Noted: Cerita ini hanya fiksi. Tidak ada sangkut pautnya dengan sejarah asli. Selamat membaca •••
+++
Panas terik terasa membakar kulitku yang hanya tertutup kain lusuh tipis. Saat ini sudah memasuki pertengahan musim panas, dan aku memperkirakan suhu udara telah menginjak 40 derajat Celsius. Gunung-gunung dengan hutan lebat yang membentang mengelilingi kota, seakan tidak memberikan pengaruh apapun.
Aku menunduk menahan perih di wajahku. Mata kiriku bengkak, sudut bibirku pecah, dan anyir darah terus menguasai indra pengecap ku sejak kemarin malam. Kedua tanganku diikat di depan menggunakan tali rami kasar. Sementara dua pria berbadan besar menggenggam erat pergelangan tanganku dan memaksaku berjalan mengikuti mereka.
"Tanggalkan pakaianmu!" Titah panglima.
Aku mendongkak menatapnya. Pria paruh baya yang memiliki rahang tegas itu adalah atasanku. Aku mengenalnya dengan baik. Kami pernah menjadi anggota tim yang saling menguntungkan. Aku bahkan sudah menganggapnya seperti ayahku sendiri. Namun, sepertinya perasaanku tak berbalas, terbukti dengan wajahnya yang tetap datar di hari penghakiman ku.
"Cepat!"
Aku tak bergeming. Sebuah ingatan justru melintas di benakku. Dua hari lalu, ketika akhirnya aku berhasil dilumpuhkan, panglima lah yang pertama menjengukku di penjara.
Saat itu, wajahku lebih berantakan. Bogem mentah terus di luncurkan ke arahku oleh dua raksasa yang kini berdiri di kiri dan kananku. Tidak hanya di pukuli, aku juga diinjak dengan keras seakan kesalahanku tak terampuni. Mungkin memang benar, karena panglima turut datang dengan wajah penuh kekecewaan.
Aku tak pernah bisa melupakan ucapan serta raut wajah sedihnya kala itu.
"Theodore, kenapa kamu melakukannya?"
Aku tidak menjawab. Bibirku sudah terlalu bengkak dan perih untuk digerakkan.
"Theodore..."
Meskipun begitu, rasanya senang ada yang memanggil nama asliku lagi, setelah sekian lama menggunakan nama samaran. Theodore. Terasa kian spesial karena panglima yang pertama kali memanggilnya.
"Kamu, adalah prajurit terbaik Kerajaan Arcne, sampai kapanpun... tidak akan pernah ada yang bisa menggantikanmu!"
Panglima pergi begitu saja.
Aku mulai menyesali tidak memaksakan diri untuk menyahutnya saat itu. Seharusnya, kami bisa berbincang lebih lama meski harus terhalang jeruji besi. Aku sangat penasaran dengan tanggapannya mengenai diriku. Apakah dia sedih dengan penghakimanku, atau justru ikut senang karena penghianat negara sepertiku akan segera dihukum mati?
"Lepas ikatannya!" Panglima memerintah dua raksasa di sebelahku.
Mereka pun mulai melepas tali rami yang diikat sangat kencang di pergelangan tanganku, meninggalkan rona merah melingkar dan beberapa bagian kulit yang terkelupas. Perihnya sampai ke ubun-ubun. Tapi, aku tak diberi banyak waktu untuk meredam semua perasaan tidak nyaman itu.
Tanpa belas kasih, panglima merobek baju lusuh yang aku kenakan. Panas terik sontak terasa membakar kulit punggungku. Tanganku ditarik, lalu diikat pada tiang besi, tubuhku yang separuh telanjang tidak bisa bergerak dan mulai dipenuhi bulir keringat.
Aku sempat menoleh ke kerumunan penonton yang terus berdatangan memenuhi aula. Menggertakan gigi menahan amarah karena dipermalukan seperti ini. Menyebalkan. Semua orang akan mengingat wajahku yang tampan sebagai pengkhianat negara.
