𝐏𝐑𝐎𝐋𝐎𝐆

1.7K 146 22
                                        

Angin sore di itu berhembus dengan tenang. Semua mahasiswa/i jurusan teknik di kumpulkan di lapangan untuk pengumuman penting.

Yang Bowen.

Salah satu siswa jurusan teknik-ikut berbaris di barisan yang paling belakang.

Dia cukup introvert untuk berbaris di barisan depan, jadi dia memilih berbaris dibagian belakang.

Bowen awalnya hanya diam, matanya melihat sekeliling-menunggu yang lain untuk berbaris. Hingga, seseorang menyenggol lengannya pelan.

"Aku sudah menebak jika kamu akan berbaris di barisan belakang." ucap seseorang.

Bowen menoleh, lalu tersenyum tipis.

"Kamu tahu jika aku tidak suka berbaris di depan." balasnya pada sahabat baiknya sedari SMP-Yang Hanbo.

"Aku tahu," jawab Hanbo, mengangguk. "Maka dari itu aku ikut berbaris di belakang."

Hanbo sedikit mendekat, lalu berbisik pelan.
"Aku tidak mau kamu merasa sendiri."

Bowen tertawa kecil. Sahabatnya ini memang sangat mengerti tentang dirinya.

Bowen yang tadinya asik bercanda dengan Hanbo, tiba-tiba langsung diam saat seseorang ikut berbaris di samping kirinya.

Sungguh-kenapa dia harus berdiri sampingnya. Bukankah masih banyak tempat di depan?

"Hai, little sheep!" sapanya dengan senyuman yang entah kenapa selalu terlihat mengjengkelkan di mata Bowen.

"Hm."

"Kenapa kamu begitu cuek? Aku menyapa dirimu dengan sopan sore ini."

Bowen menoleh kesamping kiri.
Menatap Qihan sambil menyipitkan matanya.

"Hanya sore ini." katanya. "Tadi pagi?"

Qihan hanya cengegesan kecil sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

"Apakah pundakmu sesakit itu saat aku memukulnya?"

Bowen berdecak pinggang.

"Tidak. Tapi kamu tidak sopan. Aku tahu aku hanya pihak menerima, tapi kamu seharusnya juga tau sopan santun."

"Baiklah, baiklah. Aku yang salah."

Qihan menunduk, tapi diam-diam dia tersenyum melihat wajah kesal Bowen yang entah kenapa terlihat begitu lucu dimatanya.

"Ini kali pertama aku melihat malah alpha yang tergila-gila dengan omega." celetuk Yiheng yang memandang sinis Qihan.

Qihan langsung mengambil posisi tegap. Matanya langsung menatap lurus kkedepa-tajam.
Wajahnya langsung terlihat dingin.

Bowen yang berdiri di sampingnya menatap heran.

'Mudah sekali dia merubah ekspresi.'

"Dengarkan semua! Saya kumpulkan di lapangan karena ada beberapa informasi yang akan saya sampaikan pada sore hari ini kepada kalian semua."

Semuanya langsung diam. Berdiri tegak tanpa menoleh sedikitpun.

Dosen tersebut kembali berbicara.

"Kami mengusulkan kepada kalian untuk tinggal di asrama yang sudah di siapkan. Jadi, tidak ada alasan lagi bagi kalian untuk terlambat masuk ke kelas."

Semuanya mulai berbisik-bisik. Ada yang merasa senang, ada juga yang mengeluh. Tapi keputusan sudah bulat, dan berlaku untuk semua mahasiswa/mahasiswi jurusan teknik.

"Semoga kita jadi roommate!" bisik Hanbo pada Bowen.

Bowen mengangguk.
"Sudah pasti di tentukan dengan adil. Karena sangat tidak mungkin jika alpha dan omega disatukan, bukan?"

BLUE LEGO [ ✔ ]Stories to obsess over. Discover now