1. 21st

12.1K 302 247
                                        

[⚠️⚠️⚠️⚠️⚠️⚠️]

P A R T  I  :  R O S E  H I L L S

Chapter 1: 21st





; contains very strong wording and mature theme. Please be responsible. Know when you have to step out.





𝕮𝖍𝖆𝖕𝖙𝖊𝖗 𝕴: 21𝖘𝖙



Aku diberikan panggilan macam-macam karena seragam ini.

Pelacur, sugar baby, perusak hubungan orang, pelayan Hooters from Temu, apa lagi? Oh, jangan lupa mereka suka bilang pantatku kecil. Really, ada apa, sih, dengan cowok-cowok yang bilang pantatku kecil, tapi masih menaruh minat untuk menyentuhnya? Sekarang aku sudah tidak terlalu memikirkannya karena aku dibayar untuk memakai seragam ini, meskipun aku masih keberatan harus masuk ke dalam lounge itu lagi untuk bersih-bersih karena saat aku menaruh piring tadi, seseorang menyelipkan gulungan uang tip ke dalam belahan dadaku.

Aku mematung, tidak sempat menegakkan punggung setelah membungkuk untuk menata piring-piring di atas meja. Cowok itu menatapku tanpa emosi, mulutnya yang bau bir mengatakan kalau aku boleh pergi, meskipun pandangannya berbicara pada dadaku dan memaksaku untuk tinggal, tapi yang menarik perhatianku malah cowok di sebelahnya. Aku melihat matanya yang berwarna kekuningan itu menyorot padaku, ada pengenalan dalam tatapannya. Aku buru-buru berdiri lagi saat pandangannya yang selalu tampak tenang dan menatap ramah padaku itu ikut-ikutan terarah pada dadaku, tidak ingin kepalaku mengubah persepsi kalau cowok ganteng yang merupakan tetanggaku ini berani punya pikiran kotor tentangku.

Sesepele apa pun kedengarannya, itulah bagaimana aku berakhir di dalam kamar mandi The Shipyard, kafe dan lounge di pinggir dermaga tempat aku bekerja. Target pelanggan utamanya jelas cowok-cowok, mulai dari para pelaut dan kru pesiar yang sedang menepi, pria-pria setengah abad yang bekerja di daerah dermaga, sampai anak-anak kuliahan. Sehingga setiap sore sampai malam aku harus memakai tank top tipis ketat berwarna putih dengan logo kapal berwarna merah di bagian tengahnya juga booty shorts merah elastis.

Entah sudah berapa kali aku dilecehkan karena seragam ini, tapi pekerjaanku sekarang termasuk easy money. Masuk empat hari seminggu, sore sampai tengah malam, gaji dibayarkan tepat waktu. Belum lagi uang tip dari pelanggan-pelangganku, seperti cowok yang tadi menyelipkan uang ke belahan dadaku. Setelah kuhitung-hitung lagi totalnya tiga ratus ribu, cukup untuk makan seminggu, mungkin lebih.

Seseorang menggedor pintu kamar mandi.

"Hey! Kamu pingsan yah? Cepat keluar!"

Aku akhirnya membuka pintu dan berekspresi muram. "Sorry."

Itu si bartender, Michael. Mengabaikan pelototan ganasnya, aku berjalan keluar dan bersembunyi di balkon yang pintunya selalu ditutup karena angin kencang. Tempat ini berada tepat di depan dek tempat kapal-kapal ditambatkan, jadi pemandangan yang kulihat dari balkon adalah badan-badan besi kapal pesiar yang sedang merapat. Anginnya tidak begitu keras malam ini, tapi udara lembap seperti biasanya. Kulitku lengket, dulu aku selalu mandi setiap pulang kerja, tapi belakangan aku terlalu capek. Aku hanya menggosok gigi, lalu tidur, lalu bangun dan kembali merasa tidak berguna sampai akhirnya aku harus berangkat kerja lagi, lalu dilecehkan lagi, lalu pulang lagi.

"Kakak kerja di sini?"

Aku terperanjat.

Di balkon sebelah tetanggaku merokok membelakangi dermaga. Pinggangnya bersandar pada susuran besi dan lengannya terlipat dalam posisi santai. Sambil tersenyum cowok itu membuang asap rokoknya ke belakang, melewati bahunya ke arah kapal-kapal yang parkir. Gerakan itu memperjelas tulang-tulang di leher dan bahunya, dan selama sesaat aku hanya memperhatikan caranya menghisap rokok dan tertawa tanpa suara padaku. Asap rokok yang berembus dari hidung dan bibirnya mengaburkan wajah cowok itu.

itwwm.Where stories live. Discover now