Suasana di Hogwarts mulai membaik seiring berjalannya waktu. Perang telah usai, hanya meninggalkan sisa puing reruntuhan yang akan segera diperbaiki. Dinding-dinding yang hancur perlahan diperbaiki, jendela-jendela diganti, bahkan taman yang rusak mulai ditanami bunga kembali. Semuanya terlihat seperti akan kembali normal, tetapi hati banyak orang tidak semudah itu pulih. Tak ada sihir yang cukup kuat untuk mengembalikan nyawa-nyawa yang telah hilang.
George Weasley, misalnya. Ia tak lagi mampu mengeluarkan Patronus, seolah semua kebahagiaan dalam dirinya ikut terkubur bersama Fred. Senyumnya jarang terlihat, dan setiap kali ia melewati toko lelucon yang dulu mereka jalankan bersama, matanya selalu terlihat basah.
Di sisi lain, ada Teddy Lupin, bayi kecil yang menjadi yatim piatu di malam kemenangan. Remus dan Tonks pergi bersama, meninggalkan dunia ini dengan bergandengan tangan, meninggalkan seorang bayi yang bahkan belum bisa mengingat wajah kedua orang tuanya. Keluarga Weasley kini merawatnya, tentu saja, karena tidak ada yang tega membiarkan bayi itu masuk ke panti asuhan.
Dan di sinilah pahlawan dunia sihir terduduk, di tepi Danau Hitam, ditemani keheningan yang terlalu panjang. Harry menatap permukaan air yang memantulkan langit senja, matanya kosong. Air danau tampak begitu tenang, tapi di dalam dirinya badai belum juga reda. Rasanya semua beban dunia menumpuk di bahunya.
Nama-nama mereka berputar-putar di kepalanya-Dumbledore, Sirius, Dobby, Fred, Remus, Dora, Cedric, Snape, Mad-Eye, Hedwig. Terlalu banyak yang pergi. Terlalu banyak pengorbanan. Dan untuk apa? Agar ia bisa duduk di sini, sendirian, memikirkan bagaimana dunia memujanya seolah-olah kemenangan itu layak dirayakan.
Matahari mulai turun, meninggalkan warna keemasan di cakrawala. Harry menghela napas panjang. Ia tahu ia harus kembali ke kastil sebelum gelap sepenuhnya. Dengan enggan ia berdiri, langkahnya berat seolah setiap batu di sepanjang jalan menahannya.
Ia menelusuri koridor panjang Hogwarts dengan pikiran melayang entah ke mana. Bayangan Fred terbaring di aula besar, tawa Sirius yang masih terdengar samar, bahkan tatapan kecewa Snape sebelum ia menghembuskan napas terakhir, semuanya terasa menghantuinya.
Tiba-tiba, suara langkah lain terdengar dari belakang. Langkah santai, seperti seseorang yang sengaja memperlambat jalannya. Aroma parfum mahal menyusup ke hidung Harry. Tidak perlu melihat untuk tahu siapa itu.
Malfoy.
Harry menggertakkan gigi. Ia tidak sedang ingin menghadapi Malfoy malam ini. Tapi langkah itu terus mendekat hingga akhirnya sebuah suara terdengar, datar tapi penuh sindiran.
"Pahlawan kita terlihat menyedihkan malam ini."
Harry tidak langsung menoleh. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan diri. "Apa yang kau mau, Malfoy?" suaranya dingin.
Malfoy berdiri beberapa meter darinya, wajahnya seperti biasa, pucat, angkuh, dengan senyum sinis yang begitu familiar. "Hanya mengamati. Kau kelihatan seperti orang yang hampir menangis."
Harry mengepalkan tangan. Ucapan itu seperti pancingan. Ia sudah cukup lama menahan emosi, dan kata-kata Malfoy membuatnya semakin panas.
"Kau selalu seperti itu, ya? Menjatuhkan orang lain supaya kau merasa lebih baik?"
Alis Malfoy terangkat sedikit, senyumnya melebar. "Kau marah hanya karena aku mengatakan yang sebenarnya? Pahlawan dunia sihir ternyata tidak sekuat yang semua orang kira."
Harry berbalik, mata hijaunya berkilat. "Jaga bicaramu."
Malfoy mendekat satu langkah. "Atau apa? Kau akan melemparkan kutukan padaku? Itu akan terlihat bagus di surat kabar. 'Harry Potter menyerang murid tak bersalah.'"
YOU ARE READING
He Hit Me but It Felt Like a Kiss
RomanceThe unspoken word, the stolen glances, the denial, the silent jealousy, the waiting, the yearning, and the feelings no one dares admit. -- Lalu ketika ia berbaring di tempat tidur, Harry tahu ia tidak akan bisa tidur dengan mudah. Bayangan mata kel...
