BAB 1: 1460 Hari

427 10 0
                                        

🍰🍓🍰🍓

1.460 Hari

Angka itu terus berputar di kepala Anne seperti kaset rusak. Jika dikonversi ke dalam jam, menit, atau detik, mungkin jumlahnya akan terlalu mengerikan untuk dihitung sebagai sebuah masa penantian. Bagi orang lain, empat tahun adalah waktu yang cukup untuk membangun sebuah gedung, menyelesaikan gelar sarjana, atau melihat seorang bayi belajar berlari. Namun bagi Anne, empat tahun hanyalah waktu yang ia habiskan untuk mengetuk pintu hati yang pemiliknya bahkan telah membuang kuncinya ke dasar laut.

Malam ini adalah malam ulang tahun pernikahan mereka yang keempat.Empat tahun sudah mereka bersama, tapi seolah waktu tak pernah membawa perubahan apa pun. Sikap dingin Samuel tetap sama, jarak di antara mereka tak pernah mengecil, dan kehangatan rumah itu seolah tak pernah benar-benar ada.

Anne masih bertahan dengan kesabarannya. Malam ini, ia duduk di meja makan, senyum manis terpasang di bibirnya meski matanya mulai sayu karena lelah menunggu.  Jam dinding kuno di ruang tamu berdetak dengan suara yang terasa sangat keras di tengah kesunyian rumah. Tik. Tok. Tik. Tok. Setiap detiknya seolah mengejek Anne yang masih saja bertahan dengan gaun tidur berbahan satin warna merah marun. Gaun yang ia beli khusus untuk malam ini, berharap Samuel akan meliriknya sedikit lebih lama.

Di hadapannya, tersaji menu yang disiapkan dengan penuh ketelitian sejak sore tadi. Ayam kecap dengan bumbu meresap yang berkilau di bawah lampu gantung, dan sebuah kue stroberi cantik dengan krim putih yang mulai sedikit meleleh karena suhu ruangan. Stroberi di atasnya tampak segar, merah merona, mengingatkan Anne pada pertemuan pertama mereka. Saat itu, Samuel mencicipi kue buatannya di rumah kecil Anne. Anne masih ingat bagaimana mata Samuel sedikit melebar, sebuah reaksi spontan yang menunjukkan ketertarikan, meski pria itu hanya bergumam, "Lumayan."

"Lumayan" bagi Samuel saat itu adalah harapan besar bagi Anne. Siapa sangka, empat tahun kemudian, kata itu pun sudah enggan Samuel ucapkan.

Pukul 23.30.

Suara menderu mesin mobil di halaman rumah membuat jantung Anne berdegup kencang. Ia segera berdiri, merapikan sedikit rambutnya yang tergerai, dan memastikan senyumnya sudah terpasang sempurna. Ia ingin terlihat cantik. Ia ingin Samuel melihat bahwa istrinya masih setia menunggu, meskipun dunia luar mungkin jauh lebih menarik bagi suaminya.

Pintu depan terbuka dengan sentakan kasar. Samuel melangkah masuk. Aroma maskulin yang bercampur dengan bau asap rokok dan sedikit jejak alkohol langsung memenuhi indra penciuman Anne. Penampilan Samuel tampak kacau. Dasinya sudah lepas dan tersampir di kantong jas, lengan kemejanya digulung asal-asalan.

"Kak, sudah pulang?" sapa Anne basa basi dengan nada yang ia buat seringan mungkin, seolah ia tidak baru saja menghabiskan empat jam menunggu dalam kegelapan.

Samuel tidak menjawab. Ia bahkan tidak menatap Anne. Pria itu terus berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum.

"Aku sudah siapkan makan malam," Anne mengikuti dari belakang, suaranya sedikit mengecil saat melihat punggung tegap itu tetap terasa seperti tembok raksasa. "Aku masak ayam kecap kesukaan kamu. Dan... ada kue stroberi juga. Ini kan hari ulang tahun pernikahan kita, Kak."

Samuel berhenti meneguk airnya. Ia meletakkan gelas dengan denting yang cukup keras di atas meja granit. "Buang aja," ucapnya datar.

