"Ini di mana.."
"Ina.."
"Mau Ina.."
"Hiks.. hiks.. Inaa.."
"Mau Inaaa.. hiks.. hiks.."
"HUAAAAAAAAAAAAAAA!!!"
Suara tangis yang begitu nyaring berhasil membangunkan Jennie dari tidur myenyaknya. Diliriknya ke arah ranjang, terlihat Jisoo yang terduduk sambil menangis.
"Baby sudah bangun?? Syukurlah.. sebentar, mommy panggil dokter ya.", tutur Jennie sembari berlari ke luar ruangan.
Padahal bisa saja dia memencet bel yang nantinya akan terhubung ke tempat suster jaga, namun karena terlalu senang dirinya pun melupakan itu dan malah memanggil sendiri ke ruangan dokter.
"Hikss.. mau Inaaa.. hikss.. hikss..", tangis Jisoo yang terus memanggil nama adiknya.
Tak butuh waktu lama, Jennie kembali bersama dokter yang menjaga malam itu. Dokter mengecek secara menyeluruh kondisi Jisoo.
"Hiks.. dokter.. mana Ina? Kok Ina nggak ada? Hiks.. hiks..", tanya Jisoo pada dokter itu.
"Ina?", dokter mengerutkan kening.
"Karina, Dokter. Adiknya Jisoo. Dia juga dirawat di ruangan lain.", tutur Jennie yang memberikan informasi pada dokternya.
"Oh, begitu. Ina sedang tidur di ruangan lain. Adik tidak perlu khawatir, ya. Besok adik bisa menemui Ina.", ucap dokter itu pada Jisoo.
Jisoo mengelap air matanya dan mengangguk. "Dokter, ini siapa?", tanyanya sambil menunjuk Jennie.
"Nee??? Baby, ini mommy. Baby tidak ingat?", tanta Jennie spontan dengan wajah khawatir.
Jisoo menggelengkan kepalanya.
"Kalau nama adik? Apa adik ingat?", tanya dokter pada Jisoo.
"Inget, dong! Namaku baby!", jawab Jisoo dengan semangat.
"Baby itu panggilan, Sayang.", ucap Jennie memberi tahu.
"Nono! Baby itu nama aku! Kamu siapa? Mana Ina?? Baby mau Inaaa!! Dokter, baby mau ketemu Ina sekarang!! Huaaaaaaa.. mau Inaaa.. hiks.. hiks.. Inaaa..", tangis Jisoo pun kembali pecah.
Membuat Jennie kebingungan, tidak tahu harus apa. Sepertinya ada yang tidak beres dengan otak Jisoo. Ya, kalo kata author sih emang nggak pernah beres otaknya. Ahahahaha..
Ok, balik lagi.
Dokter pun memanggil suster untuk membawakan obat penenang karena Jisoo yang mulai memberontak mencari keberadaan Karina. Bukannya tak mau mengantarnya pada Karina, tetapi gadis itu masih berada di PICU. Karina, Minji, dan Krystal belum sadarkan diri sejak melewati masa kritisnya kemarin. Jinoo dan Giselle sudah mulai sadar, tetapi masih butuh banyak istirahat yang maksimal.
"Dokter, apa yang terjadi dengan putri saya? Apa dia.. lupa ingatan?", tanya Jennie khawatir.
"Kami belum bisa memastikannya sekarang, Nyonya. Mungkin besok biar Dokter Park yang langsung melakukan observasi perihal kondisi putri Anda.", jelas dokter tersebut.
"Baik, dokter. Terima kasih."
"Sama-sama, Nyonya. Saya permisi."
"Ya."
Dokter tersebut keluar dari ruangan. Jennie menatap sendu ke arah Jisoo. Apalagi yang terjadi pada bayi besarnya itu. Sungguh, ia tak rela jika Jisoo benar-benar melupakannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Baby Chu: Manoban or Kim?
FanfictionSetelah mengalami kecelakaan bersama keluarga Kim, kini Jisoo kembali mendapatkan cobaan baru yang membuat dua keluarganya berlomba-lomba untuk menarik perhatian si bayi besar.. Cerita ini adalah sequel dari "Keluarga Kim: Panggil Aku Baby!!" yaa.. ...