"Beri penghormatan kepada Raja Garsang!" Teriak panglima. Semua orang menoleh ke singgasana. Bisik-bisik yang semula menguar, berganti hening singkat. Semua orang menunduk dengan hikmat, sejalan dengan raja Garsang duduk di singgasananya.
Rahangku mengeras, mendapati tempatku dipasung berhadap-hadapan dengan singgasana raja Garsang. Memuakkan sekali jika harus melihat wajah buruknya sampai aku mati, hanya memikirkannya saja sudah membuatku ingin muntah.
Pemandangan di sekitarku tidak kalah membuat darah mendidih. Sebagian besar dari warga menatapku sinis, beberapa yang lain tampak penasaran, sementara sisanya hanya ingin memeriahkan suasana.
Aku melihat seorang wanita menggendong anaknya sedang menatap jijik ke arahku, mulutnya menggumamkan sesuatu. Mungkin, ia tengah meramalkan doa agar anaknya tidak tumbuh sepertiku. Garis bibirku terangkat naik, dalam hati menanam doa semoga anak keturunannya bisa merasakan penderitaan hidupku. Bukankah aku yang sedang dizalimi? Maka, doaku pasti akan menembus langit lebih dulu.
"Yang mulia, silahkan beri sambutan untuk membuka hukum cambuk siang hari ini."
Aku bisa mendengar penasihat raja yang terus berdiri di belakangnya seperti benalu membisikkan kalimat itu di telinga raja Garsang.
Sang raja berdiri. Memberi salam pada rakyatnya dengan senyum karier dan kewibawaan palsu.
"Theodore putra Tidore telah dijatuhi hukuman cambuk seratus kali karena dosanya pada negri ini!"
Suara sumbang raja Garsang membawa riuh redam penonton yang setuju dengan titahnya. Kebiasaan buruk para warga di negeri ini adalah mengikuti pemimpin tanpa menelaah lebih jauh. Mereka tidak peduli dengan kebenaran, dan selalu mengekor pada pemangku kuasa.
Aku mengepalkan jemariku kuat-kuat, menahan amarah agar tetap terkendali. Percuma saja aku berkilah, karena ikatan di tanganku terlalu kuat untuk dilepaskan.
"Kau sepatutnya bersyukur Theodore-" Raja Garsang menatapku, dan aku ingin sekali memelintir ujung kumisnya yang terangkat naik. "Di negeri manapun, penghianat tidak akan di hukum seringan ini!"
Para warga segera menimpali. "Oh raja agung Garsang, engkau memang pemimpin yang bijaksana!" puji-pujian mereka membuat telingaku panas.
"Jangan biarkan dia mati dengan mudah, Yang Mulia! Dia harus merasakan penderitaan dan mendambakan kematian!" Salah satu suara memekik datang dari tribun Utara.
Aku berdecih. Tidak cukup kah mempermalukan dan mencambuk ku seratus kali sebagai hukuman? Aku tidak mengerti, kenapa mereka masih belum puas hingga ingin mempersulit kematianku? Perutku melilit, membayangkan penderitaan apalagi yang harus aku terima selanjutnya.
~Bersambung~
Haii Teman-teman 👋🏻
Gimana kabarnya? Semoga selalu sehat dan bahagia yaa 💕
Kali ini aku datang lagi dengan cerita baru yang cukup anti mainstream🙈
Aku sengaja pengen eksplore banyak genre. Salah satunya cerita ini...
Harapannya, The Last Oath bisa aku tulis sampe tamat. Mohon dukungannya ya teman-teman. Semoga cerita ini bisa menghibur kalian. See ya ☺️
VOCÊ ESTÁ LENDO
The Last Oath
Ficção HistóricaTheodore mengira cambuk seratus kali adalah siksaan paling mematikan. Namun ternyata yang paling melukai dirinya adalah berpisah dengan Zahran. Di saat Theodore hampir menyerah, Zahran justru memilih melawan rasa takutnya, datang ke tempat eksekusi...
