Dunia menulis tentang cahaya, namun melupakan bayangan yang menanggung bebannya. Ia bangkit dari waktu yang retak, membawa kebenaran yang tak pernah diizinkan untuk diucapkan. Di antara halaman yang terbakar, ia memilih menjadi kisah yang tak dapat dihapus.
Sunyi menyelimuti tempat ia terbangun—ruang antara tidur dan nyata, di mana udara terasa tua dan cahaya menggigil di atas kulitnya. Ia menarik napas untuk pertama kalinya setelah entah berapa abad diam, dan aroma abu memenuhi dadanya.
Sekelumit cahaya menembus kelopak matanya, membawa penglihatan yang bukan miliknya: menara istana yang terbakar, langit yang memerah oleh jerit doa, dan lambang keluarganya yang tergores darah. Semuanya begitu nyata, seolah masa depan telah berbisik ke dalam mimpi panjangnya.
Ketika penglihatan itu memudar, hanya hening yang tersisa. Dunia di sekitarnya tetap indah—langit biru, angin lembut, suara lonceng gereja dari kejauhan—namun ada kehampaan yang menusuk: tidak ada yang mengenalinya. Tidak ada nama, tidak ada catatan, seakan dirinya hanyalah kesalahan yang dilupakan waktu.
Ia menggenggam udara yang dingin, dan di sela jarinya mengalir kilatan cahaya samar—sisa sihir kuno yang masih menempel di nadinya. Dunia menolak mengingatnya, tapi setiap detak jantungnya menolak untuk tunduk.
Dalam diam yang menelan segalanya, ia berjanji. Bahwa ketika tinta para dewa mencoba menghapusnya, ia sendiri yang akan menulis ulang kisah ini. Dengan darahnya. Dengan keberadaannya. Dengan kebenaran yang mereka kubur di bawah cahaya.
YOU ARE READING
Leora
FantasyDunia menulis tentang cahaya, namun melupakan bayangan yang menanggung bebannya. Ia bangkit dari waktu yang retak, membawa kebenaran yang tak pernah diizinkan untuk diucapkan. Di antara halaman yang terbakar, ia memilih menjadi kisah yang tak dapat...
