Tiga tahun setelah putus tanpa penjelasan, Ardhito kembali muncul dalam hidup Giana. Bukan sekadar untuk menyapa, melainkan melontarkan ajakan gila.
"Ayo kita menikah, Giana." katanya.
Giana menuntut alasan pasti kenapa Ardhito tiba-tiba mengajaknya...
Ardhito memesan ice americano double shot, menu andalannya yang tidak pernah berubah. Sementara Giana menyesap perlahan kopi susu gula aren low sugar, minuman yang sudah melekat di lidahnya sejak dulu.
Sudah sepuluh menit berlalu sejak mereka duduk, tapi tidak ada satu pun yang membuka percakapan. Hanya ada lirikan-lirikan canggung seperti dua orang asing yang terjebak dalam kenangan yang enggan mati.
Akhirnya setelah sepuluh menit berlalu. Ardhito membuka suara.
"Apa kabar, Gi?"
Giana menaikkan satu alisnya lalu bibirnya melengkung tipis. "Langsung aja lah, Dit. Kenapa tiba-tiba ngajak ketemu?"
Ardhito mengangguk kecil. Tatapannya dalam, mencoba menembus benteng yang Giana bangun selama tiga tahun ini. Tapi tidak semudah dulu. Mata itu tidak lagi sama.
"Gue mau nikah."
Satu detik. Dua detik.
Giana bersandar pada kursi, menatap dingin laki-laki yang duduk berhadapan dengannya seolah kalimat itu hanya angin lalu.
"Oke, dan kenapa lo ngasih tahu gue?"
Jantungnya mendadak berdegup kecang, tapi wajahnya tetap netral. Giana sudah ahli dalam menyembunyikan gelombang yang mengamuk di dadanya. Terlalu sering berlatih setelah laki-laki ini menghilang dari hidupnya tanpa jejak.
"Gia, sorry kalo tiba-tiba gue ngomong kaya gini..." Ardhito mencondongkan tubuh ke depan, mengurangi jarak di antara mereka. "Ayo kita menikah, Giana."
Keheningan yang tercipta setelah kalimat itu bukan lagi canggung. Melainkan berat, seperti ada sesuatu yang menggantung di udara, siap jatuh menghantam siapa pun yang pertama bicara.
Suara mesin espresso di balik bar mendesir pelan, tapi di telinga Giana yang terdengar hanya detak jantungnya sendiri, berdentum kencang melawan akal sehatnya.
"Lo mabuk ya?" Giana akhirnya tertawa pendek. "Gue serius nanya, lo abis minum berapa botol sebelum ke sini?"
"Gue nggak mabuk, Giana," balas Ardhito cepat. Matanya tidak berkedip. "Gue sadar seratus persen sama apa yang gue omongin."
"Ardhito." Giana menatap balik laki-laki itu. "Hubungan kita udah putus tiga tahun lalu, lo yang ninggalin gue tanpa penjelasan apapun. Sekarang dengan nggak tau malunya lo ngajak gue ketemu di sini, di tempat lo mutusin gue dan tiba-tiba ngajak gue nikah? Go to the hell." Giana menggerakan tangan seolah mengusir. "Kalo lo nggak mabuk, berarti emang lo udah gila."
"Gue butuh jawaban lo sekarang, Giana."
"Lo pikir ini kaya beli kopi? Lo datang, pesen, terus langsung dapet? Enggak, Dit. Gue butuh alasan logis kenapa lo tiba-tiba ngajak gue nikah."
"Nggak ada alasannya."
"Lo mau nikahin anak orang tapi nggak punya alasan? Gimana gue mau percaya sama lo?"
Ardhito menarik napas panjang, seolah menahan sesuatu yang tidak ingin dia bocorkan malam ini. "Gue akan ceritain semuanya nanti. Tapi sekarang, gue butuh jawaban lo. Iya atau enggak."
Giana terdiam lalu berbisik pelan. "Menikah bukan hal kecil, Dit..."
"Gue tahu."
"Kalau lo tahu, kenapa lo ngomong begini? Kita masih dua puluh satu tahun, Dit. Nikah muda nggak ada di dalam hidup gue. Gue masih mau hidup bebas, pergi ke manapun yang gue mau, kerja, cari duit buat diri gue sendiri."
Ardhito mengangguk, seolah dia sudah hafal semua keberatan Giana. Tapi sorot matanya jelas menunjukan keseriusannya kali ini.
"Apa jawaban lo, Gia?"
Nada itu, nada yang penuh desakan, membuat Giana menelan ludah. Dia melirik ke luar jendela, melihat riuh lampu jalan yang terasa jauh dari keheningan absurd di dalam cafe ini.
"Gue butuh waktu buat mikirin ini..." ucap Giana lebih seperti permohonan.
"Nggak ada waktu, Giana," potong Ardhito cepat. "Kalau lo mau, besok kita ke KUA. Gue yang urus semuanya, lo cuma perlu bilang iya."
Bener bener cowo gila pikir Giana
Giana menatap Ardhito, mencari sisa-sisa kewarasan di wajah yang dulu dia cintai. Tapi yang dia temukan hanyalah keteguhan yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
Ini bukan Ardhito yang Giana kenal. Ini seseorang yang membawa badai dan Giana tidak tahu apakah dia akan tenggelam atau justru menemukan daratan baru.
"Lo beneran gila, Dit," gumam Giana. "Ini ide paling absurd yang pernah lo keluarin. Bahkan lebih absurd daripada waktu lo ngajak gue nonton konser di Bandung jam dua pagi."
Tapi Ardhito tidak tertawa, tidak juga senyum. Laki-laki itu hanya menatap Giana dengan ekspresi yang membuat Giana merinding. Tatapan yang serius dengan keteguhan dan nyaris memohon. Bukan gaya Ardhito yang biasanya penuh celoteh dan candaan receh.
Dan di sanalah Giana sadar, malam ini hidupnya akan berubah.
Entah jadi lelucon yang akan dia sesali seumur hidup, atau justru awal dari sesuatu yang bahkan tidak pernah berani dia bayangkan sebelumnya.
~~~
Meet the cast
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Giana Ryutami 21 Tahun Pastry chef
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Ardhito HestammaH 22 tahun Barista kece
Baru prolog aja udah deg-deg'an. Gimana kalo kamu yang jadi giana? Mantan pacar tiba-tiba ngajak nikah tanpa aba-aba. Aduh kalo aku tergantung ya kalau masih sayang si gas ajalah terima, tapi kalo putusnya karena masalah besar yang bikin kita ilfil tuh males juga ya. Cuma di sini kan mereka putus karena ardhito yang mutusin duluan tapi ngajak nikah juga ujung-ujungnya.