when he was 17
-Persahabatan hangat yang kembali terjalin setelah bertahun-tahun sunyi hampir lenyap tak tersisa tapi kembali hangat karna secercah harapan yang kembali hidup, tak ada masa depan bagi cahaya itu,hanya datang untuk pergi dan meningga...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Pagi itu, langit biru cerah menyinari taman yang dipenuhi bunga sakura. Kelopak-kelopak merah muda lembut berjatuhan seperti salju, menari-nari tertiup angin musim semi. Di bawah naungan pohon-pohon sakura yang mekar, orang-orang berkumpul, merayakan datangnya musim semi dengan penuh sukacita, tetapi bagi ku bunga sakura bukan hanya sekadar bunga, tapi juga pengingat akan janji-janji yang pernah ia buat, janji yang tak akan pernah bisa ia tepati."
aku sakura Aiko tahun ini aku berusia 27 tahun,aku menatap bunga sakura yang bermekaran,bunga yang indah namun terjadi hanya sesaat.
"sakura yang bermekaran,lalu gugur,persis seperti anganku untuk bertemu lagi denganmu..." kata-kataku tiba2 terhenti,mataku menyipit menatap punggung seseorang yang terlihat tak asing dengan seragam yang digunakannya.
kakiku berjalan perlahan menelusuri jalan mendekati punggung yang terasa tak asing itu.Aku menepuk pelan pundaknya dan orang itu menoleh ke arahku dengan ekspresi sedikit kaget namun matanya terlihat berbinar.
"Aiko? eh Aiko kan? sakura Aiko!" kagetnya tersenyum menyambut tanganku,aku tersentak menatap serius wajahnya,wajah yang benar membuatku kaget sekaligus wajah yang ku rindukan.
tanpa sepatah katapun aku berlari melepaskan tanganku yang di pegangnya,aku tak tau harus apa, pikiranku mengeluarkan kata-kata pertanyaan bingung sambil terus berlari menjauhi tempat itu.
" Akira?wajahnya sangat mirip tapi bagaimana dengan seragamnya?itu seragam sekolah kami yang lama,kenapa?kenapa bisa?Akira benarkah?shou Akira? " aku berlari menjauhi dengan pikiran2 itu.Pipiku perlahan basah di jatuhi tetesan keringat bercampur air mata.
disisi lain Akira terlihat kebingungan melihat wajah yang begitu mirip dengan sahabat nya itu tapi sedikit lebih dewasa.Akira berpikir keras apa dia salah orang? wajah bingungnya menatap punggung Aiko yang berlari menjauhi nya seolah melihat penampakan.
Shou Akira POV
aku terbangun di halte bus melihat sekeliling yang terlihat berbeda dari hari kemarin.Aku berpikir apa jangan2 kemarin aku salah naik bus?tapi aku bahkan tak ingat apa yang terjadi kemarin, melihat bunga sakura yang bermekaran aku mengikutinya hingga langkahku berhenti menatap jembatan kecil yang tak berubah, persis seperti yang kuingat sampai kemudian seseorang yang mirip Aiko menepuk pundakku.
Aku tersentak sedikit kaget akhirnya menemukan seseorang yang ku kenal walaupun dilihat sekali lagi dia memang sedikit terlihat lebih dewasa dari pada Aiko yang ku kenal,tapi aku tak sempat memikirkan itu.Aku hanya bahagia melihat seseorang yang ku kenal dan tanpa sadar malah membuat orang lain takut.
"apasih bisa-bisanya salah orang hahaha"aku menertawai kebodohan kecilku itu dan kembali berjalan melewati kelopak bunga sakura yang bermekaran di hembus angin yang terasa sejuk.
Sakura Aiko pov
aku terus berlari dan tanpa sadar menabrak seseorang hingga terjatuh,tanpa pikir panjang aku mengulurkan tangan untuk membantunya,tapi wajahnya terlihat tak asing bagiku.
"ahh...Aiko!"matanya menatap wajahku seperti memastikan sesuatu.
"udah lama ya Hira" aku kembali bertanya menatap Hira yang kini membalas senyumku.
"iya ya udah 10 tahun,kamu apa kabar?"Hira bertanya menatapku.
"ahaha seperti yang kamu lihat,aku baik-baik aja sekarang,kalau kamu gimana?" aku menghela napas dan tersenyum menjawab pertanyaan Hira.
"ah syukur deh,ya aku kek yang kamu lihat aja,pria tua yang kerja kantoran biasa haha"Hira menanggapi pertanyaanku dengan sedikit candaan dan tawa.
Hira dan aku adalah sahabat saat SMA bersama Dengan Akira,Zen dan Hanna tapi kami sudah tidak pernah kontakan lagi semenjak tragedi yang merenggut nyawa Akira terjadi,kami perlahan renggang dan setelah lulus tak pernah saling terhubung lagi dan ini pertama kalinya aku bertemu Hira setelah 10 tahun.
"gimana kalau kita ngobrol dulu?ada yang mau aku omongin juga"tanyaku.
"hmm boleh, kebetulan aku juga lagi gada kegiatan juga setelah ini"Hira mengangguk tanda menyetujui ajakan ku.
kami mengunjungi cafe yang berada di dekat situ.Kami melepas kangen dan saling melontarkan pertanyaan tentang apa yang terjadi selama 10 tahun ini.Kami bercerita cukup lama,hingga tiba aku mulai membicarakan Akira.
"Hira,kamu tau gak tadi aku ketemu seseorang yang mirip Akira, postur nya, wajahnya bahkan seragam SMA kita dulu, wajahnya tak menua sedikit pun, persis seperti Akira yang kita kenal" aku melontarkan kata yang membuat Hira sedikit terlihat terkejut.
"apa kamu masih merindukan nya?"Hira menatapku dengan pandangan sedih.
"Hira,aku selalu merindukan Akira,kau tau setelah kejadian itu sedetik pun tak pernah aku tak merindukannya,aku tau mungkin terdengar tak masuk akal,aku juga takut dan berlari begitu melihatnya kupikir ini bayanganku saja tapi.Tapi apa kau tau mengigat dia yang memegang tanganku membuatku bertanya-tanya apa itu benar-benar Akira atau hanya bayangan ku saja" aku bicara tanpa henti menceritakan semuany tanpa tertinggal sedikit pun,Hira hanya menatap mendengarkan ceritaku walau terlihat terkejut dia tetap berusaha menenangkanku, menepuk-nepuk kecil punggungku dan sesekali mengelus-elus nya.
"jadi...kamu beneran ketemu Akira?kalau itu bener Akira yang kita kenal,coba temui dia lagi.bagaimana?" matanya menatap lurus mataku seolah ingin aku membuktikan kata-kataku tadi.
"....." aku terdiam cukup lama menatap hira.Aku memejamkan mata dan mulai menangis walau aku merasa cukup yakin dengan apa yang kulihat tapi aku juga sangat yakin bahwa shou Akira yang ku kenal telah meninggal
Malam itu aku berpisah dengan Hira,kami berbagi kontak kemudian berpisah untuk pulang kerumah kami masing-masing,Hira memintaku menghubunginya jika bertemu orang yang mirip Akira itu lagi.
aku berjalan melewati jalan yang sunyi dan redup seolah akan melahap jiwaku yang terasa kosong.Angin malam berhembus menembus kulit yang dingin.Aku berjalan hingga sampai ke rumah kemudian membersihkan diri dan tertidur membiarkan isi kepalaku berkecambung.