Sekolah sudah sepi dan aku masih duduk membungkuk termenung di kursi depan kantor, memandang sebungkus hadiah dan map raport yang tergeletak di atas pahaku.
Hari semakin sore dengan headset di telinga, aku mulai berjalan pulang.
Setibanya di rumah badan ku begitu terasa lelah hari ini, pikiranku kacau dan kepalaku sangat pusing. Aku meletakkan diri di atas tempat tidur, mencoba menenangkan pikiran yang kacau. Hadiah dan raport yang tadi kubawa pulang tergeletak di atas meja, tidak kupedulikan lagi. Aku hanya ingin tidur dan melupakan semua kelelahan hari ini.
"Tok tok tok, tok tok tok tok" suara ketukan pintu.
"Embun, bun, bun, Embun buka pintunya"
"Bocah tolol ayo cepat buka pintunya" itu suara Ayah.
Aku membuka mata, lalu bergegas berjalan menuju pintu.
"Sabar, aku datang!" ucapku dengan nada sedikit kesal.
Aku langsung membuka pintu ternyata hari sudah gelap.
"Lama amat bukannya, ngapain kamu?" tanya Ayah marah dan langsung berjalan masuk.
"Maaf yah, Embun tidur tadi" jawab ku.
Aku Embun, hanya satu kata itu nama ku.
seorang remaja kelas sembilan yang berumur 13 tahun, yang hidup dalam bayang-bayang kesedihan. Ayahku, sosok yang penuh kontradiksi. Di satu sisi, dia adalah orang tuaku, tapi di sisi lain, dia adalah sumber ketakutan dan kekecewaan.
Kata "Ayah" yang seharusnya penuh kasih sayang, kini hanya menjadi sebutan kosong tanpa makna.
Aku tumbuh tanpa kehangatan ibu, yang pergi meninggalkanku sebelum aku bisa mengenalnya. Ayahku, dengan segala kekurangannya, tetap menjadi satu-satunya keluarga yang aku miliki. Ayah mungkin bukan Ayah yang ideal, tapi dia tetap bertanggung jawab atas kehidupanku, meskipun dengan caranya yang keras dan kasar.
Aku menutup pintu dan berjalan ke kamar, ternyata Ayah sudah rapi
"Yah, Ayah mau pergi lagi?" tanya ku.
"Iya, Embun kamu jangan lupa kunci pintu" pesan Ayah.
"Baik yah" jawab ku Ayah pergi dan aku langsung mengunci pintu.
Sedikit berbelit hari ini, pertama aku tidak bisa mempertahankan juara satu di kelas seperti di semester-semester sebelumnya,
kedua Ayah pulang tiba-tiba. Untungnya saja hari ini dia lagi baik tidak seperti di hari biasanya di saat dia sedang ingin marah terus.
Agar badan ku segar aku memutuskan untuk mandi
setelah selesai mandi aku keluar untuk membeli makanan dengan ditemani sepeda motor.
Malam ini aku hanya keluar dengan celana panjang dan hoodie, aku sengaja memakai hoodie untuk menutup muka ku dengan kupluk nya.
Aku berhenti di gerobak kebab dan memesan seporsi kebab spesial, setelah selesai aku lanjutkan sedikit ke arah barat untuk menghampiri penjual minuman langganan favorit ku. Setelah sampai di lapaknya ternyata hari ini "Boba cinta" tutup. Boba cinta adalah minuman kesukaan ku, aku sering membeli boba cinta dengan rasa favorit ku yaitu thai tea. Entah kenapa hari ini boba cinta tutup padahal biasanya boba cinta selalu buka dan selalu ramai.
Malam ini aku ingin sekali minum boba, aku terpaksa ke lapak yang ada di depan boba cinta, ini pertama kalinya aku membeli boba disini karena kata orang-orang disini minuman nya kurang enak. Aku langsung memesan ke Ibu penjual nya satu gelas besar boba rasa thai tea dan duduk menunggu sambil scroll aplikasi hitam.
