PROLOG

87 19 29
                                        

Sebuah bangunan klasik sederhana berdiri dengan kondisi agak lapuk. Di sana tinggal lah seorang pemuda dewasa yang kini tengah menyiram melati di halaman. Sesekali ia menyapa makhluk hidup lain yang tengah beterbangan dan hinggap di beberapa tanaman yang tumbuh di sekitarnya. Di antaranya bonsai yang terlalu tua, bunga melati yang kini tengah disiram, sayuran yang biasa dijumpai di pasar, dan bunga anggrek yang tumbuh di batang pohon mangga manalagi. Pohon buah peninggalan kakek yang biasanya sering mereka buat rujak kala itu. Tidak banyak tapi lumayan untuk memenuhi halaman rumahnya dengan luas yang tidak seberapa itu.

Di tengah kegiatannya menyiram dan menyapa makhluk lain itu terdengar lah bunyi benda terjatuh cukup nyaring dari dalam rumah "pyaarrrr!!"

"Mulai lagi," gumam pemuda itu dengan nada pasrah. Sambil meletakkan penyiram bunga atau yang biasa disebut gembor itu, ia bergerak menuju dalam rumah menemui sumber suara tadi.

Setibanya pemuda itu di ruang tamu, seekor kucing hitam putih gendut keluar dari pintu ruangan lain. Ruangan lain itu adalah dapur. Karena rumah pemuda itu adalah bangunan klasik kuno yang cukup tua dan sederhana, jadi tata letak ruangannya juga seadanya. Dimana ruang dapur bersebelahan dengan ruang tamu, di sisi agak belakang adalah kamar tidur dari pemuda itu. Sementara kamar mandi dan toilet jadi satu di belakang rumah secara terpisah.

Kembali ke cerita awal, pemuda itu langsung menuju dapur dan melihat piring kaca yang pecah berceceran, gelas, serta teko antik yang menggelinding. Agaknya ia hanya bisa mengelus dada dan sesekali berkacak pinggang. Di pikirannya, apa salah dan dosanya kepada makhluk obesitas itu sampai merealisasikan dendamnya kepada dapur kesayangannya. Tempat ia mengganjal lapar dan menambah gizi.

Pemuda itu segera mengambil teko kesayangannya yang menggelinding lalu meletakkannya ke tempat semula. Sementara untuk serpihan piring yang pecah segera ia pungut dan meletakkannya ke dalam kresek merah untuk dibuangnya ke tempat sampah di samping tabung gas melon. Pekerjaan mendadak yang diciptakan oleh makhluk gembul itu telah ia selesaikan, ia bergegas untuk memanaskan air dan berniat membuat kopi hitam untuk menemaninya mengerjakan tugas akhir di perkuliahan.

Sembari ia memanaskan air, kucing gembul itu lewat depan jendela menghadap kompor yang ia gunakan. Seperti memberi isyarat, kucing itu hendak berbicara namun terkendala keterbatasan kemampuan bahasa. Kucing itu hanya mengeong dengan memajukan kepalanya ke pemuda itu dengan suara yang agak lantang, namun mata kucing itu menyorot jauh ke ruangan lain yang menimbulkan suara-suara kecil yakni pergesekan kertas dengan alat percetakan yang agak macet. Pemuda itu hanya merespon seperti biasa, raut wajahnya menunjukkan itu bukan lah sesuatu yang baru atau hal yang mampu membuatnya terkagum.

"Itu sudah biasa, biarkan saja sebentar lagi juga berhenti kalau sudah bosan," ucap pemuda itu. Namun, bukannya diam atau pergi, kucing itu semakin melolongkan suara lebih lantang. Matanya semakin tertuju tajam ke ruangan itu, lalu melompat melewati kompor dan air yang dididihkan di panci sehingga membuat pemuda itu terkejut.

"Hei, kau mengagetkanku Bob!" pemuda itu hendak menyusul Bobi, nama kucing gembulnya menuju ruangan yang menjadi sumber suara tadi. Namun, baru lima langkah, ia teringat dengan kompornya yang masih menyala, ia kembali untuk mematikan kompornya dengan tergesa dan melanjutkan untuk menyusul Bobi.