Anne mematung. "Tapi, Kak, aku masaknya dari sore--"

"Gue bilang buang, ya buang! Tuli lo ya?" Samuel berbalik, menatap Anne dengan mata yang merah, bukan karena haru, tapi karena kelelahan dan iritasi. "Gue capek. Gue kerja seharian buat dapet duit yang sebagiannya lo pake buat beli bahan makanan sampah ini, dan sekarang lo mau maksa gue makan disaat gue cuma pengen tidur?"

"Aku enggak maksa, Kak. Aku cuma pengen kita duduk sebentar saja. Empat tahun, Kak... masa enggak ada sedikit pun perubahan di antara kita?" Air mata mulai menggenang di pelupis Anne. Ia mencoba menahan diri agar tidak terisak, karena ia tahu Samuel membenci air mata.

Samuel tertawa sinis, sebuah tawa kering yang menusuk ulu hati Anne. "Perubahan? Lo mau perubahan apa? Lo mau gue peluk lo? Mau gue bilang 'Selamat ulang tahun pernikahan, istriku tersayang'?" Samuel melangkah maju, memangkas jarak hingga Anne bisa merasakan hawa panas dari tubuh suaminya yang penuh kemarahan.

"Denger ya. Seribu tahun pun lo nunggu di meja makan ini, perasaan gue enggak akan berubah. Gue enggak pernah nganggep pernikahan ini ada. Lo itu cuma wanita yang dipaksain Nenek ke gue supaya warisan gue enggak cair ke orang lain. Lo itu cuma alat. Paham?"

Kalimat itu meluncur seperti pisau dapur yang tajam, menyayat perlahan di bagian paling rapuh dari hati Anne. "Tapi aku berusaha, Kak. Aku selalu berusaha jadi istri yang baik buat kamu. Aku enggak pernah minta apa-apa, aku cuma minta dianggap ada..."

"Berisik!" bentak Samuel. "Hidup gue hancur sejak hari gue bilang 'iya' buat pernikahan ini. Setiap kali gue liat muka lo, gue cuma diingetin soal betapa gue enggak punya kuasa atas hidup gue sendiri. Jadi, berhenti akting jadi istri yang paling teraniaya. Lo dapet rumah ini, lo dapet uang, lo dapet status. Kurang apa lagi?"

"Aku butuh kamu, Kak! Bukan uang kamu!" teriak Anne, akhirnya pertahanannya runtuh. Isakannya pecah memenuhi ruang dapur yang dingin.

Samuel hanya menatapnya dengan pandangan jijik. Ia menggelengkan kepala, lalu berbalik pergi menuju kamar utama. "Kalau lo butuh cinta, lo salah orang. Tidur di sofa atau di mana pun terserah lo, asal jangan berisik di rumah gue."

BRAK!

Pintu kamar terbanting menutup. Suaranya menggema, memutus harapan terakhir Anne malam itu.

Anne merosot ke lantai dapur yang dingin. Ia menatap kue stroberi di atas meja. Lilin di atasnya sudah mati, menyisakan asap tipis yang terbang menghilang ke udara. Ia meraih sendok dengan tangan gemetar, mengambil sesendok krim stroberi dan memasukkannya ke mulut.

Rasanya manis. Sangat manis. Tapi entah kenapa, saat melewati tenggorokannya, rasa manis itu berubah menjadi pahit yang luar biasa. Pahit yang merambat hingga ke dadanya, membuatnya sesak hingga ia kesulitan bernapas.

Malam itu, di bawah cahaya lampu dapur yang temaram, Anne menghabiskan malamnya dengan membuang ayam kecap itu ke tempat sampah, sepotong demi sepotong. Setiap potongan yang jatuh seolah mewakili setiap harapan yang ia lepaskan.

Ia tersadar, di rumah ini, ia memang bukan seorang istri. Ia hanyalah sebuah bayangan yang dipaksa tinggal, mendiami sebuah tempat yang disebut rumah, namun tak pernah mendapatkan kehangatan dari apinya.

Samuel berdiri di balik pintu kamar yang tertutup, mendengarkan isakan Anne dari dapur. Ia sempat memegang gagang pintu, berniat keluar dan mungkin mengucapkan maaf. Namun, bayangan wajah ayahnya yang selalu menuntutnya menjadi "pemenang" muncul di kepala. Bagi Samuel, meminta maaf adalah tanda kekalahan. Ia melepaskan gagang pintu itu dan memilih menyalakan musik dengan volume tinggi untuk menenggelamkan suara tangis istrinya.

Kue StroberiWhere stories live. Discover now