Revandra Adelion Wijaya dan Aurhel Alana Bramantyo-dua sahabat masa kecil yang kembali dipertemukan di bangku SMA setelah lama terpisah. Revan, pewaris SMA 48 Wijaya, dan Lana, gadis penuh semangat yang bercita-cita menjadi idol, menemukan benang me...
Waktu seperti berhenti di tengah tiupan euphonium dan trumpet yang membelah udara senja.
Di lapangan utama SMA 48 Wijaya, derap langkah barisan marching band terdengar ritmis, seragam, seolah dunia sedang mempersiapkan panggung besar untuk masa depan. Namun bagi dua anak manusia itu—Revandra Adelion Wijaya dan Aurhel Alana Bramantyo—yang terdengar bukan hanya ritme musik.
Yang terdengar adalah panggilan takdir.
Revan menatap langit jingga dari balik kacamata beningnya. Nafasnya masih naik turun setelah latihan. Tangan kirinya menggenggam euphonium, alat musik tiup logam yang dulu hanya ia pandang dari jauh—sampai satu nama membuatnya mendekat.
Lana.
Sahabat masa kecil yang kini berdiri tak jauh darinya, menggenggam trumpet dengan mata berbinar, seolah baru saja menemukan bagian dirinya yang hilang.
Mereka kembali duduk di bangku SMA bersama-sama, setelah bertahun-tahun terpisah jarak dan benua. Revan yang menghabiskan masa SMP-nya di Jepang. Lana yang tumbuh dan bermimpi di Jakarta, mengintip dunia panggung dan idol dari balik layar.
Kini, mereka kembali dipertemukan—di satu tempat, di satu sekolah, dan dalam satu irama.
Namun, irama itu bukan hanya tentang musik.
Ini adalah kisah tentang dua mimpi yang berjalan beriringan: Satu ingin berdiri di atas podium kejuaraan nasional marching band. Satu ingin menari dan bernyanyi di panggung megah sebagai idola jutaan mata.
Dan dalam harmoni yang nyaris sempurna itu, ada yang mulai bergesekan: Ambisi. Perasaan yang belum sempat diucapkan. Tekanan dari luar. Kecemburuan dari dalam.
Karena dunia tidak pernah cukup adil untuk memberi tempat bagi dua bintang yang bersinar di waktu yang sama.
Tapi Revan dan Lana tak ingin bersaing. Mereka ingin membuktikan bahwa dua dunia bisa menyatu... ...dalam satu lagu, dalam satu langkah, dalam satu hati.
Dan semuanya dimulai dari nada pertama— Nada yang mereka mainkan bersama, Nada yang membuat mereka saling mencari, Nada yang memanggil mereka pulang.
Revandra Adelion Wijaya
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.