Setibanya di depan ruangan itu, ia langsung membuka pintu bersama Bobi yang selalu tiba-tiba sudah berada di samping kakinya. Pemandangan di depannya hanya ada mesin cetak yang tengah bekerja sendirian dan laptop yang terbuka menampilkan tugas akhir yang tengah ia hadapi. Kertas demi kertas perlahan keluar dari alat itu dengan tinta yang sudah berderet rapi. Pemuda itu mengambil satu lembar kertas dan mengamatinya sekilas. Lalu ia mengedarkan pandangan dan berbicara dengan angin. Iya, angin.

"Padahal ini masih tahap revisi, baru saja ingin kutambahi poin penting tapi kalian sudah mencetaknya saja." Ucapnya sambil menggelengkan kepala.

Dari arah belakang datang lah suara yang sangat familiar di telinga pemuda itu tanpa adanya bunyi jejak kaki, hanya ada hembusan angin yang cukup dingin. "Tadinya ayah ingin mengamati saja, dan membaca bab 2 kamu sekaligus ingin membantumu merevisi tapi kakekmu ini malah langsung mencetaknya," sahut suara itu yang ternyata adalah ayah dari pemuda itu.

Setelah itu datang lagi hembusan angin yang kedua lalu ikut menyahuti perkataan ayah dari pemuda itu "Kalian berdua terlalu lama untuk berpikir, kakek tidak akan segan menunggu kalian untuk segera mencetaknya. Kakek hanya ingin melihat cucu kakek segera lulus sebelum kakek benar-benar akan segera pergi."

"Iya, aku paham kekhawatiranmu, Kek. Tapi ini belum selesai, aku masih harus menambahkan poin penting di sini. Jika seperti ini, maka kertasku akan habis terlebih dahulu sebelum aku menyelesaikan skripsiku," jawab pemuda itu untuk memberi pemahaman ke kakeknya.

Kakek itu hanya memasang wajah cemberut lalu disusul tepukan pelan dari ayah pemuda itu di punggungnya. "Tidak apa-apa, nampaknya memang kita ini yang terlalu bersemangat, ayah. Biarkan putraku ini menyelesaikan tugas akhirnya dengan tenang tanpa terburu-buru," kata ayah pemuda itu menenangkan sang kakek. "Tugas kita di sini hanya menjalankan benda tua ini agar kesayangan kita lancer dalam menyiapkan kelulusannya."

"Iya, benar sekali perkataanmu, Bambang," sahut si kakek membenarkan.

"Eh, bukan hanya itu ya tugas kalian!" ucap pemuda itu menimpali. Ayah dan kakek dari pemuda itu nampak kebingungan dan saling berhadapan, bertanya satu sama lain guna mendapatkan jawaban.

"Kalian harus menemaniku sampai kapan pun, tidak peduli aku sudah lulus atau belum. Kalian harus tetap berada di sisiku!" pemuda itu agak sedikit meninggikan nada suaranya, menandakan setiap kata yang diucapkan adalah keseriusan.

"Baik lah, kita akan tetap di sini sampai waktu yang kita sendiri tidak tahu kapan habisnya, Raffa," jawab sang ayah.

Raffa, nama dari pemuda itu. Mata Raffa tampak sedikit berkaca-kaca, ingin sekali ia memeluk ayah dan kakek yang selalu ia lihat namun tidak bisa disentuh. Meskipun setiap hari ia dapat melihat keduanya, kerinduan itu akan selalu ada. Karena kenangan masa kecil bersama mereka terlalu indah, dan dia tidak dapat merasakannya kembali akibat kejadian naas yang menimpa keluarga mereka beberapa tahun silam.

"Kamu ingin memeluk kita? Ayo peluk saja kalau berani," tantang sang kakek. Raffa hanya tersenyum tipis, ingin sekali ia memeluk keduanya tapi hal itu tidak mungkin terjadi.

"Kakek menantangku? Mustahil kalau aku tidak berani, Kek. Hanya saja aku belum bisa," alasan Raffa yang sebenarnya sudah sangat diketahui ayah dah kakeknya.

"Ya, ya.. kakek sangat memahamimu."

Setelah itu hanya ada tawa yang terjadi antar ketiganya. Tawa yang lebih terdengar sedikit miris. 

To be continue .....

PRINTER TUA  (TERBIT) Where stories live. Discover now