Hidup Kay jungkir balik dalam satu hari. Kenyamanan finansial yang selalu ia dapatkan terenggut paksa karena perusahaan percetakan yang dimiliki sang Ayah harus gulung tikar. Kay dan keluarganya kehilangan segalanya. Rumah mewah mereka disita karena...
Oops! Questa immagine non segue le nostre linee guida sui contenuti. Per continuare la pubblicazione, provare a rimuoverlo o caricare un altro.
***
"Maaf, pembayarannya ditolak."
Mendengar hal itu bukan saja membuat Kay terkejut, tapi wajahnya langsung memerah karena rasa malu. Sore ini, seperti biasa ia mengepalai teman-temannya untuk nongkrong di sebuah kafe yang tidak jauh dari kampus mereka. Dan seperti biasa juga, Kay sesumbar akan mentraktir teman-temannya yang berjumlah enam orang.
Dan kejadian seperti sore ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Pembayaran kartu kreditnya ditolak? Mana mungkin bisa?
Dengan senyum canggung, ia buka kembali dompet kecil bermerek yang ia genggam erat di tangan. Biasa menggesek kartunya tanpa banyak mikir, membuat Kay langsung panik sampai berkeringat dingin ketika tahu kartunya menolak pembayaran seperti sekarang.
"Coba yang ini," ucap Kay agak menekan, sembari ia sodorkan satu keping kartu kreditnya yang lain pada kasir kafe itu. Ia lihati kemudian kartu pertamanya barusan yang baru saja ia terima kembali. "Ini serius udah dicoba 'kan? Masnya benar gak sih prosesnya?"
Di balik meja kasir, seorang pria dengan rambut gondrong dan dikuncir mendelik tidak suka dengan cara Kay bertanya. Namun bibirnya tetap tersenyum demi menunjukkan keramah-tamahan. "Sudah betul, kok," jawabnya pelan sembari mencoba untuk memproses pembayaran dengan kartu Kay yang baru. "Maaf, ini juga ditolak."
Wajah Kay sontak memucat. Ia sudah kehilangan muka sekarang sampai takut dia untuk menoleh ke arah teman-temannya yang berbaris agak di belakang.
"Kay, kalau gak bisa, pakai kartu gue aja, deh!" seru salah satu temannya sembari menyodorkan sebuah kartu debit ke arah kasir tadi.
Namun Kay segera menggeleng kencang, menahan tangan temannya tadi sembari matanya mendelik. Ini adalah penghinaan untuk Kay kalau sampai ia dibayarin minum kopi. Sempat Kay melirik panjang antrian pembeli lain di belakang teman-temannya—yang kebanyakan juga merupakan mahasiwa dari kampus—sudah menunggu dengan wajah bete.
"Coba lagi, Mas! Gak mungkin gak bisa! Semalam saya habis borong baju dan sepatu di storenya Balenciaga di PI. Masih bisa, kok! Ini masa kopi timbang delapan ratus ribu gak bisa?"
Mata kasir tadi perlahan-lahan mulai kehilangan kesan ramahnya. Dari sejak Kay menyebutkan pesanan minumannya tadi, pria kasir itu sebenarnya sudah kesal dengan gayanya yang congkak. Sembari mengembuskan napas kasar, kasir tersebut kembali mencoba untuk memproses kartu milik Kay.
"Astaga! Ini gak bisa lho, Mas," ucap kasir tadi yang tampaknya sudah benar-benar kehilangan kesabaran.
Waktu Kay bagai terhenti. Matanya mendelik ngeri sembari diam-diam ia gigiti bibir bawahnya. Mampus! Ini kenapa, sih? Aku gak ada masalah sama Ayah. Tadi pagi dia bahkan peluk aku. Gak mungkin kartu kredit aku dinonaktifin 'kan?
Selama ini, Rajan Hemil Kaylilo, selalu bergelimang harta selama dua puluh tahun ia hidup. Ayahnya merupakan keturunan pertama pewaris perusahaan percetakan dari sang kakek. Kay, sudah menggigit sendok emas sejak dia lahir.