itu lalu mengambil cangkir itu dan meminum sedikit teh hangat itu.

Midnight TunnelStories to obsess over. Discover now