1. Perkenalan

716 31 8
                                        

Suara deru knalpot motor dan klakson mobil mulai bersahut-sahutan di luar pagar rumah. Aroma masakan dari warung depan perumahan bercampur dengan wangi parfum melati yang menyebar dari ruang tamu. Matahari pagi Jakarta menyelinap masuk lewat celah gorden, membangunkan seorang gadis yang masih meringkuk di balik selimut.

"Ireneee, buruan bangun! Udah mau jam tujuh, sarapan juga udah siap!."
Suara Bunda, terdengar sangat nyaring dari lantai bawah.

Irene membuka mata pelan, lalu duduk sambil mengucek matanya. Dengan malas, ia bangkit, berjalan menuju kamar mandi dan hanya butuh dua puluh menit tubuh nya sudah sangat wangi sabun lavender, wajahnya sudah semangat siap ke sekolah. Kemudian Irene berjalan ke meja rias, dan mulai mengepang rambut panjangnya. Seragam putih abu-abu sudah rapi tergantung di kursi sejak semalam, yang di setrika oleh bibi.

Begitu turun ke bawah, aroma omelet dan sosis langsung menyambut. Di meja makan, pria berkepala empat, sudah duduk santai dengan pakaian kemeja hitam rapih dan dasi berpola polkadot, sedang membaca koran sambil menyeruput kopi.

"Pagi Yah... pagi Bun," sapa Irene mencium kedua pipi orangtua nya, kebiasaan yang sudah di lakukan sejak kecil.

"Pagi, dek," jawab sang ayah tanpa menoleh, matanya masih fokus membaca berita politik.

Bunda menaruh piring berisi omelet, sosis, dan tomat ceri di depan Athena. "Makan yang banyak. Nanti pas jam istirahat pasti nggak sempet makan."

Irene mengangguk sambil menuang saus. "Nanti pulang sekolah boleh ke kafe sebentar sama Jisoo sama Joy, nggak, Bun?"

"Tumben ijin dulu, biasanya juga tiba-tiba pap ke bunda udah ngopi di sency." Sindir Bunda melirik sebentar, lalu melihat ke suami nya.

"Wajar bun namanya juga anak muda, jangan iri." Ledek Irene memberikan melet ke sang Bunda yang membuat Bunda melotot.

Sang ayah, menurunkan koran, menatap Irene sebentar. "Boleh, asal jangan sampai maghrib dan kabarin kalo pulang nya ngaret. Kemarin kata Bunda kamu nggak ngabarin, dek"

"Iya, deh, janji kalo gak lupa," jawab irene cepat, membuat Wijaya menggelengkan kepala nya. Irene melirik jam tangan nya dan waktu sudah menujukkan pukul 06.35, bertepatan dengan bunyi klakson mobil dihalaman rumah.

"Ayah, Bunda, Irene berangkat dulu ya, Tuh dua J udah dateng."

Bunda menyodorkan dua tas bekal, "Nih titip bekel dari Bunda buat mereka." Irene berdecak pelan tapi tetap mengambil tas itu, kemudian menyalami kedua orangtua nya.

Jalan menuju SMA Cendana selalu padat. Mobil-mobil pribadi sudah antre berjejer di depan gerbang sekolah, sementara beberapa siswa memilih berjalan kaki dari halte terdekat.

Irene turun bersama Jisoo dan Joy setelah mobil terparkir sempurna. Tiga siswi yang selalu menjadi spotlight di Cendana, tidak heran setiap mereka bertiga lewat banyak pasang mata yang akan melirik, tidak jarang juga menjelekkan karena merasa iri.

Jisoo menyenggol bahu Irene pelan sambil menunjuk lapangan basket outdoor yang sudah ramai, "Eh eh Liat tuh, lapangan rame banget!"

"Terus kenapa? wajar lah anak-anak basket pasti udah pada bau keringet kalo jam segini." Ucap Irene sambil melirik.

"Ck, si Irene mah emang manusia ter-ga peka se cendana," sahut Joy malas, Irene memutar mata.

"Nih Ren, lo liat tuh cowo yang pake jersey nomor satu," Jisoo menunjuk dari jauh, membuat mata Irene menyipit.

"Jeandra?," jawab Irene pelan setelah berhasil membaca nama punggung itu yang membuat dua temannya mengangguk semangat, "Anak baru?," Joy dan Jisoo serentak mengangguk lagi, belum sempat Irene bertanya dia sudah di seret untuk duduk di tribun.

"Kalian ngapain bawa gue ke sini, pelajaran pertama si botak loh, telat satu menit aja kita bisa langsung di usir."

"Tenang aja sih, si botak gak masuk hari ini anak nya kan nikahan." Jawab Joy yang sudah memakan bekal buatan Bunda Irene.

