---
Laut tidak pernah memilih untuk menjadi badai. Ia hanya laut, yang sejak kecil dipaksa menerima gelombang yang terlalu besar. Gelombang itu datang dari teriakan orang tua yang bertengkar, dari rasa kehilangan kasih sayang, dari sepi yang menua dalam kamarnya. Kini, saat ia dewasa, gelombang itu menjelma obat-obatan kecil yang harus ia telan setiap hari, agar dirinya tetap bisa bertahan.
Dan di tengah gelombang itu, takdir mempertemukannya dengan seorang laki-laki bernama Langit Biru Navendra. Lelaki yang seolah memiliki langit teduh untuk menenangkan laut, namun juga menyimpan badai dalam dirinya sendiri.
---
Ada kalanya takdir mempertemukan dua jiwa yang retak, bukan untuk langsung menyatukan mereka, tetapi untuk mengajarkan arti menyembuhkan.
Bagi Laut Ranna Jingga, hidup selalu berputar di antara luka rumah tangga orang tuanya yang hancur—ayah yang pergi, ibu yang larut dalam keputusasaan, dan dirinya yang tumbuh dengan rasa tidak pernah cukup.
Bagi Langit Biru Navendra, hidup seolah sempurna—keluarga hangat, kasih sayang lengkap, kecerdasan, hingga kepribadian yang memikat. Namun, di balik senyumnya, ada trauma yang tak pernah hilang: suara rem mobil yang melengking, teriakan sahabatnya Devandra yang tak sempat ia selamatkan, dan rasa bersalah yang terus menggerogoti.
Mereka bertemu seperti serpihan teori benang merah Jepang—dua orang yang seakan memang ditakdirkan untuk bersinggungan, meski jalan mereka berliku dan berdarah-darah.
---
Laut selalu duduk di pojok kelas psikologi klinisnya, seolah ingin berbaur namun tak ingin benar-benar terlihat. Ia perempuan yang penuh dengan senyum tipis, tapi matanya selalu menyimpan riak resah.
Langit masuk ke kelas dengan aura tenang—karismatik, pintar, dan semua orang suka. Namun, Laut menyadari sesuatu di balik tatapan mata itu: ada bayangan, ada sesuatu yang berusaha ia sembunyikan.
Pertemuan pertama mereka sederhana:
Laut menjatuhkan bukunya. Langit memungutkannya. Jari mereka bersentuhan sepersekian detik, tapi cukup untuk membuat Laut merasa... aneh. Bukan jatuh cinta, lebih seperti merasa tersambung.
---
Hari-hari berikutnya, keduanya semakin sering dipertemukan—di kelas, di perpustakaan, bahkan di halte bus yang sama. Laut mulai menganggapnya kebetulan, tapi entah kenapa hatinya berbisik lain: ada sesuatu di luar logika.
Langit, meski menutup diri, merasakan hal serupa. Laut bukan sekadar teman sekelas baginya, tapi seseorang yang tatapannya mampu menembus dinding yang ia bangun. Namun, setiap kali mulai nyaman, bayangan Devandra muncul, suara dentuman mobil itu kembali menghantui.
--
Suatu malam, Laut tak sengaja menemukan Langit duduk sendiri di kampus yang sepi. Bahunya gemetar, napasnya tersengal, dan tatapannya kosong.
“Langit…” panggil Laut lirih.
Namun Langit seperti tak mendengar. Ia terjebak dalam serangan panik, kembali ke hari kecelakaan itu.
Laut mendekat, meski takut salah langkah. Ia hanya duduk di sampingnya, tidak menyentuh, tidak berbicara banyak. Hanya menemani dalam diam.
Sejak malam itu, keduanya semakin dekat. Tapi kedekatan itu justru membuka luka lama masing-masing.
---
Langit akhirnya tahu tentang masa lalu Laut—ibunya yang sering melampiaskan emosi, ayahnya yang meninggalkan mereka tanpa jejak. Itu membuat Laut selalu merasa tidak pantas dicintai.
Sementara Laut menyadari, PTSD Langit bukan hanya tentang kehilangan Devandra, tapi tentang rasa bersalah yang tak pernah ia bisa ampuni.
Mereka jatuh hati—perlahan, ragu, tapi nyata. Namun setiap kali hendak melangkah lebih jauh, trauma masa lalu selalu menarik mereka mundur kembali. Laut takut ia hanya akan menambah luka baru bagi Langit. Dan Langit takut ia hanya akan menyeret Laut ke dalam pusaran rasa sakitnya.
