Bab 1

44 5 0
                                        

Hallo Guys

Kembali lagi nih dengan cerita baru aku,  dan spesialnya di cerita kali ini aku bakalan bikin on going bukan seperti cerita aku sebelumnya yang hanya one shoot!
*
*
*
Cerita ini murni dari pemikiran aku sendiri, kalau ada alur cerita atau pun nama tokoh yang sama dengan cerita lain itu hanya ketidak sengajaan.
*
*
*
!!Dilarang membawa cerita orang lain ke cerita ini!!
*
*
*
Kalian bingung gak gimana sih maksudnya Papeda Rasa Rendang? Gimana tuh? Enak gak yah? Etss! tapi cerita ini bukan hanya membahas apa itu Papeda! Apa itu Rendang! Melainkan kisah cinta yang keterbatasan budaya, suku dan agama. Serta menampilkan pesona indahnya tanah Minang.
*
*
*
KAMU MAKIN GAK SABAR?
GAK SABAR BANGET?
!SELAMAT MENIKMATI!

*
*
*

Bab 1

Senja di Payakumbuh sore itu begitu indah

Ups! Tento obrázek porušuje naše pokyny k obsahu. Před publikováním ho, prosím, buď odstraň, nebo nahraď jiným.

Senja di Payakumbuh sore itu begitu indah. Langit dilukis jingga keemasan, perbukitan yang mengelilingi nagari berlapis kabut tipis, sawah-sawah membentang hijau dengan pantulan cahaya matahari terakhir, seakan menjadi saksi bisu kehidupan orang Minang yang sehari-hari tak lepas dari adat dan syarak.

Di halaman sebuah rumah gadang besar, kesibukan luar biasa berlangsung. Malam ini adalah malam baralek, pesta pernikahan cucu kemenakan Datuk. Rajo Alam, penghulu terhormat di nagari itu. Rumah gadang dihias meriah kain songket merah terpasang di dinding, talempong dan saluang sudah siap dimainkan.

Perempuan-perempuan sibuk di dapur besar. Kuali-kuali yang berukuran besar berisi gulai tambunsu, rendang hitam pekat yang dimasak sejak pagi, sambal lado mudo hijau menggoda. Bau harum menyebar ke udara, bercampur dengan asap kayu bakar yang membubung dari tungku.

Lelaki-lelaki kampung duduk di pelataran, merokok sambil berbincang. Anak-anak berlarian di halaman, tertawa riang. Malam ini seharusnya menjadi malam yang penuh bahagia.

Namun, kegembiraan itu perlahan memudar. Dari dalam kamar rias, terdengar bisik-bisik gelisah. Pengantin perempuan, Ranti, tidak ada di tempat. Gaun pengantin adat Minang yang indah dengan suntiang gadang tergeletak rapi di ranjang, tapi orangnya hilang entah ke mana.

“Di mano anak kamanakan ambo?!” suara Datuk. Rajo Alam menggelegar.

["Dimana anak kemenakan saya?!"]

“Tadi masih disiko, Mamak. Awak ndak tau ka mano nyo pai,” jawab seorang bundo sambil panik.

["Tadi dia masih disini, mamak. Saya juga tahu kemana dia pergi."]

“Iyo, awak sabanta ko alah mancari. Ndak ado basobok, Mamak…”

["Iyah, saya tadi juga sudah mencari, tapi tidak jumpa juga, mamak.."]

Papeda Rasa RendangKde žijí příběhy. Začni objevovat