Doni anak kampung berumur 24 tahun secara tiba-tiba serumah dengan idolanya Zee.
WARNING!!! 🔞
Banyak mengandung adegan vulgar dan kalimat-kalimat vulgar jangan di baca jika kalian tidak suka dengan cerita remaja dewasa ini.
cerita fiksi, tidak ada...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Di sebuah desa kecil yang dikelilingi hamparan sawah hijau, hidup seorang pemuda bernama Doni. Usianya baru 24 tahun, namun kesehariannya sederhana: membantu ibunya menggarap sawah, menanam padi, atau merawat ternak.
Meski hidup pas-pasan, Doni punya mimpi besar yang ia simpan rapat-rapat. Ia ingin suatu hari bisa pergi ke kota besar, meninggalkan desa terpencilnya, dan bertemu dengan sosok yang sudah lama membuat hatinya bergetar: Azizi Shafa, atau yang lebih akrab disapa Zee—seorang artis muda yang wajahnya sering ia lihat dari layar televisi tua di rumahnya.
Setiap kali acara musik diputar di TV, Doni selalu duduk paling depan, matanya berbinar saat melihat senyum Zee.
“Kalau aja aku bisa ketemu dia langsung… apa mungkin aku bisa deketin dia?” gumam Doni dengan suara lirih, hampir seperti mimpi yang mustahil.
Namun, setelah hayalannya melambung tinggi, Doni biasanya menunduk lesu. Ia sadar, dirinya hanyalah seorang petani muda, dengan pakaian lusuh dan tangan kasar karena lumpur sawah.
“Mana mungkin artis secantik itu mau sama orang kampung kayak aku,” katanya dalam hati, tersenyum getir.
Meski begitu, rasa kagum itu tak pernah hilang. Setiap malam sebelum tidur, Doni berbaring di ranjang kayu sederhana sambil menatap langit-langit rumah. Pikirannya selalu dipenuhi bayangan Zee, senyumnya, tawanya, dan pesonanya yang menurut Doni tak ada duanya.
Rasa rindu pada sosok yang belum pernah ia temui membuat hatinya semakin bergejolak. Kadang ia hanya bisa menutup mata dan membayangkan, seandainya takdir bisa mempertemukan mereka berdua.
Hari-hari Doni di desa semakin terasa monoton. Satu-satunya hiburan yang ia punya hanyalah ponsel butut yang ia beli dari hasil kerja keras di sawah. Meski sinyal sering hilang timbul, Doni tetap rajin membuka Instagram dan TikTok.
Akun yang paling sering ia pantau tentu saja milik Zee.
Setiap kali ada postingan baru, Doni langsung duduk di pojok rumah mencari sinyal, matanya tak pernah lepas dari layar.
“ cantik banget sumpah…” gumamnya sambil menahan senyum sendiri.
Namun, lama-kelamaan kekaguman itu berubah menjadi sesuatu yang lain. Doni sering menemukan konten editan ambigu dari penggemar Zee lainnya. Video-video fanmade itu menampilkan Zee dalam sudut pandang yang membuat imajinasi Doni melayang jauh. Apalagi jaman sekarang adalah jaman AI tentunya sangat mudah penggemar Zee untuk membuat editan gila demi memuaskan fantasi mereka.
Dan puncaknya, setiap kali Doni melihat TikTok Zee saat mengenakan tanktop santai, tubuhnya seakan panas. Ia menelan ludah, dadanya berdegup lebih cepat. Memang Zee jarang sekali memamerkan tubuhnya full body di tiktok tapi tetap saja Doni bisa membayangkan nya
Pikirannya mulai dipenuhi bayangan liar—fantasi tentang kedekatan dengan idolanya yang jelas-jelas hanya bisa ia lihat lewat layar. Rasa kagum bercampur dengan nafsu yang sulit ia kendalikan, membuat Doni sering ona*** sendirian di kamar setiap kali membayangkan Zee.