Hanya penulis pemula, ini adalah cerita pertama saya, jadi jangan berharap terlalu banyak, disini saya ingin mengembangkan skill yang saya miliki, saya harap kalian dapat menikmati cerita ini.
Tidak ada deskripsi tambahan, jika penasaran kalian bisa...
Ini adalah cerita pertama saya, jikalau ada penulisan kata yang tidak benar mohon ditandai, Juga disini saya tidak akan memakai foto cast untuk setiap orang dicerita ini, takutnya malah menghancurkan imajinasi kalian.
Sekian dari saya, selamat menikmati~ - -
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
"Mas" Panggil seorang perempuan yang bernama Marbella
Mendengar panggilan dari sang istri Raden hanya berdehem singkat, tak mau menanggapi lebih lanjut tapi tak ingin mengabaikan juga.
"Ish.. mau sampai kapan diemin adek? Adek kan udah minta maaf sama mas.. mangkannya dengerin penjelasan adek dulu."
Marbella pun mulai mengganggu kegiatan Raden yang sedang mengerjakan pekerjaannya, mulai dari menarik jari-jari Raden yang sedang aktif mengetik di keyboard atau pun bergelayut manja pada lengan kekar sang suami, bahkan merecoki nya dengan kata-kata
"Dari pada kamu ganggu saya disini, lebih baik kamu tidur ini sudah malam, kalau pun tak bisa tidur lebih baik kamu kerjakan skripsimu yang sudah berdebu itu." Ucapan itu sontak membuat istri kecilnya terdiam.
Perdebatan itu bukan tanpa alasan, Marbella tahu Raden sang suaminya itu sedang cemburu padanya karna Marbella pulang dibonceng dengan mantan pacarnya sekali lagi MANTAN PACARNYA, Raden yang memang di cap sebagai orang yang posessif pada istrinya oleh orang terdekat yang memang tau seberapa posessifnya ia pada sang istri.
"Mas.. ish.. jahat, masa gamau denger penjelasan adek dulu, adek kan kepaksa pulang sama dia, maaf yaa?" Tanpa memperdulikan ucapan sang suami yang menyuruhnya unruk tidur Marbella tetap bergelanyut manja pada lengannya.
"Yaudah kalau mas gamau dengerin penjelasanku, aku yang balik ngambek sama mas, siapa suruh gak mau denger penjelasanku." Ucapnya lalu pergi dari ruangan itu, sambil menghentak-hentakan kakinya kasar lalu memabnting pintu ruang kerja Marbella
Sekarang Marbella berada dikamar, dia menjatuhkan tubuhnya dikasur dan menarik selimut hingga sebatas dada dan menelungkupkan wajahnya pada guling yang sedang dia peluk, hingga akhirnya dirinya merasakan rasa kantuk yang mulai menyerang
Pintu kamar yang tertutup itu terbuka, lalu suara langkah kaki yang tenang mulai terdengar di telinga Marbella, Marbella tak menghiraukannya karna tau itu pasti Raden.
Raden kemudian ikut berbaring di kasur kemudian tubuh Marbella ditarik masuk kedalam pelukannya, Raden mendekatkan wajahnya pada leher sang istri memberi kecupan dan sedikit gigitan di leher putih istri-nya hingga meninggalkan bekas keunguan
Marbella yang tadinya terserang kantuk merasa segar kembali, Marbella kemudian menggigit bibirnya menahan suara yang akan keluar, di lehernya nafas Raden sudah memberat. "Jangan buat saya cemburu lagi Bella." Ucapnya dengan suara yang sedikit serak
"Saya rindu kamu, boleh ya?"
---
Marbella terbangun dari tidurnya, ia merubah posisinya menjadi menyamping menghadap wajah Raden, lalu tanpa sadar memperhatikan wajah tampan sang suami.
"Udah puas liatin ketampanan saya?"
Seketika Marbella tersadar dari lamunanya. "Dih kepedean orang aku cuman liatin doang kok, gaada maksud apa apa" Ucap Marbella mengelak, padahal pipi sampai telinganya sudah memerah karna malu ketahuan mengagumi wajah sang suami
"Mas gak kerja? Ini kan hari senin?"
"Memangnya kamu mau ditinggalin dengan kaki yang gak bisa jalan? Lagi pula saya masih bisa mengerjakan pekerjaannya di ruang kerja, tak perlu repot-repot ke kantor."
Marbella diam kemudian menangguk pelan, tangan Raden yang sudah di pinggang Marbella kemudian menarik tubuh sang istri itu hingga menempel ke tubuhnya tanpa ada jarak.
