Pagi itu, matahari baru nongol setengah, tapi suara Khaera udah muncul sepenuh hati.
"HAIKAL!!!"
Burung-burung di pohon mangga langsung diam. Bahkan kucing di bawah meja pun ngeloyor pergi kayak merasa hidupnya dalam bahaya.
Dari rumah sebelah, muncullah seorang cowok berbaju singlet belel dan celana pendek, dengan rambut acak-acakan yang kayak belum bisa move on dari bantal. Haikal, tetangga menyebalkan yang doyan banget bikin darah Khaera naik sampai ubun-ubun.
"Aduh, suara kamu tuh ya, Kaer, pagi-pagi bikin jantungku deg-degan. Alarm rumah kalah nyaring," ucap Haikal dengan senyum nyebelin andalannya.
"Alarm kepala kamu benjol!" Khaera melemparkan kaus dalam berwarna biru yang nyangkut di pagarnya. "Ini baju kamu! Jemur jangan ngawur! Angin itu bukan ojek buat nitipin cucian ke rumah orang!"
Haikal menangkap bajunya dengan gaya sok atlet voli. Lalu dengan santainya dia kibas-kibasin itu baju seakan nggak ada dosa, sambil nyengir lebar.
"Maafin yaa, Kaer. Mungkin bajuku sayang sama kamu, makanya nyari perhatian."
Khaera melotot. "Haikal, satu kata lagi, gue siram lo pake air bekas cucian piring!"
"Satu kata..." Haikal pura-pura mikir sambil mengangkat jari telunjuk ke mulutnya, "Sayang." Sambil aegyo
Guyuran air benar-benar melayang, tapi Haikal udah loncat balik ke rumahnya duluan sambil ketawa ngakak. Khaera mendengus keras, lalu menatap sisa air di ember. Dalam hati dia berdoa semoga ember berikutnya isinya bukan sabun cuci piring, tapi batu bata.
Khaerapun masuk rumah dengan mendumel 100 kata upatan, Sementara itu, Haikal, di balik tembok rumahnya, nyengir kecil sambil megang kaus yang tadi sengaja dia jemur dekat pagar. Jemurannya mungkin nyangkut lagi besok. Dan itu bukan karena angin.
Yah haikal sengaja melembar bajunya ke rumah khaera agar dia marah-marah karna menurut haikla marah nya khaera sangat lah lucu dan dia suka itu.
Siang hari saat khaera ingin menyapu halaman dia bertemu lagi dengan anomaly yang sangat dia benci. Siapa lagi kalo bukan haikal. Khaera benar-benar tidak mengerti, kenapa cowok kaya Haikal bisa punya banyak fans. Padahal kelakuannya lebih mirip badut dibanding pangeran. Tiap pagi, ibu-ibu kompleks nyapa Haikal dengan senyum berbunga.
"Wah, Mas Haikal makin ganteng aja ya. Jemurnya rajin, lho."
"Mas Haikal, minta diajarin senam dong, biar semangat kayak Mas."
Belum lagi anak-anak SMA yang suka nongkrong depan warung, teriak-teriak tiap Haikal lewat, "Mas Haikal, salam dari kita dong! GOMBALIN KITA MAS!"
Dan dengan gaya sok artis, Haikal akan berhenti, lempar senyum, dan meluncurkan satu kalimat maut.
"Maaf ya, yang bisa kugombalin cuma satu. Tapi dia galaknya setengah mati."
Tebak siapa yang dimaksud?
Ya. Khaera.
Dan itu bikin Khaera makin pengen ngasih sandal swallow ke jidatnya.
Di mata semua orang, Haikal itu charming, lucu, dan asyik. Tapi di mata Khaera? Dia adalah kombinasi antara berisik, nyebelin, dan terlalu percaya diri.
"Cowok sok perhatian, sok ganteng, sok lucu," gerutu Khaera sambil nyapu halaman.
Tetangga sebelah, Bu Mira, hanya tertawa. "Eh, kamu tuh kayak sinetron, Kaer. Makin kamu benci, makin jodoh katanya."
Khaera mendelik. "Bu, mending saya jodoh sama tukang galon deh berguna sedikit . daripada dia Minimal dia nggak gombal tiap hari."
Tapi dalam hati, Khaera tau, yang bikin dia kesal bukan cuma karena Haikal populer.
Haikal selalu tahu caranya bikin dia jadi pusat perhatian. Padahal dia nggak minta. Dia cuma pengen hidup tenang tanpa ada cowok kampung sebelah yang tiap hari bikin deg-degan antara marah atau baper.
Dan Haikal? Dia tahu persis semua itu.
Makanya dia selalu senyum tiap lihat Khaera ngedumel dari jauh.
Karena buat Haikal...
Disapa atau dimarahin Khaera, rasanya sama-sama bikin nagih.
be continue
hai hai guys aku coba bikin novel maaf kalo gaaje hehehehehe hope u guys like it
YOU ARE READING
Tukang marah vs tukang gombal
Teen FictionDunia ini kadang terlalu kecil untuk dua orang yang saling bertolak belakang. Apalagi kalau keduanya tinggal di gang yang sama, ngelewatin warung yang sama, bahkan rebutan tukang sayur yang sama. Dia, si tukang marah. khaera. Cewek jutek tingkat dew...
