Bab I: Pertemuan

4 0 0
                                        

Alael hadir di masa ketika hidup Alinea hanya berisi serangkaian pertanyaan yang tak kunjung menemukan jawaban. Padahal mereka sudah lama saling mengenal, jauh sebelum pertemuan itu kembali terjadi. Dulu, mereka hanya dua orang pemuda yang terluka di kampung halamannya.

Saat ini, keduanya masih sama-sama masih susah. Alinea bekerja serabutan, menulis hanya di sela-sela jam tidur. Sementara Alael—ia jauh di laut, terombang-ambing di kapal yang entah singgah di pelabuhan mana.

Mereka tak pernah benar-benar dekat secara fisik. Yang mereka punya hanyalah layar ponsel, sinyal yang sering terputus, dan obrolan panjang di tengah malam. Aneh, tapi justru itulah yang membuatnya cukup. Lebih dari cukup, sebenarnya.

Beberapa tahun silam, dimana semesta mempertemukan mereka kembali–tak pernah mereka rencanakan, akhirnya terjadi. Di kota yang asing namun jadi persinggahan Alael setelah melaut, sekaligus tempat Alinea mencoba peruntungannya. Hari itu pasar tradisional riuh rendah. Sisa hujan pagi masih menyisakan hawa dingin, jalanan becek, dan aroma tanah bercampur wangi sayuran segar. Pedagang berteriak menawarkan dagangannya, suara tawar-menawar bersahut-sahutan dengan langkah terburu orang-orang yang berlalu lalang.

Alael baru saja menjejakkan kaki di kota itu setelah berhari-hari berlayar. Rencananya sederhana: singgah, beristirahat, lalu melanjutkan perjalanan kembali ke laut. Tapi di tengah keramaian pasar, matanya menangkap sosok mungil yang pernah begitu akrab baginya—sosok yang dulu jadi tempatnya menitipkan mimpi dan resah semasa kecil di kampung halaman.

Ia ragu sejenak. Benarkah itu dia?

Namun langkah kakinya sudah lebih dulu mengikuti. Setengah berlari, ia berusaha menyelip di antara kerumunan orang, matanya tak lepas dari gadis yang terasa begitu familiar. Tapi orang-orang terlalu banyak, ia nyaris kehilangan jejaknya.

"Alin! Alinea!!" teriaknya keras, membuat beberapa orang menoleh dengan wajah terganggu.

"Ah, maaf, permisi... saya buru-buru," ujarnya sambil terus merangsek maju.

Alinea sama sekali tidak menyadari ada yang memanggilnya. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri, berjalan mantap ke arah kios langganan. Hingga di persimpangan, ia berhenti sejenak, ragu memilih jalan. Saat itulah Alael menemukan celah. Ia berlari sekuat tenaga sebelum jejak itu benar-benar hilang.

"Alineaaaaa! Tunggu!" suaranya serak, nyaris putus napas.

Alinea refleks menoleh. Semua orang di sekitar tampak ikut memperhatikannya. Ia kebingungan, menunjuk dirinya sendiri seolah bertanya: "Aku?"

Pemuda itu berhenti tepat di hadapannya, membungkuk setengah badan sambil mengatur napas yang terengah. Sisa air hujan masih menetes dari atap seng pasar, jatuh berirama ke tanah becek. Pandangannya jatuh pada selop lusuh yang dikenakan Alinea—basah, penuh bercak lumpur, dan tanpa kaus kaki. Seketika tawanya pecah, mengingat kebiasaan kecil yang dulu selalu membuatnya geli.

Alinea mengernyit. Ia belum bisa memastikan siapa orang asing ini.

"Tuan? Apakah ada yang bisa saya bantu?" suaranya dingin, membuat senyum di bibir Alael sedikit getir.

Tuan? Dia benar-benar tak mengenalku? batin Alael. Tapi wajar, penampilannya sekarang berbeda jauh. Wajahnya tertutup bayangan topi, tubuhnya penuh lelah dari perjalanan laut. Ia menegakkan badan, tersenyum nakal.

"Baiklah. Perkenalkan, aku Alael, dari desa Baratam. Salam kenal!" katanya sambil mengulurkan tangan, berpura-pura memperkenalkan diri.

Alinea terdiam. Nama itu seperti membuka kotak perasaan yang telah ia simpan rapat bertahun-tahun. Harapan, rindu, sekaligus luka yang pernah membuatnya berjanji untuk tetap tegar meski ditinggalkan. Air mata nyaris jatuh, tapi ia buru-buru berbalik, melangkah pergi seolah tak terjadi apa-apa.

ALEDonde viven las historias. Descúbrelo ahora