🐻-One-🦋

1.2K 110 5
                                        

Di bawah hujan yang mengguyur kota Seoul, seorang wanita dengan masker dan kacamata hitam melihat ke sekitar tempat. Di rasa aman ia mulai melangkah membawa sebuah selimut yang terdapat bayi di dadanya. Saat tiba di sebuah tempat pembuangan sampah terbesar di seoul, ia menghela nafas kasar. Dengan perlahan ia mulai menaruh bayi kecil di tempat tersebut, wajahnya menahan sedih namun ia menepis nya.

"Kamu seharusnya memang tidak terlahir," Menghela nafas berat. "Aku harap kamu cepat mati, agar tidak menjadi malapetaka untuk hidupku."

Seolah mengerti bahwa sang ibu akan meninggalkan nya, bayi tersebut menangis kencang. Melihat bayinya yang menangis, membuat hati wanita itu bergetar tapi ia tahu ini konsekuensi yang harus ia hadapi.

"Tempat mu memang seharusnya di sini, di tempat sampah." Seusai mengucapkan itu, ia pergi tanpa memperdulikan tangisan sang anak.

Katakan saja mulutnya memang kejam, telah mengatakan hal itu kepada bayi kecil yang tidak tahu apa-apa, tapi hatinya merasa bersalah, sedih, dan takut. Karena ketakutannya yang besar ia terpaksa membuangnya.

"Aku sangat menyayangi mu, tapi aku belum bisa menerima mu..." Bisiknya.

Hujan turun semakin deras, tidak ada yang tahu keberadaan bayi kecil yang tidak bersalah ada di pembuangan, bayi itu semakin menggigil kedinginan. Tangisnnya kencang, tubuh kecil itu hampir terendam air, air hujan yang perlahan semakin menumpuk di keranjang bayi kecil.

Hari semakin malam, hujan turun semakin deras bayi kecil itu sudah tenggelam di antara air hujan, tangisnya tidak terdengar lagi. Tapi diantara jutaan manusia, ada seorang perempuan muda yang menatap marah pada dunia, ia berteriak memaki-maki semuanya.

Entah apa yang terjadi, sampai ia memutuskan untuk ketempat pembuangan sampah. Dibandingkan ke apartemen, atau ke cafe. Ia juga bingung, saat menendang keranjang yang ada tepat di sisinya. Ia terkejut terdapat bayi kecil yang terlihat sudah pucat pasi, dengan gemetar ia membawa bayi kecil itu ke dalam mobil nya.

"Ya Tuhan." Gumamnya tidak menyangka.

Dengan tangan gemeter ia mencoba memberikan nafas buatan, menepuk-nepuk punggung bayi itu. Mencoba membangunkan bayi nya, tapi hasilnya nihil, tidak ada suara tidak ada tangisan.

Panik menyerang, ia terus melakukan pertolongan pertama. Karena lokasi pembuangan sampah ke rumah sakit begitu jauh bisa membutuhkan waktu sekitar satu jam lebih.

"Ya Tuhan, ku mohon..." Lirih nya sekali lagi menepuk kasar pundak bayi itu agar menangis.

Tidak berselang lama, bayi itu menangis kencang. Menghela nafas lega. Perempuan cantik itu langsung saja membuka semua pakaian bayi nya yang basah, dan mengganti nya dengan sebuah selimut yang memang selalu ia bawa.

Memeluknya pelan, ia berucap. "Aku tidak tahu, kenapa aku Sangat takut saat tubuhmu tidak bergerak."

Melihat bayi tersebut tenang, ia menaruhnya di jok mobil sampingnya. Setelah di rasa cukup membuat bayi kecil itu nyaman, ia perlahan mulai menjalankan mobilnya ke arah apartemen miliknya.

Saat sampai ia sedikit melihat sekitar, sebelum membawa bayi kecil itu keluar. Di rasa cukup aman ia berlari kecil ke arah lobi, dan saat tiba di lift ia menghela nafas saat melihat suasana sudah sepi.

Tanpa di ketahui nya seseorang menatapnya sinis, tapi wajahnya menunjukkan sebuah kemenangan.

"Lihat saja kamu jennie, karir mu akan hancur setelah ini." Ucapnya lalu pergi setelah mengambil beberapa foto perempuan tersebut.

Lift berhenti di lantai ketiga, ia segera keluar dan masuk ke apartemen nya. Saat sudah sampai, ia duduk sebentar di sofa.

Mengelus pelan punggung kecil bayi nya. "Aku tidak tahu harus apa?" Monolog nya.

"Apa aku lapor saja ke polisi?" Pikirnya lagi.

Mengangkat bahu acuh ia membawa bayi kecil itu ke kamarnya, dengan telaten ia menaruh bayi tersebut di kasurnya. Membuka semua lemarinya. Ia menghela nafas panjang. "Aku tidak punya pakaian bayi ternyata. Tapi kan aku memang tidak punya bayi, bagaimana aku punya pakaian nya. Hais jennie kau ini sangat bodoh." Gerutunya kesal.

Ia melirik jam tangannya, waktu menunjukkan pukul 23.00 pm sudah sangat malam, ia tidak mungkin juga membiarkan bayi itu tanpa pakaian. Mengambil bajunya, ia memakaikannya pada bayi kecil itu. Walau sangat kebesaran tidak apa-apa, daripada kedinginan. Ia pun menyelimuti bayi kecil itu, dan ikut tidur di sampingnya.

"Jahat sekali orang tuamu, bisa-bisanya membuang bayi selucu dan menggemaskan sepertimu." Ucapnya sambil menoel-noel pipi chubby milik bayi kecilnya.

"Kalau ku serahkan ke polisi nanti yang ada kamu di oper-oper ke tangan yang lain lagi. Terus aku kena skandal, sebenernya sih aku sudah kena skandal gara-gara fitnah itu." Lanjutnya mulai bercerita masalah yang di alaminya.

"Tapi kalau kamu sama aku siapa yang ngurus kamu, aku aja gak pernah mengurus bayi. Jangan kan mengurus punya bayi aja engga." Kekeh nya di akhir.

"Ku pikirkan besok aja deh, sekarang kita tidur dulu." Ucapnya mengakhiri pembicaraan nya dengan bayi yang sudah pulas pergi ke alam mimpi.

_______________________________

Yuhu author buat cerita baru lagi, alurnya mungkin akan lebih rumit dari cerita author yang sebelum-sebelumnya. Kisahnya tetap sama tentang ibu dan anak, peran utamanya tetap mbak jennie dan neng ahyeon hehehe.

Pasti banyak yang tanya "thor, kok Suka bgt buat cerita ibu dan anak? Apalagi pu nya jenyeon?"

Author jawab ya, jujur author suka bgt sama jennie dan ahyeon mereka berdua bias author. Trs kenapa author buat cerita ibu anak trs, karena author Suka aja. Ga ada alasan relevan sih hehehe.

Ga rame? Unpublished!!

Up sesuai mood!!

Vote and comment okay!!

I Love You Eomma Where stories live. Discover now