---
Prolog — Doa yang Diubah
Malam itu hujan turun perlahan, menetes di atap rumah kayu di pinggir desa kecil yang dikelilingi kebun bambu dan jalanan tanah berlumpur. Di dalam rumah itu, seorang wanita muda bernama Sari sedang duduk di kursi goyang sambil mengelus perutnya yang sudah besar. Wajahnya lelah, tapi senyumnya lembut — senyum seorang ibu yang sedang menunggu keajaiban kecil datang ke dunia.
Suaminya, Darman, duduk di sampingnya, menatap layar hasil USG yang baru mereka bawa pulang dari kota. Di sana, jelas terlihat wujud mungil janin yang mereka nanti-nantikan sejak lama. Namun, bukan kebahagiaan yang muncul di wajah Darman, melainkan kekecewaan yang tak bisa ia sembunyikan.
> “Laki-laki lagi…” gumamnya pelan, hampir tak terdengar.
Sari menunduk, menahan sesak di dada. Ia tahu, bukan berarti Darman tidak akan menyayangi anak itu. Hanya saja… keluarga besar mereka, terutama dari pihak mertuanya, sudah lama menantikan seorang anak perempuan — penerus kelembutan di rumah yang dipenuhi para lelaki keras kepala.
Beberapa hari kemudian, Darman mendengar kabar dari tetangganya tentang seorang orang pintar yang tinggal di ujung hutan, jauh dari pemukiman, dikenal bisa “mengubah takdir yang belum ditetapkan sepenuhnya.” Orang-orang memanggilnya Ki Merta, seorang pria tua tinggi kurus dengan jubah hitam, yang katanya bisa berkomunikasi dengan roh penjaga kelahiran.
Malam itu, tanpa sepengetahuan istrinya, Darman nekat pergi. Ia membawa sesajen, dupa, dan seekor kambing betina muda. Jalan menuju rumah Ki Merta hanya diterangi cahaya bulan separuh dan suara jangkrik yang menyeramkan. Saat tiba, Ki Merta sudah menunggunya di depan gubuk, seperti sudah tahu kedatangannya.
> “Kau ingin anakmu lahir sebagai perempuan,” ujar Ki Merta tanpa bertanya.
Darman menelan ludah. “Iya, Ki. Kalau bisa… ubah takdirnya. Saya mohon.”
Ki Merta diam lama, matanya redup tapi menusuk. “Setiap perubahan ada gantinya. Roh kelahiran tidak suka dipermainkan.”
Darman hanya menunduk. Ia tidak peduli, yang penting keinginan istrinya dan keluarganya terpenuhi.
Ritual pun dimulai. Asap dupa memenuhi ruangan kecil itu. Ki Merta melafalkan mantra dalam bahasa tua yang bahkan Darman tak mengerti. Kambing betina itu disembelih, darahnya menetes ke tanah, dan dagingnya dimasak lalu diminta untuk dibagikan pada tetangga esok pagi — sebagai penyeimbang nasib.
Sebelum Darman pulang, Ki Merta berkata dengan nada berat:
> “Jika roh kelahiran menolak, maka bukan anak perempuan yang lahir — tapi sesuatu di antara keduanya. Lembut seperti perempuan, namun tetap laki-laki. Bila itu terjadi, kau dan keluargamu yang harus menanggung akibatnya. Jangan menyesal.”
Darman mengangguk, tapi pikirannya menolak percaya. Ia hanya ingin anaknya terlahir sempurna, cantik, dan disayangi.
Beberapa minggu kemudian, jeritan Sari memenuhi rumah. Malam itu, langit tak berhenti menggelegar. Petir menyambar seolah bumi marah. Saat tangisan bayi terdengar untuk pertama kalinya, semua yang hadir terdiam — karena di pelukan bidan, terbaring seorang bayi laki-laki dengan wajah teramat cantik, hampir seperti perempuan kecil dengan kulit seputih susu dan mata bening keabu-abuan.
> “Ini… laki-laki,” ujar bidan bingung.
“Tapi kenapa wajahnya… begitu lembut?”
Darman hanya berdiri mematung. Seakan seluruh ritual yang ia lakukan tak sepenuhnya gagal, tapi juga tak berhasil.
Beberapa minggu kemudian, Ki Merta datang ke rumah tanpa diundang. Ia menatap bayi itu lama, lalu tersenyum samar.
> “Aura perempuan ada padanya,” katanya pelan.
“Ia akan tumbuh lembut, halus seperti bunga… tapi tetap laki-laki. Dunia akan melihatnya aneh, namun itulah harga dari takdirmu yang diganggu.”
Darman dan Sari hanya bisa terdiam. Mereka menamai bayi itu Kinandra Pratama — nama yang berarti cahaya pertama, harapan baru yang mereka pasrahkan pada langit.
Namun, sejak malam itu, setiap kali Darman menatap mata anaknya, ia selalu teringat pada ritual di hutan — dan bisikan Ki Merta yang terus menghantui:
> “Kau tidak bisa memilih jiwa yang akan lahir… tapi jiwa itu bisa memilih cara mencintai.”
Dan begitulah awal kisah Kinan, anak laki-laki berwajah cantik yang terlahir dari doa yang diubah, dan takdir yang dipaksa berbelok.
---
YOU ARE READING
disukai cowok !?
Teen Fictionmenceritakan cowok bernama Kinan ya sangat mematikan sekaligus imut , cowok berkaca , kelinci monster