---
Hubungan mereka diuji. Laut mulai menjauh, merasa ia harus sembuh dulu sebelum bisa benar-benar mencintai. Langit pun ragu, apakah mencintai berarti menyembuhkan, atau menyembuhkan berarti melepaskan?
Ada momen di mana keduanya ingin menyerah. Namun teori benang merah selalu membawa mereka kembali bertemu, lagi dan lagidi momen-momen yang bahkan tak mereka rencanakan.
---
Mereka akhirnya sampai pada sebuah titik:
“Laut, mungkin kita memang ditakdirkan bertemu bukan untuk langsung bahagia bersama, tapi untuk mengajarkan satu sama lain cara bertahan,” kata Langit dengan suara bergetar.
Laut menatapnya, menahan air mata. “Mungkin benar. Tapi aku percaya… entah kapan, entah di mana kita akan bersama.”
Apakah mereka berakhir bersama?
Karena kebahagiaan sejati mungkin bukan tentang langsung menyatu, tapi tentang dua jiwa yang berani menyembuhkan diri—agar ketika waktunya tiba, mereka bisa bahagia tanpa lagi terikat oleh luka.
---
✨ 🫶
---
🌊☁️
"Aku masih penuh badai,
tapi aku bisa mencintai."
— Laut
"Aku masih hidup dengan trauma,
tapi aku berhak bahagia."
— Langit
Dan di antara luka itu,
mereka menemukan satu hal yang sama:
bahwa rapuh pun tetap bisa saling menggenggam.
---
Laut menulis:
Aku sering bertanya, kenapa harus aku yang menanggung luka ini?
Malam-malam penuh teriakan, rasa takut yang tak pernah pergi, dan pil kecil yang selalu menemaniku. Kadang aku benci harus bergantung padanya. Kadang aku merasa lemah. Tapi aku tetap menelan obat itu, karena aku tahu—aku masih ingin bertahan.
Langit menulis:
Aku juga sering bertanya, kenapa harus aku yang selamat?
Dentuman besi, jeritan yang masih terdengar di kepalaku, dan nama Devandra yang tak pernah benar-benar hilang. Kadang aku berharap aku yang pergi malam itu. Kadang aku merasa hidupku hanyalah hutang yang tak bisa kulunasi.
Laut menulis:
Sampai aku bertemu dia. Dia tidak mencoba menyembuhkan, tidak memaksaku berhenti menangis. Dia hanya ada, duduk di sampingku, mendengarkan tanpa menghakimi. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa tidak sendirian.
Langit menulis:
Sampai aku bertemu dia. Dia tidak menyuruhku melupakan, tidak menyalahkanku karena masih terjebak masa lalu. Dia hanya menatapku, seolah berkata: “Kamu boleh diam, kamu boleh runtuh, aku tetap ada.” Dan untuk pertama kalinya, aku merasa tidak hampa.
Laut menulis:
Aku masih penuh badai, tapi aku mulai percaya… aku masih bisa mencintai, meski aku penuh luka.
Langit menulis:
Aku masih dihantui trauma, tapi aku mulai percaya… aku berhak bahagia, meski luka ini belum pergi.
Dan di tengah jarak yang tak pernah mereka sadari, tulisan mereka seakan bersatu.
Seolah dua jiwa yang rapuh saling berbisik lewat kata-kata.
Seolah Laut dan Langit dipertemukan bukan hanya oleh waktu, tapi oleh luka yang perlahan menemukan tempat untuk tenang.
---
CERITA INI HANYA FIKTIF BELAKA,
JIKA ADA KESAMAAN KISAH MUNGKIN HANYA KEBETULAN SEMATA.
BERISI KONTEN TRAUMA.
BACALAH DENGAN PIKIRAN YANG TENANG.
Jangan lupa...
Like, comment dan vote 🫶🫶
Cerita ini dibuat atas inspirasi penulis,
Dari isi kepala nya yang kadang riuh dengan cerita tentang banyak manusia
Yang butuhkan tenang.
YOU ARE READING
Laut, Dan Gelombang Badainya.
Teen Fiction............ Sinopsis Laut Ranna Jingga tumbuh dalam keluarga yang retak, dengan luka-luka batin yang tak pernah benar-benar sembuh. Obat antidepresan menjadi teman hariannya, sementara ia berusaha meyakinkan diri bahwa hidup masih pantas dijalani. ...
