1. Awal pertemuan

6 2 1
                                        

"Aishhh ini bapak jelasin udh 5x masa kalian gak ngerti ngerti dan gabisa jawab!" Ucap seorang guru kepada muridnya dengan frustasi.

Tiba tiba selesai ia mengucapkan kata itu, bell waktu untuk berganti jam pelajaran berbunyi. Guru tersebut keluar dari kelas karna sudah muak di kelas itu yang terkenal dengan 'kelas brandalan'.
.

.

.

.
Beberapa saat kemudian seorang guru muda masuk kelas tersebut. Ia menyapa para siswa disana.

"Hallo... Selamat siang semua!" Ucap guru tersebut

"Siang pak." Jawab beberapa siswa dengan semangat dan beberapa lagi seperti tidak bertenaga. Mendengar suara muridnya yang seperti lemas, sang guru pun bertanya.

"Lohh? Kok jawabnya lemes gitu sih? Kenapa?" Tanya nya dengan lembut.

"Ini pak tadi kita abis belajar MTK trs beberapa dari kita gak ngerti ngerti, eh guru nya merajuk karna kita gak bisa ngerjain soal dari dia." Jelas salah seorang siswi yang berkata dengan wajah yang tampak lelah.

"Coba sini bapak liat soalnya... Coba yang mana?" Ia menarik buku tulis yang bertuliskan Matematika di meja muridnya itu.

"Ahh inimah gampang. Sini bapak jelasin pake rumus termudah." Mengembalikan buku tersebut lalu mengambil spidol dan mulai menuliskan rumus di papan tulis sambil menjelaskan cara mengerjakannya.

Beberapa menit pun ia selesai menjelaskan rumusnya. "...nahh gitu. Kalian ngerti? Kalo semisal belum ngerti, chat bapak aja. Jangan sungkan." Ucapnya sambil tersenyum ramah kepada murid muridnya. Murid di kelas itupun mengangguk.

"Baiklah kita lanjut ke pelajaran bapak. Sampe materi apa kelas ini?"

Ia pun lanjut mengajar di kelas tersebut.

.

.

.

.

.

Jam menunjukkan sudah sore. Namun, sang guru muda itu baru pulang karna ia mengurus salah satu kegiatan ekstrakurikuler disana.

Dia pulang menaiki mobil berwarna putih miliknya menuju rumah. Di perjalan, ia melewati sebuah pantai dan melihat matahari terbenam dengan semburat jingga menyorot awan awan membuatnya ikut berwarna. Tanpa berpikir panjang, ia berhenti sejenak dan memarkirkan mobilnya di parkiran yang sudah disediakan di dekat pantai.

Ia keluar dari mobil dan berjalan jalan di bibir pantai sambil menikmati matahari terbenam di sore itu.

Sang guru muda itu berhenti berjalan, berdiri di bibir pantai, dan melihat ke arah laut tempat matahari itu tenggelam sambil tersenyum melihat pemandangan senja yang indah itu.

"Ahh... Indah banget kamu. Cantik, kaya yang ngasih nama kamu ke aku." Ia berkata sambil tersenyum lalu angin laut pun berhembus menyibak rambut hitamnya yang halus seolah menjawab perkataan Senja, nama sang guru muda itu.

.

.

.

.

.

.

Waktu telah berlalu. Langit yang semula jingga kini akan berganti menjadi biru tua. Senja melihat kearah jam tangannya dan benar saja, jam itu menunjukkan pukul 17.40. Tak usah lama lama ia pun bergegas pulang. Namun, di perjalanan menuju parkiran ia melihat seorang remaja yang masih memakai seragam sekolah tempat ia mengajar.

Remaja itu terlihat akan merokok dan mulai menyalakan korek gas nya. Namun tiba tiba...

Plukk

...korek gasnya terjatuh karna ulah Senja yang tiba tiba mengambil rokok di mulut remaja tersebut.

"Ehh! Ada masalah apa sih lo bangsat?!!" Sentak remaja itu kepada Senja sambil memegang kerah baju Senja dengan erat dan wajah mereka yang dekat hanya berjarak beberapa cm saja.

"Kamu masih SMA. Gaboleh ngerokok..."

"Suka suka gue!! Ngapain Lo ngatur?! Siapa emang lo!?"

"Saya guru di SMA kamu. Kenapa saya ngatur? Karna kewajiban saya buat ngedidik murid kayak kamu" ucapnya tersenyum

"Apaan sih anjing. Gaje!" Ujarnya menyeringai

Brukk!!

Senja terjatuh karna di dorong remaja itu dengan sangat kuat. Tak lama kemudian sang remaja arogan itu memukulinya tanpa ampun.

Bug!

Bug!

Bug!

"Denger ya... Disini bukan sekolah. Jadi lo gausah sok ngatur kayak guru teladan. Guru lain juga ngebiarin gue kalo di sekolah apalagi diluar sekolah!!" Sentaknya lalu mendorong badan Senja yang sedikit babak belur itu ke pasir.

Remaja itu pun berjalan meninggalkan Senja dan berangsur angsur menghilang dari pandangan Senja.

.

.

.

.

.

Di dalam mobil, Senja menghadap kedepan dan menatap keluar jendela mobilnya sambil berbicara sendiri karna tiba tiba teringat nama yang ada di bet baju si remaja.

"Eungh... Reza... Reza... Fahreza... Lucu juga kamu yahh" gumamnya sambil menyeringai dengan agak mengerikan yang sangat beda dengan sikapnya seperti biasa

"Aww! Tckk!!! Sakit juga ya ternyata" ucapnya yang kesakitan karna ia memegang bekas tonjokkan remaja tadi yang ia gumamkan namanya. Yaitu, Reza.

Tanpa berlama lama ia menyalakan mobil dan menancap gas untuk pulang ke rumahnya.




Bersambung...











weyyy gimana nih ceritanya? Seru gaxx? Harus seru dong!
Kalian lebih penasaran sama siapa nihh?

🌇Senja si Soft spoken tapi misterius?
Atau
💣Reza yang emosinya kejedar kejederr

Kalo penasaran baca terus yaaa!

Kalo misalkan kalian ada saran komen aja yahh~ aku baik kok gak kyk Senja yang blom jelas apa kepribadian nya🥰🥰🥰

Senyuman SenjaStories to obsess over. Discover now