[ COMPLETE ]
Buat Sunghoon, jadi dukun gadungan itu gampang: asal modal hanbok, kipas, dan muka serius. Sampai suatu hari datang klien berbahaya bernama Heeseung.seorang pembunuh yang meminta ritual perlindungan dari arwah korbannya. Bayaran: 200 ju...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
CHAPTER 1
"Bangsat, gue ditipu cewek gue." Sunghoon menunduk, memijat pelipisnya sambil menahan emosi. Satu tangannya menggenggam ponsel yang menempel di telinganya, layarnya menyala dengan nama Jay terpampang jelas.
"Mampus! Makanya jangan bloon. Udah jelas cewek lo spek sister Hong, masih aja lo bucinin." Suara Jay dari seberang telepon penuh dengan nada nyolot, seakan akan ikut merasakan kerugian Sunghoon padahal tidak mengeluarkan duit sepeser pun.
"Ya gimana ya, Jay..." Sunghoon menarik napas panjang, wajahnya penuh frustasi. "Doi tuh, jago banget goyangnya. Gue kan cowok normal, mana tahan!"
"Halah!" Jayden mendengus. "Diam lo. Gue bener-bener udah kehabisan kata. Lo nih kayak sapi, dikasih rumput plastik aja masih dimakan."
"YEUEU ogah! Utang kemarin aja belum lo bayar. Sekarang mau ngutang lagi? Sorry banget nih, gue juga manusia, bukan Bank Indonesia."
Sunghoon langsung mendecak keras, hampir melempar ponselnya ke tembok kalau bukan karena sadar itu satu-satunya benda berharga yang belum ia digadaikan. Kepalanya pening. Stress. Rasanya seperti dunia sedang nge-prank dirinya habis-habisan.
Jadi ceritanya gini: pacarnya, yang katanya butuh duit buat orang tuanya yang sakit, minta transferan. Nggak tanggung-tanggung, 20 juta won langsung dikirim sama Sunghoon, dengan niat mulia menjadi calon menantu idaman. Tapi apa balasannya? Setelah duit mendarat, nomor Sunghoon langsung diblock.
Dan yang lebih ngeselin lagi, dari gosip temennya dia malah tau ceweknya asik dugem di klub, main sama berondong. Saat Sunghoon nekat untuk menghampiri, bukannya terharu atau merasa bersalah, ceweknya malah pura-pura nggak kenal, pasang tampang jijik, terus manggil satpam. "Pak, itu stalker! Tolong usir!" katanya dengan dramatis seperti sedang audisi sinetron.
Sunghoon cuma bisa bengong, ditarik satpam seperti maling ayam. "Anjing banget..." gumamnya, kalau di sinetron mungkin udah ada efek suara petir di belakang.
Dan belum selesai penderitaannya, sekarang rentenir udah nongol di depan kosannya. Ketok pintu sambil senyum-senyum mirip debt collector di film-film. Hutang menumpuk, kepala cenat-cenut, hati remuk redam.
Serius, kalau ada lomba sial of the year, Sunghoon yakin namanya udah jadi juara umum
"Please, Jay... stress banget gue," kata Sunghoon dengan suara parau. Punggungnya menempel di dinding kusam kamar kosannya, tatapan kosong menembus cat yang mulai terkelupas.
Dari seberang telepon, Jay terdengar menghela napas panjang, panjang banget, sampai Sunghoon mikir itu napas manusia apa cerobong kereta. "Kenapa lo nggak cari pelanggan aja, sih? Biasanya juga begitu. Lo kan penipu handal."