"Sumpah kenapa dah Bunda kalo masak enak banget, the best deh pokok nya." Irene hanya bisa menghela nafas melihat Joy yang sudah mengeluarkan sifat dramatis nya.

pritt pritt prittttt

Suara pluit terdengar nyaring setelah satu bola yang dilempar pemain dengan nomor punggung satu mendapat three point, teriakan dan tepuk tangan menggema di sekeliling lapangan diikuti dua sahabatnya yang tidak kalah heboh.

Mata Irene menyipit melihat satu orang yang di angkat oleh teman-teman tim nya dengan senyum yang membuat mata nya menjadi sipit, membuat Irene tidak berpaling bahkan seperti semua nya memang terpusat pada sosok itu bahkan tanpa sadar detak jantung nya meningkat.

.............

Jam istirahat pertama di SMA Cendana selalu jadi momen paling ramai. Suara kursi geser, piring yang beradu, dan obrolan siswa memenuhi udara. Kantin terbuka di belakang sekolah penuh sesak, tapi Irene, Jisoo dan Joy sudah sigap memesan makanan sebelum antrean semakin panjang.

"Gue pesan bakso sama es jeruk," kata Jisoo sambil melirik daftar menu.

"kalo gua Roti bakar keju, bakso bakar sama susu coklat, please," ujar Joy ke penjaga kantin. Sedangkan Irene memilih membeli minuman saja karena dia membawa bekel dari Bunda.

"Boleh join kalian nggak, by?." Suara Seulgi terdengar meminta izin pada Jisoo, pacarnya. Mereka bertiga menoleh tiga laki-laki berdiri sambil membawa nampan.

Jisoo langsung mengangguk cepat namun matanya melirik Irene. "boleh banget, sini, sini." Irene menghela napas ingin menolak tapi pasti Jisoo dan Joy akan memberikan 1001 alasan agar mereka duduk bersama, akhirnya dengan berat hati ia tetap mempersilakan.

Dengan cepat Seulgi duduk dihadapan Jisoo, Wendy duduk dihadapan Joy dan terakhir Irene harus duduk berhadapan dengan anak pemain basket yang ia lihat tadi pagi.

"By, kenalin ini sahabat yang sering aku ceritain itu loh.. dia baru pindah hari ini tapi langsung masuk line up pertandingan minggu ini." Ucap Seulgi merangkul pundak Jean.

"Hai, kenalin gua Jeandra, kalian bisa panggil Jean." Suara lembut dengan senyum manis membuat Joy dan Jisoo heboh.

"Busett, Jean lo jangan senyum dah ganteng bangett please! Duh sayang banget gua udah punya si google berjalan ini." Pekik Joy tertahan sambil memeluk lengan Wendy.

"Please punya dua cowo tuh ga masalah. By... boleh ga Jean jadi pacar kedua aku?." Tanya Jisoo membuat Seulgi mendengus, namun dia sudah paham itu hanya candaan jadi dia tidak merasa cemburu.

"Kenalin gua Joy pacarnya Wendy dan ini si Jisoo lo tau lah dia pacar siapa, dan satu lagi sahabat gua namanya Irene status masih jomblo kalo lo suka dia kita siap dukung 100%." Irene memukul pelan paha Joy membuat nya mengaduh seolah pukulan itu kencang.

"Rene gua tau lo salting, jujur aja jujur gausah pukul-pukul gitu dongggg."

"Apasih, gaje," gumam Irene segera menghabiskan bekal dari sang Bunda, sudah tidak tahan ingin cepat-cepat pergi ke kelas. Namun, entah kenapa mata nya selalu melirik pria yang makan mie ayam dengan tenang.

"Oh iya, sabtu ini cendalas tanding di event scoofest dan lawan pertama kita delusa. Tiket udah gua beli buat kalian bertiga, deket anak-anak ultras. Tapi kalo mau di VIP bisa gua atur." Ucap Wendy sambil menyuapkan bakso ke Joy.

"Dateng lah, first time Jean main langsung up jadi kapten." Sahut Seulgi.

Jisoo menoleh," serius, by? Jean kan anak baru dateng loh."

Seulgi mengangguk sambil menunjuk Jean, "Kamu gak liat tadi pagi lapangan rame karena seleksi dia, lagipula Jean udah debut di nasional jadi wajar aja sih coach Marteen langsung terpincut hati nya."

"Ya Tuhan semoga sahabat gua yang masih Jomblo juga terpincut sama Jean," mendengar itu tawa meledak memenuhi ruangan kantin. Irene berusaha fokus ke makanannya, tapi ia bisa merasakan tatapan Jean beberapa kali mengarah padanya.

















































Jakarta, 17 September 2025

MonstersTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang