Di ujung jalan setapak, embun masih menggantung di udara. Kabut tipis merayap di antara pohon-pohon kopi yang menjulang, memeluk lereng Gunung Ungaran yang dingin. Matahari baru menampakan berkas sinarnya yang tak terhalang pepohonan. Burung-burung pun masih malu-malu untuk berkicau.
Di keheningan yang menusuk tulang itu, Asih, seorang perempuan pemetik kopi yang terkenal dengan keanggunannya, bersenandung pelan. Jarik kainnya tersingkap terikat di pinggang.
"Lir ilir... lir ilir... Tandure wis sumilir..." Asih memetik buah-buah kopi merah ranum dengan jari-jemarinya yang cekatan.
"Hhh...."
Asih berhenti bersenandung. Suara bisikan mendesah terdengar di tengkuknya. Pagi itu terasa berbeda. Bukan dinginnya udara yang menusuk, melainkan sensasi aneh yang merayap di punggungnya, seolah ada mata tak terlihat yang mengawasinya. Jari-jemarinya mendadak gemetar. Ia mencoba mengabaikan perasaan itu, meyakinkan diri bahwa ia hanya kelewat lelah karena semalam baru tidur larut malam.
"Asih... Asiih..."
Suara itu datang lagi, kali ini lebih dekat, seperti bisikan yang menyelinap ke dalam telinganya. Suara seorang gadis, lembut, namun penuh dengan kesedihan yang mendalam. Asih menghentikan senandungnya, kepalanya menoleh ke segala arah, tetapi hanya ada barisan pohon kopi yang sunyi. Rekan-rekan kerjanya yang lain terlalu jauh untuk bisa mendengar bisikan itu.
Bulir-bulir keringat dingin mulai membasahi dahinya. Udara pagi yang sejuk kini terasa membeku. Aroma segar tanah dan buah kopi yang menjadi ciri khas kebun itu, perlahan digantikan oleh bau aneh. Bau yang memuakkan, seperti bangkai yang membusuk dicampur wangi bunga yang membusuk. Asih merinding. Ia mengenal bau ini. Bau yang sama yang tercium saat tubuh Rahmi, kakaknya, ditemukan terjatuh di jurang dan mati mengenaskan. Bau ini adalah bau malapetaka.
Ketakutan mencekiknya. Asih menjatuhkan keranjangnya, buah-buah kopi merah bergulir di tanah. Ia harus lari. Ia berbalik, tetapi sebuah bayangan hitam melesat cepat di hadapannya, dari satu pohon ke pohon lainnya. Bayangan itu berbentuk tubuh perempuan, dengan rambut panjang tergerai yang menutupi wajahnya.
Asih berteriak, suaranya tercekat di tenggorokan. Ia mencoba berlari, tetapi kakinya terasa kaku, seolah-olah dipaku ke tanah. Bayangan itu kini berhenti di hadapannya, perlahan menampakkan wajahnya. Mata Asih terbelalak, bukan karena wujudnya yang menakutkan, tetapi karena ia mengenali wajah itu. Wajah seorang gadis yang semalam ia lihat di mimpi buruknya. Wajah yang kini tersenyum tipis, penuh dendam.
"Kenapa lari, Asih?" bisik suara itu, kini terdengar lebih dekat, tepat di depan telinganya. "Aku di sini... untuk menjemputmu..."
Tiba-tiba, sulur-sulur akar yang tak terlihat muncul dari dalam tanah, melilit pergelangan kaki dan tangan Asih, lalu menariknya dengan cepat.
"AaaAaaaAaaargghh!!" jeritan Asih memecah kesunyian kebun kopi lereng Gunung Ungaran.
KRAK! KRAK! KRAK!! Sulur itu menekuk tubuh, kepala, tangan, dan kaki Asih. Tulang-tulangnya patah, merobek tubuh Asih hingga mencuat keluar kulit.