Sangking dekat wajah mereka Marbella bisa merasakan nafas Raden yang panas itu menerpa wajahnya, Marbella kemudian semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Raden dan mencium rahang tegas sang suami.
"Jangan menggoda saya pagi-pagi begini."
"Tanpa di goda pun mas sudah tergoda, jadi yaa.. aku pancing dikit."
Hari sudah menjelang siang tapi matahari tak kunjung muncul, hanya ada awan-awan mendung yang menutupi langit yang cerah, hingga kemudian terdengar suara gemercik air dari luar.
Suasana dingin bagi sebagian orang, tapi tidak bagi pasutri yang sedang bermesraan di sofa panjang, mereka saling menghangatkan satu sama lain.
Marbella yang duduk di pangkuan Raden, dan Raden yang menyambut sang istri dengan senang hati merengkuhnya erat menciptakan pelukan yang hangat, hingga suasana dingin yang dirasakan orang-orang tak dirasakan mereka berdua.
Suara Televisi menggema di ruangan mereka berdua, mata Marbella yang fokus pada layar yang menampilkan kartun yang diminati banyak orang dari berbagai kalangan anak-anak bahkan remaja, tapi sayangnya tontonan itu tak menarik bagi Raden yang berumur 35 tahun, ia lebih memilih menikmati wajah sang istri sambil sesekali mencium pipi lembut-nya.
"Dua hari lagi Mas ke bandung, kamu mau ikut?" Nah.. mendengar Raden yang sudah kembali memanggil dirinya dengan 'mas' bukan 'saya' artinya Raden sudah tak marah kembali, dan jika Marbella, ada saat dimana Raden juga memanggil dirinya dengan 'saya' seperti disaat percakapan serius atau bahkan agar Marbella menuruti perintahnya.
Marbella menoleh pada Raden yang sedang memandanginya juga "Kayaknya aku gak ikut, ada jadwal kuliah juga, lagian aku udah 21 tahun loh mas. Aku bisa jaga diri sendiri dirumah."
"Saya gak percaya, orang kamu kalau lagi mati lampu aja suka ketakutan nyari-nyari mas, itu yang dinamakan bisa jaga diri sendiri? Saya sudah hubungin ibu kalau kamu tinggal disana sampai saya jemput kamu." Ucapnya dengan nada tegas yang berarti tak menerima penolakan.
'Cup'
Sebuah ciuman lembut Raden berikan pada bibir sang istri, tak ada nafsu hanya ciuman kasih sayang yang Raden berikan disana. "Saya suami kamu yang berarti saya kepala keluarga disini, saya berhak memutuskan apapun, jadi jangan protes. Kata-kata rayuanmu tak mempan untuk saya jika ini menyangkut keamanan kamu sendiri."
"Mas.. aku gak deket loh sama ibu atau sama keluargamu yang lain."
"Dekat gak dekat kamu harus tinggal disana, lagian jarak dari kampus lebih dekat sama rumah ibu dari pada rumah kita, saya janji gak akan ada hal-hal buruk yang terjadi di sana, saya sudah pastikan itu sebelum kamu menempati rumahnya."
Bukannya tak mau, Marbella itu tak dekat dengan sang mertua, apalagi dengan adik-adik Raden, Raden itu 3 bersaudara dan dia yang paling tua, sementara adik pertama Raden itu laki-laki, dan adik keduanya itu perempuan.
"Yaudah, tapi mas pokoknya harus sering ngabarin aku, temenin aku sampe tidur. Selama di bandung mata-nya dijaga, jangan jelalatan apalagi kalau sampe lihatin perempuan cantik diluar sana, aku bakal tanya sama Zack kegiatan kamu selama disana."
"Saya kesana gak bakal sama Zack, dia ngurus perusahaan disini, saya sama Laras, kamu tahu Laras kan? Kamu pasti suka ngobrol sama dia setiap kali kamu ngunjungin saya ke kantor."
"Lagi pula mana mungkin saya lihatin perempuan diluaran sana sementara di mata saya hanya kamu perempuan tercantik dan sempurna bagi saya."
Hening sebentar kemudian Raden melanjutkan kata-katanya. "Jangan anggap cinta saya sekecil itu, bukan hanya cinta, saya sudah tahap menyayangi kamu, bahkan membentak kamu pun saya tak kuat karna apa? Sangking sayangnya saya pada kamu saya tak kuat jika wajah kamu ini memgeluarkan air mata, apalagi kalau air mata itu jatuh karna saya." -------------------------------------------------------
1093 kata, semogaa sukaa, btw kalau ada yang udah baca dan kalian baca ulang dan kalian melihat ada yang berbeda ini berarti udah di revisi