01. Reno Dirhanda
Marsha membuka pintu apartemennya yang sejak tadi terdengar berbunyi dengan raut wajah kesal juga rambutnya yang acak-acakan habis bangun tidur.
Perempuan cantik itu menguap malas saat mendapati sosok pria tampan dengan tubuh yang tinggi berdiri dengan wajah tanpa dosa.
"Ck, kenapa lagi lo datang malam-malam ke apartemen gue? Jangan bilang kalau lo lagi tengkar dengan Livia dan elo mau nginep di tempat gue? Enggak, ya. Lo udah mau nikah dan gue perempuan. Gue nggak mau menampung lo," ujar Marsha dengan wajah kesalnya.
Jarum jam saat ini sudah menunjukkan angka 11, namun sosok laki-laki yang tak lain adalah Rion justru datang ke unit apartemennya malam-malam.
Apalagi yang menyebabkan Rion datang ke unit apartemennya jika bukan karena sedang bertengkar dengan Livia.
Tidak Rion, tidak Livia yang selalu menjadikan apartemennya sebagai markas tempat mereka bersembunyi satu dengan yang lainnya. Jika bukan tempatnya pasti tempat Helena. Kalau tempat Daud tidak mungkin mereka mau karena Daud mulutnya sangat ember. Tempat Nirina? Oh, tidak terima kasih banyak karena rumah Nirina ada anak kecil yang tidak bisa mereka perlihatkan jika mereka sedang bertengkar.
"Kali ini gue nggak sendiri. Gue bareng Daud mau bermalam di tempat lo. Gue lagi galau dan gue lagi nggak pengen ada di rumah."
Rion dengan santai melangkah masuk tak lama kemudian muncul Daud yang melambaikan tangannya pada Marsha serta menampilkan senyum manis hingga membuat gadis itu melemparkan tatapan sengitnya.
"Muka lo nggak usah jutek banget, Sha. Udah jelek makin jelek aja." Daud berkata mengejek Marsha melewati gadis itu begitu saja sehingga membuat si empunya apartemen merenggut dengan wajah sebal.
Punya sahabat yang tidak punya hati seperti mereka-mereka ini kadang membuat Marsha harus banyak menyetok kesabarannya.
"Apartemen lo bersih banget. Nggak kayak rumahnya Daud yang seperti kapal pecah. Bayangin aja, ART yang kerja di rumahnya Daud ngalah-ngalahin lagi ngurus toddier." Rion seperti biasa berkomentar tentang unit apartemen Marsha yang memang sangat bersih dan rapi karena gadis itu memang menyukai kerapihan.
"Nggak usah lo ikut-ikutan Helena juga yang suka ngomentarin rumah gue. Lagian gue juga aneh, rumah gue yang berantakan bukan rumah lo." Daud melempar bantal kursi yang ada di dekatnya ke arah Rion dan beruntungnya pria itu langsung menyambutnya agar tidak mengenai wajahnya.
"Nggak usah lo lempar bantal sembarangan, Daud. Nanti kalau jatuh ke lantai dan kotor gimana?" Marsha yang berdiri di dekat mereka melipat tangannya di dada menegur Daud yang memang selalu sembarangan. Berbeda dengan Marsha yang selalu harus bersih. "Lo juga, Yon, jangan berantakin apartemen gue."
"Iya-iya, Ms. Clean. Bu Siti ke mana? Gue nggak ada lihat dia sama sekali. Biasanya kalau gue datang ke sini nggak perlu lo yang buka pintu apartemen, cukup Bu Siti aja yang buka pintu." Rion mengedarkan pandangan ke sekitar dan tidak menemukan Bu Siti, asisten rumah tangga yang sudah ikut dengan Marsha dari dia kecil sampai akhirnya gadis itu sudah tumbuh dewasa.
Bu Siti adalah orang kepercayaan almarhumah Mamanya Marsha. Jadi, wanita paruh baya itu yang memang selalu merawat dan menjaga Marsha.
"Bu Siti lagi pulang kampung. Lusa palingan udah balik lagi ke sini. Kenapa? Mau minta masakin mie sama Bu Siti? Tunggu beliau pulang dulu ke sini." Marsha menjawab dengan tenang. "Kalian mau bermalam di sini? Bersihin aja kamar sendiri. Gue mau lanjut tidur karena besok ada kerjaan yang harus diselesaikan. Bye!"
