Ada hal-hal dalam hidup yang tidak pernah kita rencanakan, namun tiba-tiba hadir begitu saja.
Seperti pertemuan denganmu. Singkat, sederhana, tapi cukup untuk mengubah banyak hal dalam diriku.
Aku sering bertanya pada diri sendiri, mengapa aku begitu mudah mengingatmu.
Mungkin karena senyummu yang menyerupai langit biru, atau tatapanmu yang tenang layaknya senja.
Mungkin juga karena hangatmu yang menyerupai fajar.
Entahlah. Yang jelas, ada sesuatu dalam dirimu yang membuatku tak bisa berpura-pura lupa.
Lucunya, aku tak pernah merencanakan jatuh cinta ini.
Rasa itu datang tanpa aba-aba, dan aku hanya bisa menerimanya.
Di setiap jeda waktu, aku ingin sekali menyapamu, namun keberanian itu selalu terhenti di ujung lidah.
Aku takut suaraku justru menjadi gangguan, bukan sambutan.
Sejak mengenalmu, aku menemukan ruang baru untuk diriku sendiri: menulis.
Di sanalah aku bisa bercerita tanpa takut dihakimi.
Menulis memberiku kebebasan untuk jujur; tentang kecewa, tentang bahagia, tentang rindu—dan tentangmu.
Aku akhirnya mengerti, bahwa menulis bukan hanya soal kata, tapi juga tentang rasa yang tak pernah berani diucapkan.
Ada kalimat yang pernah kudengar: penulis tak pernah main-main ketika jatuh cinta, karena cintanya akan selalu hidup dalam tulisan.
Dan aku merasakannya sendiri. Kamu mungkin tidak pernah tahu, tapi setiap kata yang kutulis adalah caraku untuk menjaga namamu tetap hidup, meski hanya dalam diam.
Aku sadar, mungkin aku terlalu pengecut untuk mengatakannya langsung.
Namun aku tahu, Tuhan tidak pernah buta terhadap apa yang tersimpan dalam hati hamba-Nya.
Maka diam-diam, aku menitipkan namamu dalam doa.
Biarlah semesta yang menjadi saksi, atas rasa yang tak pernah berani kuterjemahkan dengan suara.
Dan andai suatu hari takdir tidak mempertemukan kita dalam satu jalan, aku tetap akan bersyukur.
Karena pernah diizinkan mencintai manusia seindah dirimu saja, itu sudah cukup bagiku untuk merasa bahagia.
YOU ARE READING
Rindu yang Tak Sempat Terucap
Non-FictionPernahkah kamu jatuh cinta pada sosok yang sama sekali tak kamu kenal sebelumnya? Hanya lewat obrolan sederhana dan pesan singkat, tiba-tiba hatimu kembali berdebar. Padahal, sudah lama sekali rasanya hatimu tertutup, seakan mati rasa oleh luka dan...
