"Maaf," ucapku pada anak laki-laki yang sedang menatap mainan rusak di hadapannya. Usianya lebih tua setahun dari usiaku. Ia tak menggubrisku, hanya diam tanpa jawaban. Mainan itu rusak karena aku. Mataku mulai berembun, menangis karena takut dia marah.
Namaku Syarifatul Fathonah, putri tunggal orang tuaku yang mengurus pesantren kecil milik kakekku. Disela orang tuaku mengurus pesantren, mereka juga tengah mengembangkan bisnis yang mereka bangun mandiri. Aku dibesarkan dalam keluarga cemara, memberiku kebebasan berekspresi, namun tetap dalam aturan ilahi.
Anak laki-laki itu, dia bernama Al-Munawwar Habiburrahman. Orang tuanya sahabat dekat orang tuaku. Wajahnya minim ekspresi, mulutnya jarang bersuara, serta kepribadiannya yang abu-abu di mataku. Dia terlihat begitu menjengkelkan dengan sorot matanya yang senantiasa datar, namun tampak mengintimidasi. Aku kesal padanya, namun perasaan takut melihat ekspresi itu jauh lebih besar.
Aku meraih tangannya, hendak meminta maaf karena telah menjatuhkan mainannya, namun ia malah meninggalkanku bersama mainan rusaknya. Kulihat ia menghampiri ibunya, matanya terlihat berkaca-kaca sambil ia menceritakan bahwa mainannya rusak karena tak sengaja jatuh olehku. Rautnya kesal, ia rela mainan yang baru ia beli dengan uang tabungannya rusak begitu saja dalam waktu singkat. Ia kesal, namun ia tak menumpahkan amarahnya di hadapanku. Ibunya menenangkannya lalu memeluknya erat.
Anak laki-laki itu pergi ke kamarnya, sementara aku masih menangis. Tak lama, dia kembali menghampiriku, masih dengan raut kesal di wajahnya yang membuatku semakin takut. Ekspresinya tak dapat berbohong, hatinya masih dongkol. Namun tak kusangka, ia ternyata malah memberiku sebuah permen.
"Ayo, main lagi, aku masih punya mainan lain," ujarnya. Ia menunjuk lemari kecil di depan kamarnya-saat ini aku sedang diajak orang tuaku berkunjung ke rumahnya. "Tapi kamu harus beresin mainan yang tadi kamu rusakin ya."
Aku mengangguk antusias, lalu membereskan mainan yang tadi telah kurusak sambil dibantu olehnya. Dia adalah anak laki-laki hebat di mataku, dia mengerikan namun hatinya baik, dia sahabat pertamaku, Al-Munawwar Habiburrahman.
Ini terjadi saat aku masih berusia lima tahun. Sampai pada akhirnya aku dan dirinya harus menempuh pendidikan jenjang Madrasah Aliyah di pesantren kecil milik kakekku.
"Kenapa harus pesantren milik Kakek sih, Aba?" tanyaku pada Aba.
"Karena mana mungkin kita masukin anak orang ke pesantren Kakek tapi cucunya nggak mau masuk sih?"
"Loh? Kok?"
*****
KAMU SEDANG MEMBACA
Pangeran Masjid
Fiksi Remaja"Cucu yang punya pondok mah enak," . . . . Menjadi cucu satu-satunya dari pemilik tempat dirinya menimba ilmu membuat Syarifah harus menerima berbagai respon. Bakatnya yang tak diakui dan pencapaiannya yang tak diapresiasi para santri di pesantrenny...