Melambaikan tangannya pada kedua pria yang mengganggu aktivitas tidurnya, Marsha kemudian melangkah menuju lantai 2 unit apartemennya, di mana kamarnya berada.
Apartemennya cukup besar dan mewah memiliki dua lantai dengan 4 buah kamar tidur.
Dua kamar tidur di lantai atas sementara dua kamar tidur di lantai bawah. Bu Siti sendiri tidur di kamar yang berada di lantai bawah.
"Gue di lantai atas." Daud segera bangkit dari tempat duduknya dan mengikuti Marsha untuk menuju kamar yang berada di lantai atas, yang langsung menghadap pada pemandangan kota.
Sementara Rion yang ditinggalkan mengangkat bahunya tidak mau berebutan seperti yang dilakukan oleh Daud. Padahal menurutnya, baik kamar di lantai atas maupun di lantai bawah sama-sama dapat melihat pemandangan dari balkon.
Memang hobinya Daud selalu ingin berebutan yang menurutnya sangat tidak perlu.
Marsha bekerja di sebuah perusahaan sebagai sekretaris manager dan sudah 2 tahun ini dipercaya untuk menjadi sekretaris Pak Anwar. Sampai kemudian Pak Anwar dipindahkan ke kantor cabang, Marsha tetap bekerja sebagai sekretaris sambil menunggu kekosongan yang akan di isi oleh pengganti Pak Anwar.
Maka dari itu pekerjaan Marsha sendiri agak doubel karena harus menghandle sementara pekerjaan Pak Anwar.
Menurut informasi yang diketahui oleh Marsha jika pengganti Pak Anwar akan datang pada hari Senin.
Maka dari itu pagi-pagi sekali Marsha sudah bangun dari tidur dan berolahraga, kemudian menyiapkan sarapan untuk perutnya dan juga dua laki-laki yang sedang terlelap di dalam kamar mereka masing-masing.
Telepon milik Marsha berdering. Ada panggilan masuk dari Livia, membuatnya memutar bola matanya karena tahu jika tujuan Livia menghubunginya pasti karena Rion.
"Gue tahu kalau lo mau cari Rion. Dia masih tidur di kamarnya." Marsha berkata tanpa menunggu sapaan dari Livia sehingga membuat gadis yang berada di seberang telepon itu memutar bola matanya.
"Siapa juga yang nyariin Rion? Gue mau ngajak lo nonton konser nanti malam. Mau nggak? Gue udah beli tiketnya."
"Alah, palingan juga tiket yang harus lo tonton dengan Rion, terus karena kalian lagi bertengkar, makanya lo nawarin gue."
"Ih! Kok lo bisa sih nuduh gue sembarangan? Walaupun memang iya."
Marsha berdecak. "Ya udah nanti kabarin gue aja kalau sampai sore lo belum baikan sama Rion. Gue mau berangkat ke kantor dulu soalnya ada bos baru yang datang ke kantor. Bye, Livia."
Marsha segera mematikan sambungan telepon dan berangkat setelah ia mengisi perutnya.
Mobil miliknya melaju membelah jalanan kota sampai akhirnya tiba di kantor. Sesampainya di lantai 16, sudah banyak rekan-rekannya yang lain yang sudah datang dan mereka kali ini menggosipi tentang atasan baru mereka.
Bisik-bisik terdengar yang membuat Marsha penasaran. Baru saja kakinya akan melangkah mendekati gerombolan teman-temannya itu untuk bergabung ketika ia melihat atasan mereka melangkah dengan sosok pria yang sudah sangat dikenali oleh Marsha di sebelahnya.
Tubuh Marsha membeku di tempat melihat sosok itu kembali hadir dalam kehidupannya.
"Reno Dirhanda."
Marsha menyebutkan dua kosa kata dengan gigi bergemelutuk juga kedua tangan yang mengepal di sisi tubuhnya.
ESTÁS LEYENDO
My Ex, My Boss, My Chaos
RomanceBagi Marsha Tivana, Reno hanyalah masa lalunya yang tidak perlu diingat lagi. Tapi, Bagaimana jika pria itu kembali hadir dalam kehidupannya di saat Marsha bahkan belum bisa sepenuhnya melupakan pria itu? Marsha tidak ingin mengulang kisah lama, nam...
