Hari pertama

1 0 0
                                        

Hujan tipis membasahi jalan sejak subuh, bikin udara pagi jadi lebih dingin dari biasanya. Aroma tanah lembap tercium jelas di setiap langkah. Sepasang sepatu putih yang belum sempat kotor melangkah pelan di trotoar licin, menendang kerikil kecil yang sesekali nyasar ke jalur pejalan kaki. Tas ransel hitam di punggung udah basah di bagian bawahnya, berat karena nyerap air.

Dari kejauhan, gedung sekolah itu mulai kelihatan. Tingginya menjulang, jendela-jendelanya besar, dan dindingnya bercat putih rapi. Semua tampak sempurna… tapi entah kenapa, bukannya bikin nyaman, justru ada rasa asing yang bikin tengkuk terasa dingin.

“Sekolah elit, tapi vibes-nya kayak rumah sakit angker,” gumamnya pelan, setengah bercanda untuk menenangkan diri sendiri.
Dia berdiri sebentar di depan gerbang besi yang tinggi. Embunnya menetes pelan, bikin permukaannya licin. Tangannya hampir terangkat untuk melangkah masuk ketika suara cewek muncul dari samping.

“Eh, lo anak baru, ya? Jangan berdiri di situ, nanti..........”

BRAKKKKK!

Motor listrik hitam meluncur berhenti cuma beberapa senti dari ujung sepatunya. Remnya berdecit pelan. Helmnya dilepas, rambutnya sedikit berantakan, tapi tatapannya… tajam, kayak langsung nembus mata.

“Lo mau mati di hari pertama sekolah?” nadanya datar, tapi ada sedikit nada sinis.
Alih-alih takut, bibirnya malah menahan senyum tipis. “Kalau mau nabrak, sekalian aja. Lumayan, gue nggak perlu ikut MOS.”

Cewek yang tadi bicara langsung nyengir lebar. “Wih, berani juga lo.”
Cowok itu cuma melirik sekilas, turun dari motor, lalu ngasih helm ke cewek itu tanpa komentar sedikit pun.

Dia udah mau jalan pergi ketika tiba-tiba langkahnya berhenti. Tangannya singkat menahan lengan si anak baru.
“Hati-hati di sini.”

Kalimatnya pelan, tapi tekanannya cukup untuk bikin alis terangkat.
“Maksudnya?”
Dia nggak jawab. Cuma melepas pegangan dan melangkah masuk lewat gerbang, meninggalkan satu kalimat menggantung yang langsung bikin kepala penuh tanda tanya.

Lobi sekolah ternyata cukup ramai. Siswa-siswa bergerombol, ada yang bercanda sambil ketawa kencang, ada yang asik main HP, bahkan ada yang nyender di dinding sambil makan roti. Tapi anehnya, setiap kali dia lewat, beberapa pasang mata langsung melirik. Bukan tatapan biasa—ada yang cepat-cepat mengalihkan pandangan, ada juga yang menatap lama seolah sedang menilai.

“Nama lo siapa?” cewek tadi nyamperin lagi, napasnya sedikit ngos-ngosan karena ngejar.“Alara.”
“Gue Viera auluna cintya anggita, lu bisa panggil gue Tuti.” Dia senyum lebar, keliatan ramah. “Nih ya, cowok tadi itu susah banget diajak ngomong. Kalau dia sampai ngobrol sama lo lebih dari lima kalimat, lo udah masuk kategori langka.”

Ngelirik ke pojok kantin, di sanalah dia—duduk sendirian, main HP, seolah nggak peduli sama dunia sekitar.
“Berarti gue nggak spesial. Gue cuma apes,” jawabnya santai.

Tuti ngakak. “Apes tapi keren. Percaya deh, nanti lo ngerti maksud gue.”

Kelas pertama pagi ini cukup ramai. Guru mempersilakan dia duduk di bangku kosong dekat jendela. Begitu sampai, baru sadar kalau kursi sebelahnya udah diisi… cowok tadi.

Dia nggak menoleh, sibuk membaca buku tebal. Halaman-halamannya penuh coretan angka dan simbol aneh yang nggak jelas.

“Belajar matematika tingkat dewa, ya?” tanyanya pelan, mencoba mencairkan suasana.
“Bukan urusan lo.” Jawabannya pendek, bahkan nggak ngangkat kepala.

Senyumnya makin tipis. “Berarti rahasia, ya?”
Jari cowok itu mengetuk meja pelan, ritmenya aneh. Mungkin kebiasaan, mungkin juga…..kode.

Pelajaran berjalan dalam diam. Sesekali dia menangkap tatapan singkat dari sebelah yang langsung dialihkan.

Waktu istirahat, Tuti menarik tangannya. “Ayo keliling sekolah, mumpung belum kenal-kenal banget tempatnya.”

Mereka lewat lorong-lorong panjang yang sebagian terang, sebagian redup. Sampai akhirnya Tuti berhenti di depan lorong yang lebih gelap dari yang lain.
“Jarang ada yang mau lewat sini,” bisiknya. “Katanya bikin merinding.”

Dia menatap ujung lorong itu. Sunyi. Udara dingin mengalir pelan, bikin bulu kuduk berdiri tipis-tipis. Tapi sebelum sempat melangkah, suara langkah kaki terdengar dari arah sana.

Siluetnya muncul. Cowok tadi.
“Ngapain di sini?” suaranya pelan tapi mantap.
“Keliling,” jawabnya singkat.

Tatapannya turun ke buku catatan di tangan. Dia maju selangkah, jaraknya sekarang cuma sejengkal.
“Kalau mau lama bertahan di sini… jangan tulis semua yang lo lihat.”

Nada suaranya datar, tapi ada sesuatu di baliknya yang bikin dada bergetar aneh—bukan karena suka, tapi karena… entah kenapa, ucapan itu terasa serius.

Dia belum sempat bertanya ketika cowok itu mundur, memutar badan, lalu pergi begitu saja.

Tuti nyenggol pelan. “Tuh kan… dia aneh.”
“Bukan itu masalahnya.”
“Tapi lo tadi senyum waktu dia ngomong sama lo.”
Dia menghela napas, malas membantah. Pandangannya mencari sosok cowok itu lagi di kerumunan.

Bukan karena jatuh hati. Bukan.
Tapi jelas, ada sesuatu di caranya bicara yang bikin rasa penasaran nggak mau padam.









Code 848Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang