Arsitektur Retak

17 2 0
                                        

"Bukanlah kegilaan yang menjeratnya, tetapi luka yang membangun rumah di dalam pikirannya sendiri."

Aku telah tinggal di Ashenveil sepanjang hidupku. Rumah tua berderit itu menua bersama bisikan. Ia menampung embusan angin yang terlalu berat untuk pepohonan, dan menyimpan setiap suara yang pernah kubuat di balik dindingnya.

Orang-orang bilang aku sakit.
Mereka tak tahu—bahwa sakit ini bukan sesuatu yang datang dari luar, tetapi rumah yang tumbuh dari dalam. Batu demi batu, luka demi luka, membentuk arsitektur yang hanya bisa kutinggali sendirian.

Aku mulai menangis pada umur sembilan, dan tidak berhenti hingga dua puluh dua.

Tangisan itu tidak memiliki pemicu. Kadang pagi, kadang malam. Kadang saat aku makan sup, kadang saat aku duduk memandangi seprai putih yang tidak sepenuhnya putih. Ada saat-saat aku duduk di lantai, menyandarkan kepala ke dinding, dan menangis begitu saja, selama dua jam, tiga jam—seolah tubuhku mencoba mengeluarkan sesuatu yang tak pernah tertelan dengan benar.

Dan kemudian, aku akan tertawa.

Tertawa seperti anak kecil menemukan dunia kembali, seperti langit yang bisa jatuh kapan saja tapi tidak jadi. Tertawa tanpa rasa senang. Tertawa karena jika tidak, aku akan meledak.

Aku tidur tidak seperti manusia tidur. Tidur bagiku adalah perang.

Aku memutar kunci pintu tiga kali. Menyusun seprai sejajar ubin lantai. Menghitung napas sampai tiga puluh dua sebelum lampu dimatikan. Lalu, dunia pun mulai memecah.

Kadang aku bangun di kamar mandi. Kadang di tangga. Kadang dengan air mengalir di atas kepala, rambutku basah, sabun terhambur, dan kuku jari tangan berdarah. Kadang aku bicara sambil tidur. Kadang aku mendengar ... suara.

Suara itu bukan suara seseorang. Ia suara banyak orang di lorong sempit, berbicara pelan, seperti tak ingin ketahuan oleh dunia.

Tapi mereka hanya ada di kepalaku. Itu kata dokter.
Lalu aku bertanya—jika mereka hanya di kepalaku, mengapa mereka tahu nama tengah ibuku?

Malam itu, malam ke-20 bulan Desember, aku mulai menyikat kulitku.

Itu bukan mandi.

Itu pembersihan.

Penebusan.

Aku ingat memandangi bayanganku di cermin, tubuhku kurus seperti untaian kesalahan yang dijalin. Aku menyikat bahu, lengan, punggung. Darah muncul, tapi aku tidak berhenti.

"Get him off me," bisikku.

Bukan karena ada yang menempel secara nyata. Tapi karena terasa seperti ada bekas tangan—bekas tatapan—yang belum pernah hilang sejak saat-saat itu.

Aku mencoba menghilangkannya dengan sabun.

Dengan sikat.

Dengan doa yang sudah kulupakan urutannya.

Aku hanya punya keyakinan, aku berdoa.

Seperti mencium surat yang tak akan pernah dikirim.

Pernah suatu malam aku bangun dan melihat dinding berdenyut.

Seolah napas rumah menyesuaikan dengan kepanikan dalam paru-paruku. Lukisan tua di atas perapian mengubah ekspresi. Bantalku terasa hangat dengan suara-suara yang tidak kuucapkan.

Aku tertawa. Lalu menjerit.
Lalu duduk di pojok ruangan dan mencakar pergelangan sendiri karena aku pikir sesuatu mencoba keluar dari dalam kulitku.

Dokter bilang itu delusi. Bahwa aku butuh penyesuaian dosis. Tapi bagaimana kau menjelaskan bahwa aku pernah mendengar suara ibuku, yang sudah meninggal sepuluh tahun lalu, menyanyikan lagu yang hanya kami berdua tahu?

Bagaimana kau sebut itu ilusi?

Aku menyimpan jurnal. Tapi aku tidak menulisnya secara biasa.

Jurnal itu penuh dengan gambar rumah.

Selalu rumah.

Setiap gambar berbeda, tetapi semua menunjukkan ruangan-ruangan yang saling terhubung aneh. Beberapa tangga tidak menuju ke mana-mana. Beberapa lorong berakhir di cermin. Di tengah rumah, selalu ada satu kamar kosong. Kamar tanpa jendela, tanpa pintu. Hanya sebuah kursi.

Aku pernah bermimpi duduk di kursi itu. Dan mendengar langkah mendekat dari segala arah.

Hari itu, aku melihat bayangan yang bukan bayanganku sendiri.

Aku sedang duduk di lantai kamar, menatap debu yang menari dalam cahaya. Cermin kecil di samping tempat tidur menampilkan sosokku ... dan seseorang di belakangku. Tapi ketika aku menoleh, tidak ada siapa pun.

Itu terjadi dua kali.

Ketiga kalinya, aku tidak menoleh.
Aku hanya bertanya pelan, "Siapa kau?"

Dan suara perempuan menjawab, "Aku kamu yang disembunyikan."

Aku tidak menceritakan ini kepada siapa pun. Bukan karena malu. Namun, karena aku tidak yakin mana dari kita yang bercerita.

Mereka bilang otak manusia luar biasa.

Namun, rumah yang dibangun oleh trauma tidak memiliki arsitek. Ia tumbuh sendiri, seperti jamur di gelap lembap, mencari ruang. Dan dalam ruang-ruang itu, aku menciptakan versi lain dari diriku agar tidak mati.

Versi yang menangis, versi yang tertawa, versi yang memukul tembok dengan kepala, versi yang mendengarkan burung gagak.

Versi yang tahu bahwa dunia tidak aman, dan bahwa kehidupan bukanlah tempat berlindung, melainkan reruntuhan yang harus kita petakan sendiri.

Pada akhirnya, aku duduk di kursi tua Ashenveil, mendengarkan gemeretak dinding seperti bisikan.

Hari ini tidak ada jeritan. Tidak ada sabun. Tidak ada suara-suara. Hanya sunyi.
Dan aku merasa ... sedikit lega.

Karena aku tahu ini bukan akhir dari kegilaan. Ini bukan penyembuhan.

Tapi aku mulai mengenali bentuk retakku sendiri. Dan ... untuk pertama kalinya, aku tidak ingin memperbaikinya.

Aku hanya ingin tinggal di dalamnya, perlahan, sebagai penghuni yang tahu:
bahwa rumah retak pun bisa menyimpan cahaya.

"Mereka tidak bisa mengusirku dari pikiranku sendiri. Sebab aku sudah tinggal di sini terlalu lama, dan telah memberi nama pada semua bayangan yang dulu membuatku tiarap."

FragmenWhere stories live. Discover now