FYP yang random membuat aku sesekali tercengir.
"Bang pecahin es batunya" suara Ibu penjual es boba.
"Iya ama" jawab seseorang dari dalam rumah nya.
orang itu keluar dan berjalan, aku masih menunduk melihat layar ponsel terlihat kaki orang itu berjalan melintasi ku.
"tuk tuk tuk tuk" terdengar suara pukulan es batu
keningku terasa gatal dan aku langsung menepuk nya, benar dugaanku ada nyamuk yang sudah kenyang, tangan ku pun merah sebagian karena darah, sambil menggaruk kening aku mengubah posisi kepala yang tadi menunduk menjadi tegak.
Alangkah terkejutnya aku ternyata cowok yang memecah es batu itu memandangiku, kami tatap-tatapan ada sekitar lima detik, dengan cepat aku mengalih pandangan melihat kesamping kiri yaitu ke jalanan.
Sumpah walaupun hanya lima detik, tapi aku sangat bahagia, ini kali pertamanya aku benar-benar tertarik dengan seorang cowok
Pertama kali aku melihat ada orang seperti dia di daerah ku, dia tidak tampan, tapi kesederhanaan terlihat jelas di wajahnya, dia hanya memakai jeans dan singlet putih serta baju kaos merah yang terletak di atas bahu kanannya. Matanya sedikit sayu, dagu nya rapi, dan rambutnya yang juga sangat bagus benar benar definisi cowok sederhana.
Setelah selesai memecahkan es batu dia kembali berjalan masuk melewati ku, aku pun dengan sengaja mengelus rambut dengan kedua tanganku.
"Neng ini boba nya," panggil si Ibu penjual
"Iya buk" aku menjawab dan langsung membayarnya
Setelah itu aku langsung mengemudikan motor untuk kembali ke rumah, di atas motor aku tetap senyam senyum, hari ini yang tadinya aku kecewa, melihat cowok itu membuat aku jadi benar benar bahagia entah kenapa.
Sesampainya di rumah aku langsung mengunci pintu dan duduk di depan TV dengan menikmati kebab dan boba thai tea yang tadi aku beli,
"Itu cowok type aku banget, siapa sih namanya" monolog ku
"Ah ini boba enak-enak aja, kenapa orang-orang pada bilang kurang enak, sumpah nyesal banget baru beli boba di situ" tambah monolog ku
Film yang aku pilih di TV tak ku tonton sedikit pun, mulut ku terus mengunyah dan menyedot boba, sedangkan pikiran ku masih meronta tertuju ke cowok itu.
Aku segera membuka media sosial lebih tepatnya aplikasi pink yang berlogo putih. Pikiran ku mulai kritis
"tuh cowok pasti masih SMP, atau nggak SMA kelas sepuluh, hmmmmm SMP kayaknya soalnya masih pendek" monolog ku lagi bisa di beri judul pikiran yang ragu
Cowok itu tinggal di daerah Dusun Baru, kalau dia masih SMP mungkin saja dia sekolah di SMPN 1 Dusun Baru, Aku langsung mencari akunnya di akun sekolah SMPN 1 Dusun Baru, aku benar benar melihat satu persatu akun-akun yang diikuti maupun yang mengikuti di akun SMPN 1 Dusun Baru, setelah cukup lama mencari tapi tak kunjung ku temukan akun cowok itu, kebab dan boba ku pun sudah habis, mata ku juga sudah berat, aku membereskan ruangan dan mematikan TV, setelah itu aku ke kamar mandi bentar untuk bersih-bersih setelah selesai dan tak menunggu lama tidur menghampiri ku
Halo semua gimana nih ceritanya!!!
mau kelanjutan seruuu?
jangan lupa bantu follow, vote, and comment
YOU ARE READING
Embun
Teen Fictionkisah percintaan tentang seorang remaja, yang tumbuh dari kekerasan verbal di keluarganya