"Srrrat!!" Darah muncrat menggenangi sekitar tubuhnya. Asih mati dengan mengenaskan. Sulur akar melilit tubuhnya hingga berlipat tidak karuan.
Dari seberang kebun, seorang lelaki setengah baya tergopoh-gopoh menyusuri jalan setapak ke arah kebun kopi. Kemeja dan celana panjang putih-putih berbahan linen yang ia pakai tampak kusut berantakan. Pakaian itu bukanlah pakaian orang yang berniat untuk pergi ke kebun kopi.
"Siih.. Asiiih!!" teriaknya, sambil melongok ke kanan dan kirinya. Napasnya tersengal pendek. Alisnya terangkat tinggi. Keringat dingin membasahi wajahnya yang pucat.
Wiryo, lelaki setengah baya berbadan gempal itu terus memanggil Asih dengan panik. Sebuah firasat buruk yang menusuk-nusuk batinnya menyuruhnya datang ke sini. Mimpi buruk mengusik tidurnya semalaman dan membuatnya terus gelisah sampai detik ini.
"Asiih! Asiiih!" Wiryo memanggil-manggil Asih, sambil terus berlari, mencari Asih di sekitar kebun kopi. Napasnya tersengal.
Wiryo berhenti berlari. Membungkukkan badannya. Kedua tangannya bertumpu pada lutut. Ia berusaha mengatur napasnya sejenak. Namun, saat ia ingin beranjak, matanya tertuju pada sebuah sebuah caping bambu tergeletak tak jauh darinya, di atas sebuah gundukan di tanah.
Matanya terbelalak melihat sebuah gumpalan yang tadinya tak bisa ia kenali, ternyata itu adalah akar tanaman berbentuk sulur yang berlumuran darah segar bercampur tanah.
Tangan Wiryo gemetar. Ia kembali membungkuk, mencoba memastikan. Jantungnya mencelos saat ia melihat apa yang ada di depannya. Tubuh Asih terlilit sulur dari akar, terkoyak berlipat-lipat berlumuran darah bercampur tanah yang membanjiri sekitarnya. Lutut Wiryo lemas.
Di saat itulah, sebuah suara dingin terdengar dari balik pohon beringin, "Kau mencari Asih, Wiryo?"
Wiryo menoleh. Sosok berambut panjang itu melayang, bukan berjalan, ke arahnya. Matanya yang merah menyala menatap Wiryo dengan penuh kebencian.
"Pengkhianat," desisnya.
Wiryo mundur, kakinya bergetar. "Tidak, tidak, aku tidak.."
"Diam!" Suara sosok itu memotongnya, keras, seperti guruh. Mata merahnya melotot tajam. "Kamu telah mengkhianati sumpah. Dan kamu harus membayarnya."
Sosok itu menunjuk Wiryo. Seketika, Wiryo tersentak kaku. Perlahan tapi pasti, lehernya memutar, tubuhnya tertarik paksa ke belakang seolah ada tali gaib yang mengikatnya. Tulang-tulangnya berderak, berbunyi tak beraturan. Wajahnya yang ketakutan kini menghadap ke atas, menatap kosong ke langit. Mulutnya menganga, mengeluarkan liur berbusa putih.
Ia meronta, berusaha melepaskan diri, tetapi tubuhnya terus memutar, setiap derak tulang diiringi jeritan tanpa suara. Tubuh Wiryo seperti diperas, hingga hancur dan terkoyak. Darah segar menetes deras dari sela-sela daging tubuhnya yang robek .Dalam hitungan detik, tubuh Wiryo menjadi sebuah simpul, lalu jatuh, tak bernyawa di samping gumpalan Asih yang mengerikan.
YOU ARE READING
Kawin Gaib
HorrorKetika ayah angkatnya membuat perjanjian terlarang dengan penguasa dunia gaib, seorang pemuda saleh harus mempertaruhkan hidupnya untuk memutus kutukan yang mengancam keluarganya. Sementara itu, di balik kesunyian Watu Gunung, tersimpan kutukan yang...
