Jam Empat

7 2 0
                                        


Jam dinding sekolah menunjuk pukul empat sore ketika bel pulang berbunyi. Langit di luar mulai berwarna jingga pucat, tanda matahari bersiap tenggelam. Di halaman sekolah yang mulai sepi, langkah-langkah kaki para siswa berbaur dengan suara tawa riang, tapi satu langkah terdengar berbeda: berat, lambat, seperti menahan sesuatu. Itu langkah milik Finas.

Sudah berbulan-bulan ia terbiasa berjalan dengan tubuh sedikit menunduk, menghindari kontak mata dengan siapapun. Bukan karena ia pemalu, tapi karena di ujung gerbang, sekelompok siswa laki-laki selalu menunggu. Mereka bukan sahabatnya. Mereka adalah penguasa kecil sekolah, yang menjadikan Finas sebagai bahan permainan.

"Nas, bawa tas gue!" salah satu dari mereka-Raka, si pemimpin kelompok-menghentikan langkahnya.
Tanpa berani menolak, Finas mengambil tas itu. Berat, penuh buku, tapi ia tetap menggendong di bahunya yang kurus. Diikuti tawa kecil yang lain, mereka berjalan keluar gerbang seolah Finas hanyalah pelayan.

Hari-hari Finas memang selalu begitu. Menjadi kacung. Disuruh fotokopi, disuruh jajan, disuruh mengerjakan PR. Kadang, kalau ada yang tidak beres, tangannya menerima tamparan, atau tubuhnya ditendang di lorong sekolah. Guru tidak pernah tahu, atau pura-pura tidak mau tahu. Finas menelan semua itu dalam diam. Ia hanya anak biasa, bukan siapa-siapa.

Tapi sore ini berbeda. Entah karena rasa lelah yang menumpuk, atau karena matahari jingga yang entah kenapa terasa muram, hati Finas memberontak. Ia ingin bebas. Ia tidak mau lagi pulang dengan tubuh penuh luka.

Di gang sempit yang sepi, jauh dari keramaian jalan raya, kelompok itu berhenti. Gang itu terkenal tidak ada CCTV, bahkan lampunya pun remang. Tempat sempurna untuk menindas seseorang tanpa jejak.

"Cepet keluarin duit lo, Nas. Buat beli rokok," kata Raka sambil menepuk-nepuk pipinya pelan.
Finas menggenggam uang sakunya erat. Itu uang untuk ongkos pulang, bukan untuk mereka. Kali ini ia menggeleng.

"Apa?" alis Raka terangkat. "Lo berani nolak?"
Teman-temannya mulai menutup jalan keluar, membentuk lingkaran.

Finas menelan ludah. Napasnya tercekat, tapi dari bibirnya keluar suara pelan, "Aku capek."

Tawa meledak dari mulut mereka. "Hahaha! Denger tuh! Si kacung capek!"
"Yaelah Nas, lo pikir lo bisa bebas dari kita?"

Namun kali ini, Finas tak diam. Ia mendorong dada salah satu dari mereka, membuat lingkaran itu goyah. Tangannya gemetar, tapi matanya menatap berani.

Keributan pun pecah. Tangan-tangan menghantam tubuhnya, meninju, menendang. Finas melawan sebisanya, membalas pukulan dengan tenaga seadanya. Suara napas mereka terengah, debu beterbangan di jalan gang. Sesaat, Finas merasa ia benar-benar bisa melawan. Ada api kecil yang menyala dalam dirinya.

Namun api itu padam seketika ketika terasa dingin menusuk perutnya. Seseorang-entah siapa-menghunuskan benda tajam. Finas terdiam, tubuhnya kaku. Ia menunduk, melihat darah mulai membasahi seragam putihnya.

"Goblok! Lo nusuk beneran?!" suara panik pecah dari mulut salah satu teman Raka.
"Kabur! Jangan sampe ketahuan!"
Tanpa pikir panjang, mereka berlari meninggalkan Finas yang ambruk ke tanah.

Rasa perih menjalar ke seluruh tubuhnya, membuat napas tersengal. Pandangannya kabur. Jalan gang yang sunyi kini seperti berputar, langit senja berubah gelap lebih cepat dari seharusnya. Finas ingin berteriak, tapi suaranya tercekat.

Dalam detik-detik sekarat itu, ada sesuatu yang aneh. Dari sudut matanya, bayangan gelap merayap di tembok gang. Seperti asap pekat, tapi bergerak hidup. Bayangan itu mendekat, lalu membentuk wujud samar-samar: sosok tinggi dengan mata merah membara.

"Anak manusia..." suara berat bergema, entah dari luar atau dalam kepalanya. "Kemarahanmu memanggilku."

Tangan Finas yang terkulai tiba-tiba bergerak sendiri. Jemarinya kaku, lalu bergetar seperti ditarik benang tak kasat mata. Darah yang mengalir dari lukanya seolah tertarik, bukan lagi melemahkan, tapi menjadi bahan bakar. Tubuhnya menggigil, lalu perlahan rasa sakit itu mereda, diganti panas membakar dari dalam.

Matanya terbuka kembali. Pandangan yang tadinya kabur kini tajam, memantulkan cahaya merah samar. Bibirnya bergerak, meski ia sendiri tidak yakin kata-kata itu keluar dari kesadarannya. "Aku... belum selesai."

Sosok gelap itu lenyap masuk ke dalam tubuhnya. Nafas Finas kembali, meski tersengal. Luka di perutnya masih menganga, tapi ia bisa berdiri. Di tangannya, darah menetes, tapi langkahnya mantap.

Senja sudah hampir habis, tapi bagi Finas, dunia baru saja dimulai.

***

nothing interest !

BURNING SOULDonde viven las historias. Descúbrelo ahora